Remuk Hatiku, Pernikahan Batal karena Kekasih Memilih Wanita Lain

Fimela25 Mei 2018, 17:00 WIB
Ilustrasi./Copyright pexels.com/kaboompics
Setiap orang punya kisah dan perjuangannya sendiri untuk menjadi lebih baik. Meski kadang harus terluka dan melewati ujian yang berat, tak pernah ada kata terlambat untuk selalu memperbaiki diri. Seperti tulisan sahabat Vemale yang diikutsertakan dalam Lomba Menulis Vemale Ramadan 2018, Ceritakan Usahamu Wujudkan Bersih Hati ini. Ada sesuatu yang begitu menggugah perasaan dari kisah ini.
 
***
Dalam hidup ini pasti ada dua sisi yang berlainan yang pasti terjadi dalam hidup kita yang nggak bisa kita hindari, bahagia atau sedih? Tersenyum atau menangis? Menyakiti atau disakiti? Melepaskan atau dilepaskan? Memaafkan atau tidak memaafkan? Ikhlas atau mengeluh? Kita hanya bisa berencana dan menjalani.

Allah mengajarkan kita ikhlas saat kita diuji dengan kehilangan seseorang atau sesuatu, kita belajar sabar saat ada sesuatu yang membuat kita marah dan kecewa, kita belajar untuk jujur saat kita tahu sakitnya dibohongi, pasti setiap hal yang Allah titipkan ke kita entah itu ujian kebahagiaan atau kesedihan selalu ada pembelajaran dan hikmah tergantung bagaimana kita bisa mengambilnya.

Tidak ada yang bisa menjamin sesuatu apapun dalam hidup kita, apa yang kita miliki entah itu kebahagiaan, hati seseorang, harta, tidak ada yang abadi. Seindah apapun rencana kita, sekeras apapun usaha kita sebaik apapun kita menjaganya jika itu bukan yang terbaik menurut Allah, Allah bisa mengubah dan mengambil kapan saja meskipun itu hanya dalam sekejap.
Ilustrasi./Copyright pexels.com/bich tran

Menerima kenyataan lelaki yang aku yakini akan menjadi pendamping aku, akan menjadi imam bagi hidup aku, yang selalu ada di samping aku selama ini, yang berusaha memberikan kebahagiaan dengan segala kekurangannya, yang aku sayangi dan menyayangi aku, yang menginginkan aku menjadi calon istrinya dan aku inginkan dia jadi calon suamiku tapi tiba-tiba semuanya berubah terbalik. Tiba-tiba dia tidak peduli sama sekali apapun yang berhubungan denganku termasuk di saat aku sakit, tiba-tiba dia menjadi lelaki yang begitu sulit aku temui keberadaannya, begitu sulit aku ketahui kabarnya padahal kemarin-kemarin aku dan dia adalah pasangan yang tidak bisa terpisahkan.

Aku sudah berusaha mencari tahu tentang semua perubahan dia, apakah ada pengaruh dari teman-temannya, apakah ada yang tidak dia suka dari keluarga aku, atau dia merasa tertekan dengan rencana pernikahan kami atau malah ada wanita lain yang tiba-tiba saja selalu muncul dalam pikiranku? Dari mulai bicara baik-baik, agak memaksa, menunggu dia datang sampai pada titik aku  memberanikan diri ke rumahnya untuk minta kejelasan dari semua ini, tapi yang aku temui hanya rasa sakit, rasa penasaran dia sama sekali tidak mau terbuka.
Ilustrasi./Copyright pexels.com/bich tran

Malah kesannya dia berusaha mencari celah kekurangan dari hubungan kami, menyalahkan adikku yang membuat dia kesal, tidak ada rasa penyesalan dari raut wajahnya yang mengabaikan aku sebulan ini dan memutuskan rencana pernikahan kami tanpa alasan yang jelas. Aku ingin menolak tentang keputusan yang sepihak itu, tapi aku sudah tidak melihat rasa cinta lagi di matanya, dan aku memilih mundur dengan segala rasa sakit, rasa kecewa, rasa penasaran, aku berusaha menerima kenyataan ini meskipun sulit.

Tidak seperti membalikkan badan untuk melangkah pergi darinya, hari-hari yang aku jalani setelah perpisahan itu bagai kehilangan arah, mungkin karena aku terlalu berharap segalanya berakhir indah tanpa pernah berpikir kami akan berpisah dengan cara seperti ini. Merasa sangat lemah dan payah, waktu yang dihabiskan hanya menangis, menangis dan menangis meratapi kesedihan sampai lupa cara hidup yang benar seperti apa. Mengabaikan sehatku, menahan rasa laparku, juga menghapus banyak waktu tidurku.

Memalukan memang, aku mengabaikan diri sendiri untuk seseorang yang sudah tidak peduli. Aku membuat orang-orang di sekitarku, keluargaku, sahabatku merasa khawatir melihat aku yang tidak pernah selemah ini. Mungkin saat-saat seperti inilah, saat kita merasa ada di titik selemah ini, sesakit ini, sekecewa ini Allah menghadirkan rasa sedekat ini terhadap-Nya untuk memohon pertolongan-Nya, untuk kembali bercerita di sepertiga malam, Allah rindu sujud kita.
Ilustrasi./Copyright pexels.com/jessica lewis

Aku yang biasanya paling sulit bangun subuh, kali ini dan hari-hari selanjutnya Allah selalu membangunkan aku di sepertiga malam tanpa alarm sekalipun. Ini kode dari Allah yang begitu rindu kita, begitu Allah menunggu taubat kita. Inilah manusia adakalanya harus dengan cara ditegur dulu merasakan sakit teramat baru menyadari bahwa tidak ada yang lebih baik tempat mengadu, tempat memohon pertolongan hanya kepada Allah.

Tanpa disadari hari terus berlalu aku yang masih merindukan dia, aku yang masih selalu menyebut namanya dalam doaku, aku yang masih berharap bisa bertemu dengan dia menceritakan segala yang aku alami tanpa dia, aku yang masih saja keukeuh meminta pada Allah untuk mengembalikan hatinya padaku. Tapi? Tak ada tanda-tanda itu semua akan terjadi malah kenyataan-kenyataan baru yang aku dapat lebih menyakitkan daripada yang aku duga, dia memang bersama wanita itu bahkan keluarganya pun tahu.

Bagaimana mereka bisa sejahat ini? Semenjak saat itulah aku memutuskan untuk tidak lagi mengharapkannya, untuk lebih peduli terhadap diriku, masa depanku, harapan keluargaku. Aku mulai memperbaiki diri, aku mulai melakukan hal baik yang sebelumnya tidak sempat aku lakukan, bukan hanya terbesit keinginan untuk berubah penampilan yang tadinya masih lepas pasang jilbab sekarang malah ingin berjilbab sepenuhnya.

Sedikit-sedikit mengikuti kajian-kajian ta’lim, apapun kegiatan yang berhungan dengan Allah aku berusaha ikuti dan apa yang didapat lebih dari yang aku bayangkan, ketenangan dalam jiwa, rasa ikhlas, rasa ingin terus memperbaiki diri, menambah ilmu, dan pastinya rasa lebih dekat sama Allah. Sesuatu yang pergi bukan yang terbaik dan Allah pasti gantikan dengan yang lebih baik meskipun butuh waktu untuk kita bersabar.

Di saat aku mulai mengikhlaskan semuanya tentang dia, tentang caranya bersama wanita itu, di saat perasaanku jauh lebih baik, jauh lebih ceria dia muncul membawa rasa maafnya membawa rasa penyesalannya selama ini telah memperlakukan aku kasar. Entah alasan apa yang membuat dia berani muncul untuk minta maaf apa karena desakan keluarganya, atau karena ini bulan ramadan atau karena memang keinginan dia sendiri, wallahualam!
Ilustrasi./Copyright pixabay.com

Hati kecil tentu saja ingin marah, memaki-maki dia meluapkan semua rasa sakitku atas perlakuannya aku berhak atas semua itu tapi aku memilih berusaha memaafkannya meskipun aku tidak bisa untuk berteman dengannya itu terasa lebih menyakitkan. Aku sudah tidak ingin mempermasalahkan bagaimana dia hidup sekarang, dengan siapa dia sekarang. Tidak adil memang rasanya hanya sebegitu saja perbuatannya kita ampuni tapi bukankah tugas kita sebagai manusia memaafkan, memaafkan, dan memaafkan.

Allah yang lebih berhak menghukum segala perbuatannya. Aku tak perlu mengotori hati dan tanganku untuk balas dendam sekalipun aku punya kesempatan itu. Aku tak ingin terus larut dalam kesedihan ini, anggap saja ini sebuah jalan menuju perubahan. Aku yang terlalu salah menaruh hati pada seseorang yang belum pasti, aku terlalu mencintainya sehingga aku melupakan-Nya.

Sekarang aku pasrah dan tetapkan hati ini padamu Ya Rabb yang sekarang harus aku lakukan adalah menata hidupku yang baru, memperbaiki semua yang ada di diri aku, melangkah terus untuk hijrah meskipun akan banyak sudut pandang yang menoleh, akan banyak sudut bibir yang berkomentar. Terlepas dari apapun alasannya dan dimulai dari mana hijrah kita, yakinlah Allah Maha Pengampun, Dia akan memberikan jalan untuk hijrah kita meskipun sulit untuk istiqomah.

Aku memutuskan untuk pergi dari kota yang selama 15 tahun ini menjadi saksi aku tumbuh dengan banyak hal yang terjadi, aku memutuskan untuk resign dari tempat kerjaku yang selama 8 tahun ini memberikan aku penghasilan, bukan karena aku malu tidak jadi menikah tapi tempat kerjaku membatasi aku dalam penampilan aku tidak bisa menggunakan jilbab. Banyak yang menyayangkan, banyak yang pro kontra tapi sekali lagi ini bukan semacam lari dari semua kenyataan pahit tapi kali ini aku pergi untuk tujuan hidup lebih baik untuk lebih menjalankan semua kewajiban aku sebagai muslimah.

Bismillah aku melangkah dengan hidupku yang baru, melupakan masa lalu yang kelam dan menyakitkan, dan sekarang aku menata hidupku yang baru mengikuti semua yang telah Allah tetapkan.
(vem/nda)