Sukses

Lifestyle

Jangan sepelakan nyeri sendi, bisa jadi itu gejala awal kanker sarkoma

Fimela.com, Jakarta Banyak dari kita mungkin mengesampingkan beberapa gejala umum sebagai tanda-tanda penyakit ringan. Nyeri sendi, misalnya, sering diasosiasikan dengan rematik, sementara perut kembung dihubungkan dengan asam lambung.

Padahal, bisa jadi gejala umum tersebut merupakan tanda bahwa kita terkena penyakit serius. Seperti sarkoma, yang merupakan jenis kanker yang berkembang di jaringan ikat, seperti otot, lemak, tulang, tulang rawan, dan pembuluh darah. Kanker ini bisa muncul di bagian tubuh mana pun, serta memiliki gejala yang tampaknya tidak berbahaya dan sulit dibedakan dari penyakit-penyakit ringan.

Sebuah studi dari Amerika Serikat (AS) memprediksi, lebih dari 13.000 orang di AS akan terdiagnosis memiliki sarkoma jaringan lunak di tahun 2018, dan mengakibatkan sekitar 5.000 kematian. Sementara, penelitian lain menemukan kesalahan penanganan pada 70% pasien, sehingga turut berkontribusi pada masih rendahnya tingkat kelangsungan hidup rata-rata lima tahun (five-year survival rate), yaitu sekitar 50% saja.

Sarkoma dianggap langka karena hanya ditemui pada 1% kasus kanker dewasa. Namun, data-data terbaru mengindikasikan bahwa sarkoma mungkin lebih umum daripada yang diyakini sebelumnya. Antara lain, studi di Inggris menunjukkan lompatan signifikan dalam jumlah orang yang didiagnosis terkena sarkoma setiap tahunnya, dari 3.800 menjadi 5.300 saat ini.

Konsultan Senior Onkologi Medis Parkway Cancer Centre (PCC) Dr. Richard Quek, mengatakan hal ini sangat memprihatinkan karena sampai saat ini pemahaman masyarakat akan sarkoma yang begitu kompleks masih kurang lengkap, khususnya di Asia.

"Dibandingkan dengan populasi barat, masih belum banyak pusat data nasional yang resmi di Asia, sehingga data tentang prevalensi sarkoma dan bagaimana penyakit tersebut dikelola di wilayah ini masih terbatas. Ini sering menyebabkan diagnosis yang terlambat atau tidak akurat, yang kemudian menyebabkan penanganannya juga tidak tepat," papar Dr. Quek, saat ditemui di Jakarta.

Sebuah studi dari Belgia, misalnya, mengungkapkan bahwa 47% pasien yang menderita sarkoma jaringan lunak membiarkan gejalanya selama sekitar empat bulan sebelum akhirnya menemui dokter. Setelah itupun, pasien umumnya berkonsultasi ke dokter umum, yang kemungkinan besar hanya akan menghadapi satu atau dua kasus sarkoma sepanjang karier mereka. Tak heran jika penelitian di Inggris kemudian juga menunjukkan bahwa, karena kurangnya kecurigaan klinis pada gejala awal, 20% dokter umum terlambat lebih dari tiga bulan dalam merujuk pasien tersebut ke spesialis.

Sarkoma banyak diidap remaja dan dewasa muda

Sarkoma mencakup lebih dari 70 sub-tipe, menjadikannya salah satu tipe kanker yang paling sulit untuk didiagnosis. Namun, secara umum pasien dapat dibagi ke dalam empat sub-tipe utama sarkoma: sarkoma jaringan lunak, gastrointestinal stromal tumor(GIST), sarkoma tulang seperti osteosarcoma, dan Ewing's/Rhabdomyosarcoma. Kedua kelompok terakhir ditemukan terutama pada remaja dan kelompok usia dewasa muda (young adult).

“Meskipun sarkoma mungkin kurang umum dibandingkan tipe kanker lainnya, kasus sarkoma banyak ditemui pada pasien dewasa muda dan remaja. Kelompok usia tersebut biasanya tidak kita asosiasikan dengan kanker. Ini berkontribusi terhadap keterlambatan diagnosis, sehingga dampak yang dialami oleh penderita sarkoma tersebut pun cenderung lebih parah. Terlebih, karena para pasien muda ini tengah berada di masa paling produktif dalam hidup mereka, entah itu di sekolah, atau baru saja memulai karier baru, atau tengah membangun keluarga,” tambah Dr. Quek.

Gejala sarkoma

Gejala sarkoma yang timbul dapat berbeda-beda, tergantung dari mana sarkoma tersebut berasal. Bagi pasien yang memiliki sarkoma jaringan lunak di lengan atau kaki, misalnya, gejala paling umum adalah munculnya benjolan besar tanpa rasa sakit. Sedangkan, jika sarkoma tumbuh di tulang tangan atau kaki, pasien umumnya mengeluhkan nyeri tulang, serta sakit di sekitar area tulang yang terdampak ketika beristirahat atau tidur malam.

Beberapa pasien bahkan mungkin mengalami retak tulang. Gejala-gejala lainnya meliputi ruam gelap (angiosarcoma atau kanker pembuluh darah); batuk dan sesak napas jika sarkoma berkembang di area dada; serta kembung dan mudah merasa kenyang jika sarkoma berasal di bagian perut.

Langkah pertama yang harus dilakukan adalah menyadari kondisi tubuh sendiri. Kemudian, tanyakan pada dokter umum apakah perlu menemui dokter spesialis atau menjalani tes lebih lanjut, seperti MRI atau CT scan, jika gejala tidak hilang setelah pengobatan rutin.

"Jika kita mengidentifikasi sarkoma pada tahap awal, ketika sel kanker masih terlokalisasi di satu area, tingkat kelangsungan hidup akan jauh lebih tinggi dibandingkan jika didiagnosis pada tahap akhir," tambahnya,

Karena keberagaman sub-tipe dan lokasi muncul sarkoma, sebenarnya tidak ada satu formula atau metode khusus yang dapat berlaku untuk semua kasus sarkoma.

“Di PCC, keahlian kolektif dari para pakar onkologi kami, yang merupakan salah satu tim terbesar di Singapura dan sekitarnya, memungkinkan kami untuk membantu pasien mendapatkan diagnosis yang tepat sedini mungkin, memahami berbagai pilihan perawatan yang tersedia, serta memilih kombinasi yang akan memberi mereka hasil paling optimal,” kata Dr. Quek.

Di banyak belahan dunia, amputasi juga merupakan metode umum untuk menghilangkan sarkoma tulang dan sarkoma jaringan lunak. “Namun, dengan kemajuan ilmu medis dan bedah saat ini, di Parkway Hospitals kami sekarang dapat lebih banyak melakukan operasi penyelamatan anggota gerak tubuh, untuk kasus sarkoma tulang dan sarkoma jaringan lunak,” tutupnya

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

What's On Fimela
Loading