Anakku, Kujaga Kalian dengan Cinta Sembari Kubisikkan Sejuta Doa-Doa

Fimela12 Jun 2018, 11:15 WIB

Kadang dalam hidup ini, perempuan punya peran istimewa sebagai seorang penjaga. Meski kadang ujian hidup begitu berat tapi seorang perempuan bisa begitu tangguh menjalaninya. Seperti kisah sahabat Vemale dalam Lomba Menulis #JagainKamu ini. Ada cerita yang begitu menyentuh hati di dalamnya. Lomba menulis kali ini dipersembahkan oleh Softex Daun Sirih, yang selalu #JagainKamu para perempuan Indonesia.

***

Beberapa hari yang lalu, berita anak hilang bersliweran di linimasa, juga di grup WA. Anak perempuan kisaran 7 tahun, juga anak laki-laki seumuran 5 tahun mendadak hilang entah ke mana. Raib secepat kilat, padahal beberapa menit lalu masih asyik bermain-main di depan rumah. Saya speechless, bahkan ikut menangis membayangkan nasib si anak. Apakah dia baik-baik saja? Apakah dia bersama orang jahat yang punya tujuan khusus? Apakah dia sudah ratusan kali meneriakkan nama ibunya, dan tak kunjung menyahut? Apakah dia ketakutan, kedinginan, kelaparan? Anak hilang, menciptakan lintasan bayangan buruk bagi setiap orangtua. Ah, betapa dunia semakin tak aman rasanya.

Orangtua zaman now mempunyai PR yang lebih kompleks daripada kalimat majemuk bertingkat. Lebih rumit daripada memecahkan soal algoritma dan rumus-rumus kimia. Harus lebih aware daripada intel dan pasukan densus.

Tantangan zaman yang menuntut orangtua untuk mengerahkan energi lebih banyak dan lebih besar untuk menjaga buah hati. Betapa cemerlangnya kids jaman now yang hidup di era digital, mereka tetap anak yang membutuhkan figur orangtua yang menjaga dan mengayomi. Tetap memberi ruang tapi tidak mengekang. Menggenggam erat tapi tak mencengkeram.

Copyright pixabay.com

Pola asuh yang sesuai dengan karakter anak menjadi benteng bagi anak untuk menjadikan keluarga tempat pulang paling nyaman. Tempat belajar paling menyenangkan. Tempat berteduh paling aman dari segala bentuk ketidakramahan di luar sana.

Sebagai ibu tiga anak, saya berusaha belajar dari pengalaman, baik pribadi maupun orang lain. Sebagai manusia, saya menyadari segala keterbatasan saya dalam menjaga amanah. Saya hanya berusaha semaksimal mungkin melakukan yang terbaik untuk anak-anak. Memeluk mereka dengan doa-doa.

Saya yakin, Sang Maha Pengasih adalah penjaga terhebat tiada banding. Pernah suatu ketika, anak saya tak jua pulang sekolah padahal hari sudah hampir sore. Saya yang kala itu tidak memungkinkan untuk menjemput, sudah menghubungi sopir antar jemput untuk mengantar kakak pulang. Ternyata, pesan saya tidak terbaca oleh si bapak sopir.

Copyright pixabay.com

Saya mondar-mandir seperti orang kehilangan kunci. Menghubungi satu per satu guru dan kepala sekolahnya tapi belum menerima jawaban. Anak yang biasanya jam segitu sudah meringkuk bobok siang dengan nyaman, hari itu bahkan tak ada kabar beritanya. Langit gelap dan pekat, sepekat hati saya yang gerimis sore itu. Usut punya usut ternyata si kakak sendirian di sekolah, menanti saya menjemput, hingga pulang diantar salah seorang guru yang pulang paling akhir. Ekspresinya biasa saja, malah tersenyum seolah tak terjadi apa-apa. Duh, dia tak pernah tahu betapa hati saya kebat kebit tak karuan.

Banyak kisah menakjubkan sekaligus mendebarkan yang pernah dicecap anak sulung saya. Dia pernah pulang sendiri di hari pertamanya sekolah PAUD. Dia pernah hilang di mall, di antara lautan manusia hingga saya ingin sujud syukur kala berhasil menemukannya. Dia pernah menjadi korban bullying hingga menyisakan luka memanjang dan dalam di wajahnya, tapi dia sama sekali tak menangis. Dia telah tumbuh menjadi gadis kecil 8 tahun yang tangguh dan menjadi penjaga bagi kedua adiknya.

Copyright pixabay.com

Saya sering merasa malu, bahwa saya belum mampu menjaga tiga amanah dengan sebaik-baiknya. Masih suka mengedepankan ego. Masih bersikap tak adil. Masih menuntut kesempurnaan padahal saya penuh cacat cela. Dari putri sulung saya, saya belajar. Dia telah memberi warna dan inspirasi. Dengannya, saya merasa teramat bersyukur membersamai mereka, menatap mereka tumbuh dan tersenyum. Mereka ada, dekat, bisa dipeluk dan dicium adalah anugerah tak ternilai yang sayangnya dianggap momen biasa yang terlewatkan begitu saja.

Sebuah siaran langsung yang diunggah seorang artis muslimah di instagramnya, semakin menyadarkan saya tentang luar biasanya kekuatan doa orangtua pada anaknya. Doa menjadi kekuatan dalam tiap kelemahan. Menjadi penolong dalam kesedihan. Menjadi senjata terampuh di tiap keadaan. Maka, kan kujaga mereka dengan rengkuhan penuh cinta sembari kubisikkan sejuta doa-doa. Agar Sang Maha Menjaga menjaga mereka dengan sempurna.

(vem/nda)