Saya Pernah Mengibaratkan Memaafkan Itu Seperti Melepaskan Balon

Fimela28 Mei 2018, 18:45 WIB
Ilustrasi./Copyright pexels.com/bruno ramos

Apakah yang lebih nikmat dari dari jiwa yang tenang?
Hati yang bersih apakah mungkin bisa diraih manusia?

Bahagia adalah dambaan bagi setiap insan. Hati yang bersih memancarkan kebahagiaan. Hati yang bersih menghadirkan ketenangan jiwa. Semua bermula dari hati. Kebersihan hati dapat diraih salah satunya adalah berdamai dengan luka. Setiap manusia yang memiliki hati pastilah pernah terluka. Baik dengan kesalahan yang disengaja ataupun tidak disengaja.

Sebagai manusia, kita pun pernah dengan sengaja atau tidak sengaja melukai perasaan saudara kita. Maka memaafkan menjadi obat bagi kita manusia yang juga tidak luput dari salah. Bagi kita yang mendambakan hati yang bersih dan jiwa yang tenang. Namun apakah semudah itu untuk memaafkan? Tentu tidak. Tidak semua perkara dapat melalui pintu maaf dengan mudah.

Ilustrasi./Copyright shutterstock.com

Ada yang memerlukan proses dan waktu. Ada yang sudah terucap di bibir namun masih mengganjal di hati. Semua itu bukan tanpa sebab. Dalamnya luka hati hingga terlalu sakit dan membekas untuk diobati. Seperti sebuah kertas putih lalu diremat sedemikian rupa maka akan membekas dan tak bisa kembali rapi seperti awal. Seperti buah apel yang digores dengan pisau. Semuanya meninggalkan bekas dan tak dapat kembali seperti semula. Sehingga kita harus mengganti dengan kertas yang baru dan apel yang baru. Memulai dengan hati yang baru dengan jalan memaafkan dan mengikhlaskan.    

Apa yang terjadi ketika hati kita terluka? Setiap orang menyikapinya dengan berbeda namun yang perlu dipahami bahwa kita haruslah tahu dengan kondisi hati kita saat ini. Sedang terluka kah oleh dia, sedang netral kah. Kepekaan hati, memahami kondisi hati sendiri dapat memudahkan kita untuk mengambil keputusan dalam bertindak dan mengobatinya. Ketika hati terluka maka sikap kita tidak akan sama seperti sebelumnya, mau disembunyikan bagaimanapun caranya pasti ada bagian dari tubuh kita yang memancarkan isi hati kita.

Ilustrasi./Copyright shutterstock.com

Nada bicara yang tak lagi sama, gestur tubuh yang berbeda, atau tatapan mata yang terdapat luka. Sedikit tapi pasti akan terlihat. Ini menjadi tidak nyaman bukan hanya untuk saudara kita namun juga untuk diri sendiri. Maka bila kita dapat lebih cepat memahami kondisi hati. Kita dapat mengambil waktu dan proses untuk membersihkan hati daripada kita memberikan rasa pahit kepada saudara kita.

Perkenankan saya sedikit berbagi cerita. Proses memaafkan yang terberat adalah memaafkan orang yang selama ini menjadi panutan hidup, teladan kehidupan dan tempat berlindung dalam keluarga. Beliau hanya melakukan kesalahan yang mungkin itu dianggap lumrah dalam dunia bisnisnya. Detailnya saya tidak dapat cerita. Saya merasakan kekecewaan atas tindakan yang diambil dan tentu itu berpengaruh terhadap kehidupan di keluarga saya. Maka setelah itu cara bicara saya tak lagi sama, rasanya ingin selalu marah di depan beliau.

Ilustrasi./Copyright shutterstock.com

Saya menyadari bahwa hati saya sedang tidak beres tercermin dari perilaku saya kepadanya. Pertama yang saya lakukan adalah membenahi kondisi hati dahulu, kedua baru melakukan komunikasi terbuka kepadanya. Dalam membenahi hati tidaklah sebentar, butuh waktu untuk benar-benar berdamai dengan keadaan yang ada. Dimulai dari introspeksi diri sendiri bahwa diri ini juga tidak luput dari kesalahan. Bahwa diri ini mungkin tidak ada ketika dia membutuhkan untuk tetap dijalan yang lurus. Mungkin diri ini juga terlalu memikirkan diri sendiri hingga tidak peka dengan lingkungan.

Lalu kedua dengan memahami keadaan dia sehingga dia mengambil keputusan itu. Berusaha untuk mengerti dan memahami dengan sudut pandang dia. Kita terlalu sering melihat orang lain dan menilainya dengan kacamata kita. Cobalah bila kita melihat dan menilai dengan berusaha untuk memahami bagaimana rasanya menjadi dia, di posisi dia maka tidak akan mudah untuk kita menghakimi sesuatu. Semua proses yang dirasa hati saya perlu lakukan untuk terasa lebih ringan saat menghadapinya saya lakukan hingga sampai pada ketika teringat akan kesalahannya bukan lagi rasa sakit hati yang muncul namun doa dan harapan terbaik untuk dirinya. Senyum dan harapan baru untuk dirinya.

Saya pernah mengibaratkan memaafkan itu seperti melepaskan balon. Memaafkan adalah proses dalam kita melepaskan balon untuk dapat terbang tinggi ke udara hingga kita tidak dapat melihatnya lagi. Merelakan kesalahan yang ia berbuat hingga kita tidak terbayang-bayang akan kesalahan itu lagi. Namun untuk sampai kepada proses melepaskan balon itu tidaklah mudah.

Ilustrasi./Copyright pexels.com/tirachard kumtanom

Kita harus mencari tempat terbaik untuk melepaskan balon tersebut yaitu di tanah yang lapang, bukan tempat yang penuh dengan pohon dan halangan lain sehingga saat melepaskan balon tersebut tidak dapat terbang tinggi karena tersangkut dahan pohon. Artinya adalah untuk dapat merelakan kesalahan dan memaafkan kita harus melalui proses dan waktu seperti proses dalam mencari tempat yang tepat untuk melepas balon.

Proses kita adalah untuk menyiapkan hati yang lapang untuk melepaskan dan memaafkan kesalahan orang tersebut. Proses menuju kesana dilalui dengan cara yang berbeda-beda bagi setiap orang. Ada yang dengan dia memberikan hadiah kepada orang yang menyakiti, ada yang dengan cara dia mengingat-ingat kesalahan diri sendiri kepada orang lain sehingga di juga berharap dapat dimaafkan maka dia akan memaafkan orang yang menyakitinya terlebih dahulu. Ada yang mengukur dengan ketika dia mengingat kesalahan orang tersebut dia sudah dapat tersenyum maka artinya dia sudah menemukan tempat yang tepat dan sudah melepaskan balon luka di hatinya.

Setiap orang memiliki cara yang berbeda. Dan kamu pasti akan menemukan cara yang paling tepat untuk dirimu sendiri. Yaitu cara yang membuat hatimu terasa lebih damai. Mencapai hati yang bersih mungkin tidak mudah namun bukan berarti tidak mungkin.



(vem/nda)