Nikah Muda Tersiksa Lalu Menjanda, Saking Stresnya Sampai Ingin Bunuh Diri

Fimela21 Mei 2018, 13:00 WIB
Ilustrasi./Copyright pexels.com/automnenoble bogomolov

Setiap orang punya kisah dan perjuangannya sendiri untuk menjadi lebih baik. Meski kadang harus terluka dan melewati ujian yang berat, tak pernah ada kata terlambat untuk selalu memperbaiki diri. Seperti tulisan sahabat Vemale yang diikutsertakan dalam Lomba Menulis Vemale Ramadan 2018, Ceritakan Usahamu Wujudkan Bersih Hati ini. Ada sesuatu yang begitu menggugah perasaan dari kisah ini.

***

Hidup adalah perjalanan, di mana seseorang harus melewati sebuah jalan yang sangat panjang, kadang  jalanan itu berliku, berbatu, berduri, menanjak, menurun, dan terkadang juga lurus.  

Aku tak sekuat apa yang orang katakan, yah aku ini kan cuma manusia aku sering mengeluh dan khilaf. Dulu jauh sebelum aku belum merasakan namanya pernikahan, aku cuma anak perempuan milik ayah dan ibu. Keluargaku keluarga sederhana, tapi di balik kesederhanaannya, tersimpan ribuan cerita yang pilu.

Umurku sekarang 25 tahun, 7 tahun yang lalu aku menikah. Ya terbilang umur yang sangat muda aku sudah menikah, saat itu aku hanya anak pesantren yang tak punya talenta apapun. Cita-citaku hanya satu, dan sangat-sangat sederhana yaitu ingin meringankan beban orangtuaku.  Dari kecil aku bukan perempuan yang banyak menuntut, karena aku paham kondisi keluargaku dan tak pernah meminta apapun dari orang tuaku.

Ilustrasi./Copyright pexels.com/eftodii aurelia

Ketika itu…

Aku dihubungi ayahku via telepon waktu itu aku masih jadi santri di sebuah pesantren. Ayahku bilang ada laki-laki yang ingin melamarku. Singkatnya tak lama dari ayahku menelepon aku pulang ke rumahku di Palembang tempatku  berasal  dan mengatakan kalau aku siap dilamar dan menikah.

Jangan tanya kenapa aku ambil keputusan secepat itu, tujuan utama aku menikah adalah ingin meringankan beban orangtuaku. Akhirnya aku menikah, dan dikaruniai dua anak yang tampan dan cantik. Aku pikir pernikahan itu sekadar urus anak dan suami, ternyata lebih dari itu.

Pernikahanku tak sebahagia di cerita dongeng, aku menderita lahir batin, menghadapi suami yang kasar berlidah tajam dan tak punya hati. Sakitnya dikhianati, perihnya hati menampung semua caci maki dan hinaan adalah makanan sehari-hari dalam pernikahanku. Hampir setiap hari aku menangis. Aku stres dan depresi.

Ilustrasi./Copyright pexels.com/natasha fernandez

Saking stresnya aku pernah berkali-kali mencoba bunuh diri tapi tidak berhasil. Setiap hari kata-kata yang dia lontarkan kepadaku terngiang-ngiang di telinga. “Dasar anak orang miskin. Sakit-sakitan terus nyusahin aja. Aku pengen nikah lagi. Nggak berpendidikan tinggi1!” Itulah kata-kata yang dilontarkannya padaku setiap kali kami bertengkar.

Bukan hanya aku jadi korban, anakku yang laki-laki pun sering jadi pelampiasan suamiku dulu, anakku sering dipukul sampai lebam, padahal waktu itu umurnya masih sangat kecil. Ya Allah bila diingat, sakit, sangat sakit rasanya.

Aku sering melihat chat mesra di HP-nya dengan perempuan lain. Aku pernah ditinggalkannya di rumah sakit sendirian. Aku pernah keluar tengah malam untuk membeli kebutuhan anakku yang sedang sakit, tanpa dia peduli dan memikirkan keselamatanku. Aku menangis sendiri, tanpa pernah aku bercerita ke keluargaku. Menumpuk rasa benci dalam hatiku, hingga menjadi dendam.

Aku pun membalas perbuatannya dengan mengajak chatting laki-laki lain di social mediadengan tujuan aku ingin membalas semua perbuatannya biar dia tahu, bagaimana rasa sakitnya, dan akhirnya aku menyampaikan keinginanku untuk bercerai. Aku bawa semua anak-anakku pulang ke rumah ibuku. Dan di sinilah bertambah penderitaanku.

Aku lari ke Jakarta bersama ibu dan anak-anakku ke tempat kakak perempuanku tinggal, karena sang mantan terus menerus mendatangi rumah ibu untuk merujukku. Tapi sayangnya, aku sudah tak punya keinginan untuk rujuk dengan orang seperti itu, benar-benar sudah lupa dan tak mau tahu dengan urusan-urusan itu.

Ilustrasi./Copyright pexels.com/freestocks.org

Berbulan-bulan aku di Jakarta, aku tenang di sana tanpa satu orang pun yang menggangguku. Tapi di social media semua teman-temanku menghujatku, mereka bilang aku selingkuh, aku tak tahu dari sumber mana mereka tau. Gerah mendengar cemoohan orang-orang, ibuku malah menyalahkanku dan mencaci makiku. Sepanjang hari aku seperti dimusuhi oleh keluarga sendiri, aku tertekan tak ada yang mau mengajakku berbicara seolah-olah aku orang asing dalam rumah itu.

Menjadi janda adalah pengalaman terpahit dalam hidupku. Aku stres, rasanya aku ingin bunuh diri. Keperluan anak yang kurang terpenuhi, tekanan batin dari orang-orang sekitarku, terus menerus mengeluarkan air mata. Terkadang malam hari aku melihat langit bintang-bintang yang bertaburan sambil berkata dalam hati, "Ya Allah kapan semua ini berakhir? Kapan aku bisa jadi orang yang bahagia? Semoga dengan masalah-masalah ini menjadi ampunan atas dosa-dosaku, aamiin.”

Pagi ke pagi malam ke malam kujalani hari. Aku pun berpikir aku lebih nyaman hidup seperti ini, dan bersyukur daripada aku hidup di pernikahanku dulu walaupun cobaannya belum juga usai ditambah lagi ibu dan ayahku yang memutuskan untuk bercerai. Aku tak heran dengan keputusan mereka, karena cekcok yang dialami rumah tangga ibu dan ayahku selama aku jadi anak memang tak pernah ada habisnya.

Kadang aku berpikir, mengapa semua laki-laki itu egois? Maaf di kata, menurut pemikiranku yang dulu, laki-laki itu selalu memikirkan dirinya sendiri, dan tak mau tunaikan kewajiban sebagai suami. Semua keputusan yang kita ambil di dunia ini kan ada risiko, risiko menikah ya punya anak, punya anak ya harus melahirkan, urus anak suami, cari nafkah, cari tempat tinggal, cari uang buat beli ini itu, memperlakukan anak istri/suami sebaik-baiknya, kenapa laki-laki di hidupku terbilang mengabaikan kewajiban mereka sebagai suami?

Ilustrasi./Copyright pexels.com/kat jayne

Berbulan-bulan aku di Jakarta aku dapat kabar kalau aku harus menjalani sidang perceraian di Palembang, aku berangkat ke Palembang dengan anak-anakku dan menghadiri sidang perceraian. Karena ayahku tak punya tempat tinggal, terpaksa selama di Palembang aku tinggal di rumah pamanku, adik dari ayahku. Yah namanya tinggal dirumah orang ya kayak gitulah, ada yang senang ada juga yang tidak. Ayahku? Ayahku kurang peduli dengan soal itu, seperti yang aku bilang tadi, selalu memikirikan diri sendiri.

Hidupku di Palembang seperti kucing lagi beranak, pindah sana sini, sebenarnya aku tak tahan menumpang di rumah orang, tapi kaerna tidak ada lagi tempat tinggal apa boleh buat. Selang beberapa bulan sang mantan datang, dia menyampaikan kalau dia sangat menyesal dan merindukan anak-anaknya, dan ingin mengasuh anak-anaknya bersama istri barunya. Aku pun mengizinkan dia membawa anak laki-lakiku, di pikiranku cuma satu, walau bagaimanapun dia masih bapak kandung dari anak-anakku dan itu takkan pernah berubah. Aku berpesan padanya untuk menjaga anak-anak, dan jangan diulangi lagi kejadian yang lalu, waktu itu aku ingin mengasuh anak perempuanku, jadi aku belum mau kasih anakku ke bapaknya.

Seiring berjalannya waktu, aku baru merasa kalau keluarga ayahku tak sebaik yang aku pikir, mereka sering menjelek-jelekkan aku dari belakang. Beruntung aku orang yang bisa dibilang cuek jadi aku selalu menutup telinga dan pura-pura tidak tahu dengan apa yang mereka lakukan. Aku menahan beban psikis itu sendirian, tanpa ada orang yang bisa aku ajak cerita, sehari-hari aku cuma urus anak dan selebihnya aku tidak mau tau.

Aku akui, semenjak bercerai aku jadi sangat-sangat egois, karena bagiku begitulah caraku bertahan di tengah cobaan, kalau bukan karena buah hatiku aku takkan bisa lewati itu semua. Aku berusaha menjadi orang yang tegar dan sabar dengan caraku sendiri. Terserah apa kata orang, toh mereka hanya bisa berkomentar tanpa solusi, mencibir tanpa berpikir dua tiga kali. Tapi di balik kepura-puraanku, aku menyimpan dendam dan sakit hati pada mereka yang telah menginjak-injak harga diriku.

Ilustrasi./Copyright pixabay.com

Satu tahun setengah aku menjanda, untuk kedua kalinya aku menikah. Aku menikah dengan laki-laki bujangan dan berpendidikan tinggi. Alhamdulillah masih di beri jodoh pikirku, cobaan ini akan berakhir. Tapi ternyata? Laa haula wa laa quwwata illa billah,masih ada lagi cobaan itu. Sepuluh hari umur pernikahanku aku bertengkar hebat dengan suami baruku, dan aku baru tahu kalau suamiku ini seorang yang temperamen dan suka main tangan. Pupus harapanku untuk membangun rumah tangga lagi, aku menangis sejadi-jadinya, aku tak tahu lagi harus berbuat apa.

Hari ke hari kususun nyaliku untuk menghadapi dia, namun apalah daya aku tak tahan dan berniat meninggalkan dia diam-diam. Aku pergi membawa semua pakaianku dan anakku, bukan hanya pakaian tapi luka di sekujur tubuhku dan luka batinku yang semakin menganga kubawa serta.

Di perjalanan aku menangis, aku berpikir, “Kenapa bisa bertubi-tubi begini?” dari situ aku sadar bahwa, dendam dan amarah itu tidak akan membuat hidup kita menjadi lebih baik, aku sadar kesalahanku. aku mulai mengerti kenapa Tuhan belum mau memberiku kebahagiaan dan kedamaian hidup.

Ilustrasi./Copyright pexels.com/leah kelley

Melakukan kesalahan  adalah murni sifat manusia tapi bukan berarti melakukan kesalahan adalah sebuah kebenaran yang harus di lakukan. Kesalahan dibuat karena adanya khilaf, jadi pelajaran buatku. Kuusap air mataku, aku serahkan semua masalahku kepada Yang Maha Besar. Aku berniat membuang semua rasa dendam sakit hati dan egoku sedikit demi sedikit, berusaha ikhlas menerima semua cobaan hidup dan menjadi manusia yang bersyukur.

Lima hari aku sudah tak jumpa suamiku, dari semenjak aku pergi ternyata suamiku menyesal dan ingin memperbaiki semuanya, dia mencariku dan ingin kembali kepadaku. Aku pun bersedia kembali padanya, dan memaafkan semua kesalahan nya.

Satu tahun sudah berlalu, rumah tanggaku dengan suamiku kini aman dan damai, tidak ada lagi kekerasan tidak ada lagi hinaan pukulan, yang ada hanya kasih sayang keromantisan kelembutan dan aku sangat bahagia dengan hadirnya dia dalam hidupku, berkat kesabaran dan memaafkan, hidupku jadi lebih baik dan bahagia hingga saat ini.

(vem/nda)