Menyambut surya di puncak gunung Kelimutu (1)

Edy Suherli22 Okt 2018, 11:04 WIB
[Fimela] Gunung Kelimutu

Fimela.com, Jakarta Semburat sinar surya pagi itu perlahan-lahan menerangi cakrawala yang semula gelap. Sejurus kemudian sinarnya makin benderang. Kawah gunung Kelimutu yang tadi samar kini terlihat jelas.

Momen terbitnya sang mentari di puncak gunung Kelimutu adalah pemandangan yang amat menakjubkan. Tak heran kalau wisatawan domestik dari pelosok negeri dan wisatawan manca negara berlomba mendapatkan posisi terbaik untuk mengbadikan momen spesial ini.

Gunung Kelimutu adalah tipe gunung berapi kompleks  yang terakhir meletus pada tahun 1886. Yang membuat gunung yang terletak di Desa Pemo, Kecamatan Kelimutu, Kabupaten Ende, NTT ini unik karena ada tiga kawa besar yang berada di puncak gunung. Ketiga kawah ini memiliki warna yang berbeda satu dengan yang lain. Perbedaan warna itu karena zat yang ada di dalam danau berinteraksi dengan oksigen yang ada di sekitarnya. 

 

[Fimela] Gunung Kelimutu
Gerbang utama masuk ara Taman Nasional Kelimutu, gunung Kelimutu. (Edy Suherli/Fimela.com)

Saat malam masih larut pada Sabtu (13/10/2018) dan pagi segera menjelang kami dari tim DBS Live  More Society Daily Kindness Trip sudah harus bangun dan bersia-siap. Tanda waktu menunjukkan pukul 03.00 WITA, suasana masih gelap-gulita. Saat semua sudah lengkap, pak sopir   pun mengantar kami menuju pemberhentian terakhir menuju puncak Kelimutu.

Pelan-pelan kendaraan MVP yang  mengantar  kami  meninggalkan penginapan tempat kami beristirahat. Saat itu tanda waktu menunjuk ke angka  03.30 WITA. Jalan menuju puncak gunung lumayan mulus, hanya beberapa kilometer menjelang  pemberhentian  terakhir saja yang mengalami perbaikan. Ada pelebaran jalan yang membuat jalanan berdebu dan gundukan tanah , pasir dan kerikil masih berserakan di tepi jalan.

 

[Fimela] Gunung Kelimutu
Pemandangan di sekitar puncak Gunung Kelimutu. (Edy Suherli/Fimela.com)

Saat kami tiba di pemberhentian terakhir Taman Nasional Kelimutu, hari masih gelap. Beruntung cuaca cerah, cakrawala terlihat bersih dengan hiasan jutaan bintang-gemintang. Rasanya sudah tak sabar ingin mendaki ke puncak gunung Kelimutu.

Sembari menunggu petugas mengizinkan masuk area pendakian, kami menyeruput kopi. Seorang ibu tua datang  dari desa terdekat sengaja membuka lapak kedai kopi di area parkir kendaraan gunung Kelimutu.

 

Antusias

[Fimela] Gunung Kelimutu
Inilah puncak tertinggi Gunung Kelimutu yang menjadi area pandang segala penjuru. (Edy Suherli/Fimela.com)

Tak berapa lama menunggu waktu yang dinanti pun akhirnya tiba. Petugas Taman Nasional Gunung Kelimutu mengizinkan wisatawan melakukan pendakiaan. Beberapa rombongan selain kami terlihat  antusias hendak mendaki puncak  gunung Kelimutu.

Setelah menghitung jumlah rombangan pimpinan rombongan kami memberi aba-aba kalau pendakian akan mulai. Kami sudah siap mendai gunung dengan ketinggian 1.639 m atauu 5.377 kaki.

Perjalanan diawali tanjakan dengan kemiringaan 45 derajat. Lalu berbelok ke kiri dengan kemiringan yang lebih landai. Sisi kiri dan kanan masih belum terlihat jelas, karena gulita masih menyelimuti  area pendakian.

Entah sudah berapa ratus langkah akhirnya kami sampai di area puncak gunung Kelimutu. Pohon-pohon pinus dan cemara yang tadi menyelimuti sisi gunung kini sudah jarang terlihat. Malah saat mendekati puncak sama sekali tak ada cemara atau vegetasi yang tumbuh  di bebatuan cadas gunung.

Kembar Tiga

[Fimela] Gunung Kelimutu
Di puncak Gunung Kelimutu adalah momen untuk berfoto, seprti yang dilakukan tiga sahabat yang datang dari Jakarta ini. (Edy Suherli/Fimela.com)

Di sisi kanan kami terlihat  kawah dua kawah yang bersisian satu sama lain. Satu danau lagi berada di sisi kiri area pendakian. Danau Tiwu Ata Polo (berwarna merah), danau Tiwu Nuwa Muri Koo Fai (berwarna biru) dan danau Tiwu Ata  Mbupu (berwarna putih). Masing-masig danau memiliki luas dan kedalaman yang berbeda. Danau Tiwu Ata Polo dengan luas 4ha dan kedalaman 64m. Sedangkan Tiwu Nuwa Muri Koo Fai luas 5,5 Ha dan kedalaman 125 m. Sementara Tiwu Ata  Mbupu dengan luas kawah 4,5 Ha dan kedalaman 67 m.

Menurut kepercayaan suku Lio, yang berdiam di sekitar gunung.  Danau di puncak gunung Kelimutu  adalah tempat bersemayamnya arwah. Danau Tiwu Nuwa Muri Koo Fai adalah tempat bersemayamnya arwah muda-mudi. Sementara danau Tiwu Ata  Mbupu adalah tempat berkumpulnya arwah oran tua. Sedangkan danau Tiwu Ata Polo tempat bersemayamnya arwah yang selama hidup melakukan  kejahatan.

Bersemayam

[Fimela] Gunung Kelimutu
Inilah kawah Tiwu Nuwa Muri Koo Fai di puncak gunung Kelimutu. (Edy Suherli/Fimela.com)

Setiap tahun suku Lio menggelar upacara di puncak gunung Kelimutu untuk menghormati arwah yang sudah meninggal.  Biasanya acara dilakukan setiap 14 Agustus namun waktu pekasanaan bisa berubah.  Saat itu dipersembahkan makanan dan sesaji untuk leluhur yang sudah meninggalkan dunia fana.

Saat rombongan kami berkunjung  acara tahunan belum lama digelar.  Hanya wisatawan dan beberapa pedagang asongan yang berasal dari desa sekitar yang mendatangi puncak gunung Kelimutu.

Lanjutkan Membaca ↓