Berkarier di Luar Rumah Bukan Berarti Melepas Tanggung Jawabku sebagai Ibu

Fimela11 Jun 2018, 13:00 WIB
Ilustrasi working mom./Copyright shutterstock.com

Kadang dalam hidup ini, perempuan punya peran istimewa sebagai seorang penjaga. Meski kadang ujian hidup begitu berat tapi seorang perempuan bisa begitu tangguh menjalaninya. Seperti kisah sahabat Vemale dalam Lomba Menulis #JagainKamu ini. Ada cerita yang begitu menyentuh hati di dalamnya. Lomba menulis kali ini dipersembahkan oleh Softex Daun Sirih, yang selalu #JagainKamu para perempuan Indonesia.

***

Perdebatan mengenai working mom dan stay at home mom sudah lama terdengar. Salah satu ilustrasi yang paling menjadi perhatian adalah bagaimana seorang ibu bekerja dapat menjaga buah hati dengan baik jika dititipkan kepada orang lain. Beberapa mengumpamakan anak-anak dengan emas dan perhiasan. Sebagian lain mengeluarkan pendapat seakan agama membenci ibu bekerja.

Sebagai ibu yang bekerja nine to five, saya membaca ulasan tersebut dengan penuh kegelisahan. Banyak ibu bekerja menjadi gamang dan memikirkan ulang kiprahnya di ranah publik akibat postingan grup social media yang begitu memojokkan ibu bekerja. Tidak jarang beberapa dari kita meneteskan air mata karena begitu bersalah dengan apa yang telah kita lakukan.

Kegelisahan ini membuat saya melakukan survei kecil kecilan kepada beberapa kawan yang menjalani karier di luar rumah. Pertanyaan saya adalah, “Apakah kita yakin bahwa anak-anak dari ibu bekerja akan tumbuh tidak lebih baik dari anak-anak ibu yang tinggal di rumah?" Beberapa perempuan menjawab dengan gamang. Sebagian besar menjawab tidak tahu, tetapi menunjukkan wajah yang begitu khawatir.

Copyright pexels.com/ylanite koppens

Sebagian lagi menjawab tidak. Saya juga menjawab tidak. Alasannya adalah karena niat saya bekerja dan memilih karier di luar rumah bukan untuk meninggalkan buah hati. Tetapi karena kebutuhan saya untuk menjalani kehidupan sesuai dengan passion.

Saya pribadi meyakini bahwa menjalani hidup yang sesuai dengan passion akan berdampak positif kepada diri saya sendiri. Jika saya memiliki kepribadian yang positif, maka orang-orang terdekat saya termasuk buah hati, suami dan sanak keluarga akan mendapatkan imbas yang baik pula.

Kembali pada masa depan buah hati. Sebuah puisi dari Khalil Gibran mengingatkan bahwa anak kita adalah anak zamannya.

“Patut kau berikan rumah bagi raganya, namun tidak jiwanya. Sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan, yang tiada dapat kau kunjungi sekalipun dalam mimpimu."

Copyright pixabay.com

Puisi ini mengingatkan saya bahwa sebagai orang tua kita hanya bisa menjaga hati, pikiran dan sudut pandangnya pada kehidupan yang akan ia jalani dimasa depannya.

Sudut pandang yang paling penting dalam membangun kesiapan buah hati di masa depan adalah memberikan teladan tentang etos kerja. Dear moms yang berkarier ataupun yang di rumah, niatkanlah segala daya dan upayamu untuk memberikan yang terbaik kepada si kecil. Termasuk memberikan pemahaman tentang konsep kerja keras, pantang menyerah, dan kegigihan.

Nilai-nilai kebaikan, kebijaksanaan, dan kerja keras sulit dipahami anak-anak jika kita hanya berceramah dan mengomel di telinganya. Kebaikan dan kebijaksanaan hanya bisa diterima dengan contoh dan suri tauladan. Seringkali kita berharap buah hati dapat menjadi seperti apa yang kita inginkan. Tetapi ternyata ia memiliki passion lain.

Copyright pexels.com/daria shevtsova

Satu satunya hal yang bisa kita lakukan untuk menjaga dia adalah dengan membiarkannya menyalurkan passion dengan memberikan rambu rambu tentang etos kerja dan nilai-nilai kemanusiaan.

Kembali pada perdebatan tentang working mom atau stay at home mom. Seharusnya perdebatan itu tidak pernah muncul. Kedua-duanya bertanggung jawab atas masa depan generasi penerus bangsa. Seharusnya para ibu tidak perlu banyak berdebat mengenai mana yang lebih baik, berkarier ataukah beraktivitas di rumah. Para ibu hanya harus menyadari bahwa menjaga buah hati tidak melulu soal kedekatan secara fisik. Tetapi juga bonding secara emosional yang bisa dibangun melalui banyak jalan.

Untuk menjaga buah hati, kita wajib jagain diri sendiri. Menjaga kesehatan fisik dengan berolahraga dan menjaga asupan gizi. Menjaga akal sehat dengan menyempatkan diri membaca buku-buku kesukaan dan menonton drama serial yang menegangkan, serta menjaga kedamaian hati dengan selalu mendekatkan diri pada sang Maha Pencipta.

Stay happy and be positive, Moms!

Anieq Fardah
Sidoarjo, 11 Juni 2018

(vem/nda)