Dokter Menyulap Produk Makeup untuk Melindungi Perempuan dari Penyiraman Air Keras

Karla Farhana28 Nov 2018, 06:30 WIB
[Fimela] Makeup anti penyerangan air keras

Fimela.com, Jakarta Kasus kekerasan terhadap perempuan, salah satunya penyiraman air keras ternyata belum juga mereda. Tahun 2004, Siti Nur Jazilah atau Lisa, disiram air keras oleh suaminya, Mlyono. Akibatnya, hampir seluruh wajah Lisa rusak dan berubah bentuk. 

Lisa tidak sendirian. Nasib Dian Wulansari yang saat itu masih berusia 23 tahun justru lebih parah. Karena sakit hati, Lamaji sang mantan pacar menyiram wajah Dian dengan air keras. Kali bukan hanya wajahnya saja yang rusak, namun leher beserta tangan dan dada Dian pun ikut rusak. 

Kasus penyiraman air keras juga banyak terjadi di berbagai negara lain. Marie Claire menulis, empat tahun setelah kejadian Lisa, seorang presenter TV di UK, Katie Piper, juga menjadi korban penyiraman air keras yang dolakukan mantan pacarnya. Katie lantas membagikan pengalamannya menjalani kehidupan sebagai korban acid attack dalam sebuah film dokumenter dan buku. 

 

View this post on Instagram

Katie Piper was a 24-year-old charming TV personality in the UK when she was attacked. She met a man named Daniel Lynch and her life was changed forever. After only seeing him for about two weeks she decided she was no longer interested in a romantic relationship with him and broke it off. Lynch did not take the news very well. Desperate for Piper to feel the pain he felt, Lynch asked Piper to meet him at a cafe where his hired accomplice, Stefan Sylvestre, threw sulphuric acid at Piper. Piper was rushed to the hospital. Her face and chest were full of third-degree burns. She was put into an induced coma for twelve days while she underwent skin grafts. From Piper’s book ‘Beautiful’, she states, “I mean, how different could my face be? It might be red and scarred, but it would still look like me, right? Taking a deep breath, I held it up to my face. That little mirror was a window into hell. My skin was red raw. My eyelids were puffy and underneath, my eyeballs protruded like cartoonish globes. My left eyeball looked milky and opaque. My lips were swollen like sausages and my eyelashes and eyebrows were gone. My nose was a shriveled mound. My cheeks had sunk into my skull. My face had melted into my neck like candle wax.” Initially, Piper had to wear a plastic face mask for 23 hours a day to protect her delicate skin. Forty-three procedures later, Piper’s skin is healing beautifully. She has used her experience to support and inspire other burn victims. Sylvestre has received life in prison and in 2015 has been denied parole. Lynch will serve a minimum of sixteen years. DM us to be featured! 📥 Follow @medical_mentor for more✔️ #medical_mentor

A post shared by Medical Mentor (@medical_mentor) on

Korban penyiraman air keras, yang kebanyakan merupakan perempuan, ternyata juga terjadi di berbagai negara lainnya. Seperti di Afrika Selatan dan negara-negara di Asia Tenggara. Melihat banyaknya korban penyiraman air keras, Dr Almas Ahmed memutuskan untuk membuat makeup yang mampu melindungi wajah dari serangan air keras.

2 of 2

Dr Almas Membuat Makeup dari Senyawa Khusus

Ilustrasi makeup
Ilustrasi makeup. Sumber foto: unsplash.comRaphael Lovaski.

Dr Almas memformulasikan senyawa yang mampu melindungi kulit agar tidak rusak dan terbakar pada saat kulit bersentuhan dengan air keras.

Senyawa tersebut dinamakan Acarrier yang dikembangkan dengan cara khusus, sehingga meniadakan reaksi pada saat air keras serta zat korosif lainnya menyentuh kulit wajah. 

Selain itu, Acarrier juga tahan air sehingga tidak mudah terhapus pada saat diaplikasikan pada wajah. Produk ciptaat Dr Almas masih dalam pengembangan. 

Untuk saat ini, produknya hanya berupa foundation. Namun Dr Almas mengaku akan membuat serangkaian produk-produk lainnya dan mendistribusikan ke seluruh negara, terutama di negara-negara dengan korban penyiraman air keras terbanyak. 

Lanjutkan Membaca ↓