Belum Menikah, Ada yang Bilang Penyebabnya karena Makhluk Halus

Fimela26 Mei 2018, 13:45 WIB
Ilustrasi./Copyright pexels.com/nicolas postiglioni

Setiap orang punya kisah dan perjuangannya sendiri untuk menjadi lebih baik. Meski kadang harus terluka dan melewati ujian yang berat, tak pernah ada kata terlambat untuk selalu memperbaiki diri. Seperti tulisan sahabat Vemale yang diikutsertakan dalam Lomba Menulis Vemale Ramadan 2018, Ceritakan Usahamu Wujudkan Bersih Hati ini. Ada sesuatu yang begitu menggugah perasaan dari kisah ini.

***

Setiap fase atau tahap tahap kehidupan pasti memiliki problem tersendiri. Salah satunya problem yang saya hadapi di umur 24. Umur yang cukup pantas kata masyarakat daerah pedesaan untuk menikahkan seorang gadis. Apalagi saya sudah lulus kuliah dan punya pekerjaan tetap.  

Mungkin buat sebagian orang menikah di umur segitu masih terlalu muda. Ya, tapi kita manusia hidup di mana kita tinggal.  Mau tidak mau, pastilah kita akan termakan pula sudut pandang tiap masyarakatnya. Social pressure yang menjadikan diri ini nggak bahagia. Ditanya kapan nikah? Calon sudah ada apa belum? Sepupu udah nikah kok kamu belum? Kamu kapan?  Nanti keburu tua loh! Nanti kamu jadi perawan tua loh! Belum lagi tekanan dari dalam keluarga sendiri.  

Ilustrasi./Copyright pexels.com/kaboompics

Ibu ingin anaknya lekas nikah dan punya cucu. Sebenarnya saya nggak begitu peduli apa yang dikatakan orang. Toh mereka hanya melihat saya dari permukaan, mereka nggak mengenal saya dengan baik. Tapi satu hal yang membuat saya sedih ketika ibu saya ternyata kemakan oleh social pressure itu sendiri.

Ibu sering mengeluh kapan saya nikah? Bahkan beliau mencoba mencarikan pria tapi ternyata tidak ada kecocokan. Saya tau ibu adalah orang yang pemikir. Terlebih lagi saya kaget bahwa adik saya bertanya kepada teman-teman indigonya kenapa saya tak kunjung menikah. Yang satu bilang mantan pacar saya masih berat berpisah dengan saya, yang satunya lagi bilang saya dicintai oleh mahkluk halus sehingga tidak ada yang mau mendekat. Mendengar itu semua hati saya rasanya sakit banget.

Separah itukah kekhawatiran mereka terhadap saya? Apakah salah jika saya menunggu bertemu orang yang sejalan dengan saya? Apakah seburuk itu diri saya? Tapi tekanan tekanan itulah yang membuat saya untuk menemukan suatu jalan baru.

Saya sejak lahir memanglah seorang muslim. Keislaman yang merupakan warisan lebih tepatnya. Saya menjadi orang yang beribadah secara global, tanpa mendalaminya lagi. Saya sering merasa aman terhadap dosa-dosa yang saya perbuat. Begitu buruknya saya, mungkin inilah yang membuat saya tak kunjung menikah.

Ilustrasi./Copyright pexels.com/terje sollie

Apa yang harus saya lakukan? Mungkin salah satunya saya belum menemukan orang yang pas adalah karena jauhnya hubungan saya dengan Allah SWT. Kemudian hal itu menggiring saya untuk berhijrah mendalami agama saya lebih jauh. Alhamdulilah di kantor juga ada seorang teman yang ilmu agamanya cukup dalam, dia menjadi tempat saya bertanya soal agama. Memang benar bahwa Allah selalu memudahkan hamba-Nya untuk beribadah. Tiba tiba di youtube saya temukan banyak bahasan lengkap tentang Islam, dari syariat syariat, hadits, hingga aqidah. Lama-lama pengetahuan agama saya menjadi bertambah, seiring bertambahnya ilmu maka bertambah pula keimanan terhadap Allah SWT.

Kini saya menjadi manusia yang lebih bertakwa lagi (insyaallah), membuang jauh jauh kesedihan karena sedih hanya akan mengantarkan kalbu ini pada jalan setan, dan keputusasaan, tidak lupa pula untuk bersabar seperti yang Rasulullah sampaikan pada anak paman beliau Abdullah bin Abbas bahwa, "Ketahuilah sungguh pertolongan itu (datang) bersama kesabaran, kelapangan (jalan keluar) itu bersama dengan kesulitan, dan setiap kesulitan ada kemudahan." Sabda beliau yang saya yakini hingga sekarang, berusaha memperbaiki kualitas diri sendiri sehingga insya Allah dipilihkan jodoh laki laki terbaik pula yang bisa membantu menegakkan agama Allah.  

Juga wajib bagi seorang wanita untuk menggali ilmu agama lebih dalam dikarenakan keimanan itu akan terpantul atau terwariskan hingga anak cucu. Saya amat bersyukur sekali mendapat cobaan ini, karena belum tentu jika saya menikah lebih awal saya akan bermandikan iman, dan belum tentu pula saya bisa mempersiapkan diri saya sebaik-baiknya bagi suami dan anak kelak.





(vem/nda)