Ini 4 Langkah Agar Tercipta Toleransi Beragama dalam Kehidupan

Fimela09 Jun 2018, 16:00 WIB
Menjaga hubungan antar agama/copyright Pexels.com

Sebagai negara yang plural, sudah bukan hal baru jika kita sebaiknya memang hidup berdampingan dengan pemeluk agama lainnya dengan damai. Tentunya ada banyak umat beragama yang menjalani kehidupan sehari-hari bersama-sama dan inilah yang memang terbentuk sejak lama.

Seperti juga yang dikatakan oleh motivator Tung Desem Waringin yang memberikan empat pedoman bagaimana masyarakat bisa menciptakan toleransi beragama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

1. Saling berkunjung di masyarakat
Dalam acara pre-launching karya terbarunya 'Life Revolution', ia mengatakan "(Toleransi beragama bisa muncul) ketika antar orang saling berkunjung. Bukan supaya kita mencari kelemahannya. Tapi untuk saling mempelajari apa kelebihannya tanpa takut meninggalkan agamanya."

Saling mengunjungi menjadi cara setiap orang untuk mengenali hal-hal positif dari agama yang berbeda, dan tentu saja untuk saling menghormati dan menghargai.

2. Saling berkunjung bagi para pemuka agama
Bukan hanya masyarakat umum yang harus menjalin silaturahim antar umat beragama, terlebih lagi ditekankan untuk para pemuka agama. Karena mereka merupakan contoh atau orang yang 'dilihat' publik, maka akan lebih baik jika memberikan contoh yang bisa dijadikan teladan dengan cara saling berkunjung.

3. Bertukar hal positif
Berinteraksi antar umat beragama juga akan memberikan kesempatan untuk bertukar pikiran dan berbagi hal-hal positif mengenai agama masing-masing. "Sebagai praktisi sehari-hari, komunikasi antar agama bukan yang salah-salah tapi (bicarakan) hal yang positif. Kenapa tidak?" kata Tung Desem.

4. Mengunjungi tempat-tempat nasional dan tempat ibadah
Poin keempat adalah mendorong masyarakat lebih mengenal sejarah perjuangan para pendiri bangsa untuk mempertahankan negara dan keberagamannya. Masyarakat bisa belajar dari tempat-tempat seperti Monumen Pancasila Sakti dan juga Monumen Nasional. Karena bagaimana pun di masa penjajahan, semua orang bersatu demi kemerdekaan bersama.

Jadi, mengapa harus memecah belah persatuan negara hanya karena perbedaan agama yang sebenarnya bukanlah hal besar untuk diperdebatkan? Setiap orang punya keyakinan masing-masing dan patut dihormati.

Sumber: Liputan6.com

(vem/feb)