Survei: Order Fiktif Transportasi Online Semakin Banyak Ini Alasannya

Fimela11 Jun 2018, 12:23 WIB

Order fiktif (opik) memang sedang marak dilakukan oleh transportasi online. Opik tersebut bisa dikatakan tindakan curang karena
pengemudi seolah-olah sedang mengantarkan penumpang, padahal tidak demikian.

Institute tor Development of Economics and finance (INDEF) menemukan maraknya order fiktif di industri ride-hailing di indonesia dalam survei yang melibatkan 516 mitra pengemudi dua perusahaan ride-hailing terbesar, Go-Jek dan Grab. Para mitra pengemudi mengakui bahwa tindakan curang sangat banyak terjadi sehari-hari di lapangan.

Berty Martawardaya, Direktur Program lNDEF menjelaskan hampir dua dari tiga mitra pengemudi atau sebanyak 61 persen mengatakan bahwa mereka mengetahui sesama mitra pengemudi yang pernah melakukan order fiktif (atau dikenal sebagai “opik”) untuk mencapai target jumlah perjalanan dan mendapatkan insentif.

Mayoritas mitra pengemudi (54%) mengaku bahwa mereka mengetahui sesama mitra pengemudi pernah melakukan tindakan curang demi mengejar insentif yang dijanjikan perusahaan ride-hailing bila mencapai target.

Pengemudi tersebut biasanya melakukan tindakan curang dengan cara memiliki perangkat lunak GPS palsu, untuk memalsukan perjalanan dan menyelesaikan perjalanan tanpa harus benar-benar membawa penampang dan mencurangi sistem. Dengan menggunakan banyak nomor dan akun palsu, mereka berpura-pura menyelesaikan perjalanan demi mendapat insentif yang dijanjikan setelah mencapai target jumlah perjalanan tertentu.

Order fiktif juga kerap dilakukan untuk menjauhkan mitra lain dari tempat tertentu. Hampir semua mitra pengemudi (81%) mengaku mendapat order fiktif setiap minggunya dan satu dari tiga (37%) mitra pengemudi mengaku mendapat order fiktif setiap harinya.

“Temuan survei ini cukup mengejutkan. Selain merugikan perusahaan ridehailing, penghasilan para mitra pengemudi yang bekerja dengan jujur juga terdampak oleh perilaku ini. Survei kami juga menemukan bahwa lebih dan' setengah [53%] tidak setuju dengan tindakan order fiktif yang dilakukan teman-teman mereka. Satu dari tiga pengemudi [34%] bahkan pernah secara aktif memperingatkan teman mereka yang melakukan tindakan order fiktif," ujar Berty Martawardaya, saat ditemui dibilangan Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu.

Berly melanjutkan, tanggung jawab harusnya diemban oleh penyedia aplikasi ride-haiiing untuk memberlakukan sistem keamanan yang lebih ketat untuk melawan tindakan curang. Para mitra pengemudi juga sependapat. Empat dari 10 mitra pengemudi [39%] percaya bahwa perusahaan aplikasi tidak mendeteksi fenomena order fiktif curang di lapangan

“ketika dijabarkan berdasarkan perusahaan aplikasi, mitra pengemudi Go-Jek menunjukkan tingkat kepercayaan lebih rendah kepada platform tempat mereka bernaung karena hampir setengah dan mitra pengemudi Go-Jek (46%) mengatakan bahwa perusahaan tidak mengetahui atau mengetahui tapi membiarkan praktek tindakan curang. Sementara angka ketidakpercayaan untuk Grab juga cukup tinggi yaitu 30% dari mitra pengemudi menyatakan hal serupa dengan mitra pengemudi Go-Jek tentang platform Grab.

Hasil survei juga menunjukkan bahwa 42% mitra pengemudi percaya bahwa Go-Jek adalah platform dimana order fiktif paling banyak terjadi. Sementara 28% mitra pengemudi mengatakan bahwa di Grab lah order fiktif lebih banyak terjadi.

Sebagai rekomendasi, Berly mengatakan bahwa sangat krusial bagi mitra pengemudi dan perusahaan ride-hailing untuk bekerja sama dalam melawan tindakan curang ini.

“Perusahaan harus mengembangkan teknologi yang dapat mendeteksi tindakan curang secara real-time. Perusahaan juga harus menjatuhkan hukuman seberat-beratnya untuk mitra pengemudi yang ketahuan melakukan tindakan curang,” ucapnya.

Survei yang dilakukan INDEF ini melibatkan 516 sopir mobil dan motor milik Grab dan Gojek pada 16 April-16 Mei di Jakarta, bogor, Semaran, Bandung, dan Yogyakarta. Metode survei yang digunakan adalah non-probability atau convenient sampling.

(vem/asp)