Penjelasan mengapa cuaca panas ekstrem masih terjadi di bulan Oktober

Anisha Saktian Putri16 Okt 2018, 06:30 WIB
cuaca panas

Fimela.com, Jakarta Cuaca panas belakangan ini dirasakan begitu ekstrem, apa Sahabat Fimela juga mengalaminya? Terutama yang tinggal di Jakarta. Padahal memasuki bulan Oktober, harusnya sudah musim penghujan. 

Lalu mengapa panas begitu menyengat bisa terjadi? Menurut Badan Meteorologi Klimatologi Dan Geofisika (BMKG), hal tersebut akibat kulminasi (titik tertinggi) matahari di atas Jawa membuat suhu di bulan Oktober mencapai puncaknya.

Data klimatologi 30 tahun BMKG (1981-2010) mencatat suhu rata-rata dan suhu maksimal terjadi siang hari di pulau Jawa meningkat di bulan Agustus hingga bulan November. Suhu maksimum umumnya terjadi pada bulan Oktober.

Kulminasi matahari di bulan Oktober menyebabkan pancaran radiasi langsung matahari terjadi lebih maksimal dan menyebabkan efek musim kemarau makin terasa. Umumnya, cuaca panas hal ini menyebabkan kondisi gerah dan terik yang sangat menyengat kulit.

1. Fenomena Kulminasi Utama

Kulminasi atau transit atau istiwa merupakan fenomena saat matahari di langit berada tepat di posisi lintang di mana kita berada. Sehingga membuat sudut deklinasinya 0 atau tepat tegak lurus di atas kepalamu, sehingga membuat apa pun seakan-akan tak ada bayangannya. Fenomena kulminasi terjadi lantaran adanya revolusi bumi mengitari matahari yang mengakibatkan gerak semu matahari. Letak wilayah geografis Indonesia yang berada di sebelah utara dan selatan ekuator membuat kulminasi terjadi dua kali dalam setahun di beberapa wilayah.

Di Pulau Jawa, kulminasi utama terjadi juga pada bulan Oktober ini. BMKG telah mengeluarkan informasi waktu kejadian kulminasi utama ini.

Misalnya di Jakarta, kulminasi utama terjadi pada 9 Oktober kemarin pukul 11.40 WIB dan di Serang pukul 11.42 WIB. Kulminasi diprediksi akan terjadi di Bandung pada tanggal 11 Oktober pukul 11.36 WIB, di Semarang pukul 11.25 WIB. Di Surabaya, kulminasi dapat dirasakan pada 12 Oktober 11.15 WIB dan di Jogjakarta pada 13 Oktober pukul 11.24 WIB.

2. Suhu Oktober belum melampaui suhu maksimum yang pernah tercatat

Meski perubahan suhu global terus diprediksi memanas, tidak berarti kulminasi kali ini menyebabkan lonjakan suhu paling tinggi pada kota-kota di Jawa tersebut. Menurut data suhu global dari Badan Administrasi Laut Atmosfer Amerika, NOAA, Tahun 2018 berpeluang menjadi tahun terpanas keempat yang tercatat dalam data historis suhu global setelah tahun terpanas pada 2015, 2016 dan 2017.

Terkait fenomena kulminasi di bulan Oktober ini, hingga (10/10/2018), pencatatan suhu maksimum di beberapa kota di Jawa belum menunjukkan indikasi kejadian suhu ekstrem (lebih dari 35°C atau 3°C lebih panas dari rata-ratanya dan terjadi minimal 3 hari berturut-turut). Di Jakarta, suhu maksimum terjadi justru pada tanggal 7 Oktober kemarin yaitu 35.4°C tercatat di Kemayoran.

Di Semarang juga terjadi pada tanggal 7 Oktober sebesar 36.7° dan di Bandung pada tanggal 9 Oktober  32.4°C. Suhu tercatat sementara ini belum menjadi rekor baru dari suhu tertinggi yang pernah tercatat di bulan Oktober.

Di Kemayoran, Jakarta, suhu maksimum di bulan Oktober yang tercatat pernah terjadi pada 7 Oktober 2007 sebesar 38.3°C. Di Semarang, suhu tertinggi tercatat 39.5°C terjadi pada 27 Oktober 2015, sementara di Bandung suhu 33°C pernah terjadi pada 6 Oktober 2006.

3. Mengapa suhu terasa panas sekali?

Cuaca panas, angin yang bertiup cukup kencang, tidak hujan dalam waktu yang lama, permukaan tanah yang kering, dan rendahnya kelembapan udara menjadi pemicu tingkat ketidaknyamanan tubuh terhadap udara lingkungan. Penambahan panas maksimum siang hari tersebut, selain karena radisi langsung matahari yang melimpah karena posisi kulminasi matahari, juga merupakan dampak musim kemarau yang masih berlangsung di sebagian besar Pulau Jawa hingga Nusa Tenggara.

Lanjutkan Membaca ↓