5 Sajian Apik Perpaduan Menu Kuliner Indonesia dan Jerman

Dinny Mutiah27 Nov 2018, 16:00 WIB
Harmoni Rasa Indonesia dan Jerman di 5 Piring Makan Malam

Jakarta Sebagai pusat dari beragam acara kebudayaan Jerman di Jakarta, Goethe-Institut kerap menggelar beragam kegiatan seru. Salah satunya pada Kamis malam, 22 November 2018 yang lalu, sebuah gala dinner bertema "Magic Hour Dinner" yang masih satu rangkaian acara Wanderlust Kuche diadakan.

Acara ini merukapan dialog kuliner yang diprakarsai oleh Goethe-Institut. Sambil menikmati rangkaian hidangan mulai dari appetizer hingga dessert yang memadukan rasa serta budaya Indonesia dan Jerman di setiap sajian.

Sebagai pembuka, Chef Helge Hagemann yang mewakili Jerman dan Chef Petty Elliott dari Indonesia menyajikan tujuh makanan berbeda yang disajikan di atas talenan kayu.

Mewakili cita rasa Indonesia, terdapat kerupuk, sambal terong Sumba dan sambal matah kecombrang. Sementara, rasa Jerman hadir melalui roti Jerman dan pretzel, acar sayuran, salted butter, dan chicken liver parfait (olahan ati ayam yang dihaluskan).

Roti Jerman yang dioles butter menjadi santapan pertama malam itu. Meski dibilang asing, rasa butter-nya tak seasin biasanya. Teksturnya lembut meleleh di mulut. Sambal matah kecombrang yang tersaji juga begitu lezat. Ternyata, rasa segar dari sambal kecombrang memang bisa mengimbangi makanan khas Jerman yang cenderung asin di lidah.

Selanjutnya, pelayan menghadirkan piring berbeda yang disebut 3 Times Fish. Sesuai namanya, ada tiga potong olahan ikan barramundi yang ditata dalam posisi segitiga.

Mewakili rasa Indonesia, ikan barramundi diolah menjadi ikan kuah kuning lengkap dengan irisan wortel. Ada pula olahan ikan yang rasanya mirip perkedel. Sementara, cita rasa khas Jerman diwakili ikan barramundi yang diasinkan ditambah seiris oyong bakar.

Perwakilan dari Goethe-Institut Indonesien, Nico Sandfuchs, berbagi cerita tentang cita rasa makanan Jerman secara umum. Menurutnya, rasa itu terbagi dua kelompok ekstrem. Untuk golongan tua, cita rasa kuliner didominasi makanan berlemak dan berat karena mereka butuh menghangatkan badan.

"Sementara, kelompok yang lebih muda lebih ringan. Mereka sangat peduli akan keberlangsungan (sustainability) dan gaya hidup sehat, termasuk memperhatikan hingga soal jejak karbon," katanya.

 

 

Menciptakan Perdamaian

Rasa Jerman dan Indonesia
Salah satu menu yang terhidang dalam Magic Hour Dinner di Goethe-Institut Jakarta, Kamis malam, 22 November 2018. (Liputan6.com/Dinny Mutiah)

Kemudian pelayan menyajikan menu ketiga, Beef Tartar Rendang Sauce. Tampilannya cantik, ada coklat khas kuah kalio dan merah dari saus. Bahan utamanya tentu saja potongan daging yang dipadukan dengan rempeyek kacang dan jeruk bali.

"Saya kurang mengenal makanan Indonesia sebelum saya ke sini. Setelah saya di sini, saya baru sadar makanan Indonesia sangat kaya rasa. Setiap daerah punya cita rasa masing-masing," ujar Nico lagi.

Menu utama pun akhirnya tersaji di meja. Slow Braised Chicken yang terdiri dari ayam panggang bumbu, pala muda dan daun cengkih, bread dumplings, krim bawang bombay, walnut, dan anggur. Kehadiran anggur di piring ternyata membantu mempertahankan selera makan.

Dari piring menu utama, bread dumplings mewakili cita rasa Jerman. Rasanya mengingatkan kita dengan menu makaroni schotel, tetapi lebih tebal dan kenyal. Kandungannya tentu saja roti ditambah potongan daging dan susu.

"Bread dumpling selalu dibuat setiap keluarga di Jerman," kata Nico.

Sebagai penutup, duo chef asal Indonesia dan Jerman menghadirkan caramelized spiced apple. Chef Helge menerangkan sengaja memilih apel karena kota kelahirannya, Hamburg, dikenal sebagai Kota Apel.

Rasa pala dan cengkih yang cukup kuat merupakan benang merah antara kuliner Indonesia dan Jerman. Kedua rempah asli Indonesia itu berperan sangat penting dalam cita rasa masakan setempat. Hal itu pula yang memukau Chef Petty dan membuatnya bisa berkomunikasi dengan baik dalam menentukan menu.

"Kami (saya dan Helge) baru bertemu muka pertama kali itu kemarin siang (Selasa, 21/11/2018). Selama ini, komunikasi kami hanya lewat email, termasuk mendiskusikan konsep menu seperti apa yang akan kami hadirkan malam ini," ujar Petty.

Kolaborasi keduanya, kata Petty, bisa membuktikan bahwa makanan bisa menciptakan dialog dan mengampanyekan perdamaian. Di sisi lain, mereka juga sepakat untuk lebih peduli pada lingkungan dengan menggunakan bahan-bahan lokal.

"Saya hanya membawa satu bahan saja," ucap Helge.

 

Lanjutkan Membaca ↓