Amerika Pancing Protes Dunia Karena Pisahkan Imigran Anak-Anak dari Orang Tuanya

Stanley Dirgapradja25 Jun 2018, 19:00 WIB
Children at U.S. Customs and Border Protection facility in 2014, image: Getty

Fimela.com, Jakarta Membuat pilu, setidaknya sampai hari ini sudah hampir 2000 imigran (periode April sampai Mei 2018) anak dipisahkan oleh pihak imigrasi Amerika Serikat yang dikenal dengan nama ICE, dan 100 di antaranya berusia di bawah 4 tahun. Anak-anak di bawah usia 18 tahun ini terpaksa dipisahkan dari orang tua mereka, yang oleh pemerintahan Presiden Donald Trump tak punya berkas imigrasi yang sah, atau sama sekali melanggar hukum imigrasi Amerika.

Ribuan anak-anak ini ditaruh di penampungan-penampungan pemerintah, tanpa fasilitas yang memadai. Bahkan di beberapa foto yang beredar, terungkap anak-anak ini tidur di dalam ruang-ruang yang dibatasi kawat-kawat, di atas matras dan berselimutkan kertas timah. Penampungan-penampungan ini bahkan sudah dikategorikan oleh Wikipedia sebagai salah satu kamp konsentrasi di era modern. Masih ingat kamp konsentrasi? kita mungkin terakhir mendengar itu dari kamp-kamp zaman kekerasan Nazi.

Karena kebijakan Zero Tolerance yang diberlakukan oleh pemerintahan Trump, Amerika Serikat saat ini bersikap sangat tegas pada pencari suaka dari kawasan Amerika Tengah yang ingin menyeberang lewat perbatasan Mexico. Alasannya cukup banyak, namun yang paling umum adalah mencari keselamatan karena di negara asal makin tak aman karena ancaman mafia obat bius, dari Honduras - misalnya.

Selain kenyamanan para anak-anak di bawah umur yang harus menunggu nasib di penampungan-penampungan pemerintah (karena mulai bermunculan laporan-laporan bahwa mereka mendapat perlakuan tidak manusiawi selama tinggal di penampungan), sementara orang tua mereka juga menjalani persidangan karena melanggar hukum sebagai imigran gelap, masa depan anak-anak ini juga menjadi kecemasan lainnya. Bila orang tua mereka terbukti bersalah, maka anak-anak ini akan menjadi tanggung jawab pemerintah Amerika dengan status yatim piatu.

Pada beberapa kasus, sebagian imigran anak-anak ini cukup beruntung bisa berkumpul lagi dengan orang tua mereka. Sisanya, mungkin tidak seberuntung itu. Selebriti Hollywood sebagian malah sudah melancarkan protes terbuka pmengenai langkah pemerintah Amerika dalam menangani kasus imigran gelap itu. Ada cara yang lebih manusiawi, menurut mereka. Pastinya, dengan tidak memisahkan anak-anak dari orang tua mereka.