Bila Seseorang Sungguh Mencintaimu, Ia Akan Akan Memperjuangkan Dirimu

Fimela25 Mei 2018, 18:45 WIB
Ilustrasi./Copyright pexels.com/pham khoai

Setiap orang punya kisah dan perjuangannya sendiri untuk menjadi lebih baik. Meski kadang harus terluka dan melewati ujian yang berat, tak pernah ada kata terlambat untuk selalu memperbaiki diri. Seperti tulisan sahabat Vemale yang diikutsertakan dalam Lomba Menulis Vemale Ramadan 2018, Ceritakan Usahamu Wujudkan Bersih Hati ini. Ada sesuatu yang begitu menggugah perasaan dari kisah ini.

***

“Kapan menikah?”
Pertanyaan ini sudah biasa dilontarkan padaku. Bukan hanya aku, mungkin perempuan lajang lainnya juga terbiasa dengan pertanyaan ini. Namun, pertanyaan ini kian sering dilontarkan padaku beberapa tahun ini. Bagiku, sudah tak terlalu memikirkan omongan mereka, karena aku percaya jika sudah waktunya akan datang dengan sendirinya. Jadi, yang aku pikirkan hanya Ibuku saja yang semakin hari semakin renta.

Aku pun ingin membahagiakannya dengan memenuhi keinginannya melihatku punya pendamping hidup. Setidaknya ibuku masih memiliki peluang untuk melihatku menikah, tidak seperti ayahku yang telah lebih dahulu meninggalkan.

Pria Spesial Pertama
Kini usiaku sudah melewati angka 30 tahun. Wajar jika masih menjadi kekhawatiran tersendiri bagi ibuku. Tapi apalah dayaku, mencoba memperjuangkan seseorang selama beberapa tahun, namun semuanya menjadi sia-sia. Tak ada sedikit pun usahanya untuk memperjuangkanku kembali.

Seseorang itu, pria yang aku kenal puluhan tahun yang lalu. Dia tetangga yang rumahnya cukup dekat denganku. Sebut saja dia Ekalaya, tokoh wayang yang selalu ia ceritakan kepadaku. Sebutan ini tepat untuknya karena dia merasa hidupnya sama dengan hidup Ekalaya. Mengalah untuk kebahagiaan orang yang di agungkannya. Usia kami hanya selisih 6 tahun. Awalnya kami berteman di media sosial (medsos), karena saat itu secara kebetulan dia sedang bekerja di luar negeri. Dia pria yang baik bahkan terlalu baik, sederhana, dan tidak neko-neko.

Saat itu kami sangat intens berkomunikasi secara jarak jauh. Hal ini membuatku nyaman dan tumbuh rasa ingin selalu bersamanya. Beberapa saat kemudian dia pulang, lalu kami pun semakin dekat. Ketika dia tahu aku memiliki perasaan yang spesial padanya, dia pun mulai menjauh.

Ilustrasi./Copyright pexels.com/pham khoai

Pria Spesial Kedua
Posisiku yang masih single, mendorong salah seorang sahabat mengenalkanku dengan seorang pria. Sebut saja ini adalah pria kedua. Pria tersebut adalah kakak ipar dari sahabatku, yang kebetulan juga masih sendiri. Dia merupakan teman dekat juga dan masih saudara dari seseorang Ekalaya. Akhirnya akupun mencoba mengenalnya dan memulai komunikasi lebih intens. Semua proses perkenalanku dengan seseorang yang dikenalkan sahabatku tetap berjalan lancar. Sampai suatu saat dia tahu kalau aku pernah dekat dengan temannya. Dia pun lebih memilih mundur karena tidak enak hati dengan temannya itu.  

Kembali Bersama Pria Pertama
Setelah beberapa tahun kami tidak berkomunikasi, Ekalaya (pria spesial pertama) hadir kembali. Setelah dia tidak menemukan apa yang dicarinya dari perempuan-perempuan yang dikenalkan padanya, dia pun kembali   dekat denganku. Entah karena kasihan atau pun ingin mencoba untuk dekat denganku, aku pun tak tahu.

Rasa yang dulu pernah ada pun perlahan muncul kembali. Semakin hari semakin kuat. Tiga tahun kami lalui, meski beberapa kali dia menghilang dan kembali seperti tak ada masalah apa-apa dan akupun tak pernah mempermasalahkannya. Karena aku pun paham mungkin dia ada masalah yang ingin dipendam sendiri. Akupun tahu hatinya yang rapuh dan lemah, rasa cintanya yang ada telah hilang setelah ditinggalkan kekasih yang sangat dicintainya dulu.

Ilustrasi./Copyright pexels.com/pham khoai

Semakin hari semakin membuatku bersemangat untuk mengembalikan kepercayaannya, bahwa ada perempuan lain yang bisa menggantikan kekasihnya yang telah meninggalkannya itu. Semakin hari komunikasi semakin lancar, apalagi ditambah kemajuan tekhnologi membuat jarak yang begitu jauh bukan masalah bagi kami. Dia pun semakin nyaman menceritakan hidupnya, keinginannya, dan harapannya nanti saat sudah kembali ke tanah air, serasa tak ada jarak lagi diantara kami. Sampai suatu saat dia menceritakan bahwa ayahnya tidak mengizinkannya untuk berhubungan denganku.

Tantangan dari Orangtua
Tentang alasan ayahnya yang tak merestui hubungan kami, saya belum begitu memahaminya. Hanya bisa menerka, mungkin saja karena alasan status sosialku yang dari keluarga biasa saja. Atau mungkin, karena masa lalu orangtua dahulu, aku pun masih tak tahu. Sampai saat itu aku pun masih bisa meyakinkannya untuk tetap bertahan. Dua bulan berlalu, bukan semakin baik, ternyata masalah semakin banyak. Kesalahpahaman muncul dan membuat Ibunya pun hilang rasa kepadaku.

Ketika aku meminta penjelasan, dia selalu berkata bahwa dia yang akan menjelaskan ke orang tuanya kalau aku tidak seperti yang mereka dengar. Tapi dia akan menjelaskan kebenarannya saat dia sudah kembali ke rumah. Karena menurutnya, menjelaskan lewat telfon hanya akan menimbulkan kesalahpahaman lagi dan ia masih takut untuk berkomitmen saat berjauhan, karena teringat dahulu dengan mantan pacarnya.

Aku pun menghormati keputusannya, namun semakin hari komunikasi semakin berkurang dan seperti biasa, saat ada masalah dia pun memilih menghilang, tidak berusaha untuk menyelesaikan, entah apa yang dipikirkannya. Sampai saat yang ditunggu tiba, dia kembali ke tanah air, dan sudah beberapa hari di rumah masih saja tidak menghubungiku. Posisi menjadi terbalik, ketika di sana hanya aku seorang yang berkomunikasi dengannya. Namun saat di rumah, hanya aku satu-satunya orang yang tidak ditemuinya.

Hal yang lebih menyakitkan lagi, ketika ternyata dia tak sedikit pun menjelaskan tentang hubungan kami ke orang tuanya. Dia malah menjelaskan tentang wanita lain, teman sekolanya dahulu yang baru dihubungi beberapa saat sebelum kepulangannya. Meskipun pada akhirnya aku tau dia bimbang kembali dengan pilihannya.

Ilustrasi./Copyright pexels.com/pham khoai

Hari berganti hari, minggu pun berganti minggu, tidak ada satu pun penjelasan yang kudapat. Yang ada hanya perkataan yang semakin menyudutkan dan menyakitkanku. Sampai suatu saat aku memberanikan diri menanyakan padanya. Tepat di malam ulang tahunku beberapa hari yang lalu, dia menemuiku dan memintaku menerima jika ada yang serius denganku demi kebaikanku dan kebaikanya. Karena baginya saat ini hidupnya hanya untuk melihat orangtuanya bahagia, dia sudah tidak memikirkan dirinya sendiri. Dan ketika dia menjelaskan tentangku, mungkin akan menyakiti orangtuanya sehingga ia memilih untuk menutup semuanya.

Aku Pasrah, Aku Ikhlas
Jadi, selama ini tanpa sedikit pun usaha untuk meluluhkan dan menjelaskan ke orang tuanya. Entah karena sifat bapaknya yang keras ataupun karena memang tak pernah ingin hidup bersamaku. Sedih dan hancur rasanya, setelah menunggu dan meluluhkan bertahun-tahun ternyata tak bisa membuatnya hatinya kuat untuk memperjuangkanku kembali. Tapi apa dayaku, aku hanya bisa menerima dan pasrah.

Aku pun tak bisa memaksa hati seseorang untuk memperjuangkan yang tidak ingin diperjuangkannya. Karena hidup dengan keterpaksaan akan lebih sakit nantinya. Dan akhirnya hanya bisa memaafkan dan menghormati keputusannya, membiarkannya kembali mencari hati yang sesuai dengan hatinya dan direstui orang tuanya.

Setidaknya aku sudah berusaha sebaik mungkin. Setidaknya bukan aku yang menyakitinya dengan meninggalkannya, meskipun aku selalu menunggu dalam ketidakpastian dan punya seribu alasan untuk meninggalkannya.  Karena aku pun tak ingin membuatnya sakit hati seperti yang terjadi dahulu.

Aku yakin Tuhan telah menyiapkan seseorang yang siap menyayangiku dan tidak akan menyia-nyiakanku begitu saja. Seseorang yang akan berusaha mendapatkanku karena ia benar-benar menyayangiku. Mungkin salahku terlalu berharap padanya bukan pada Sang Pencipta. Salahku yang menduakan penciptaku. Salahku yang selalu lebih mengingatnya dari pada mengingat-Nya. Salahku yang selalu menunda panggilannya ketika bersamanya, hingga akhirnya Dia cemburu dan memisahkan. Dan mungkin salahku juga, tidak menjaga diriku baik-baik hingga kesalahpahaman terjadi.

Selamat Ramadan 2018, semoga menjadi diri yang baru, menjadi manusia yang lebih baik.




(vem/nda)