Menghadapi mertua tukang kritik, cukupkah hanya dengan sabar?

Endah Wijayanti22 Okt 2018, 18:02 WIB
menghadapi mertua

Fimela.com, Jakarta Setelah menikah, kita bakal punya tambahan kewajiban bersikap baik pada mertua. Mertua tak ubahnya orangtua kedua kita. Penting untuk menjaga hubungan menantu dan mertua dengan baik agar hubungan selalu harmonis.

Tapi bagaimana kalau mertua ternyata suka mengkritik? Wah, pastinya bakal bikin pusing, ya. Mau apa-apa jadi serba salah. Apa yang kita pakai, kita buat, dan kita masak selalu saja jadi sasaran kritik. Berada di situasi seperti ini, kita memang harus lebih banyak bersabar. Tapi kalau sabar aja ternyata nggak cukup, lalu bagaimana?

1. Berbicara pada suami

Coba obrolkan pada suami. Suami pun pastinya lebih paham dengan karakter orangtuanya. Sehingga dia pun jadi orang yang paling bisa diandalkan untuk memberi kita sejumlah masukan. Tapi tak perlu juga memojokkannya. Cukup ungkapkan hal-hal yang mungkin mengganjal di hati kita dan bicarakan dengan suami untuk mencari solusi yang terbaik.

2. Ubah topik pembicaraan

Begitu kita merasa tak nyaman atau agak tersinggung dengan kritikan, kita bisa coba ubah topik pembicaraan. Misalnya, kita dikritik karena masakan kita terlalu pedas, kita bisa mengucapkan terima kasih atas sarannya, setelah itu bisa ganti topik soal makanan kesukaan mertua. Buat obrolan yang nyaman dan nyambung satu sama lain.

3. Terima perbedaan sudut pandang atau perspektif

Mertua lahir di era berbeda dengan kita. Latar belakang budaya dan keluarga juga pastinya tak sama. Hal ini juga pasti mempengaruhi sudut pandang atau perspektifnya. Sehingg kita juga perlu bisa menerima perbedaan yang ada. Kritikan yang diungkapkannya pun tak lepas dari sudut pandang atau perspektif yang ia punya. Ada saatnya kita memang perlu memaklumi sikapnya itu.

4. Berbicara langsung dengan mertua

Ya, ini memang kudu menyiapkan mental. Perlu cari timing yang pas. Juga harus bisa merangkai kata-kata yang sekiranya tak membuat mertua tersinggung. Seringkali kita hanya perlu menciptakan "jembatan" baru agar hubungan dengan mertua bisa tetap harmonis.

Tak semua mertua bakal jadi tukang kritik menantunya. Temperamen dan karakter setiap ibu atau ayah mertua pun bisa berbeda satu sama lain. Sabar adalah kunci utama, tapi kita juga perlu mengusahakan beberapa hal agar keharmonisan hubungan tetap terjaga.