Menyesal Aku Bertanya Kapan Nikah pada Temanku yang Kini Telah Tiada

Fimela18 Jul 2018, 10:10 WIB
Ilustrasi./Copyright unsplash.com/jj ying

Punya pengalaman tak menyenangkan atau tak terlupakan soal pertanyaan 'kapan'? Kata 'kapan' memang bisa jadi kata yang cukup bikin hidup nggak tenang. Seperti kisah sahabat Vemale yang disertakan dalam kompetisi Stop Tanya Kapan! Ungkapkan Perasaanmu Lewat Lomba Menulis Juli 2018 ini. Pada dasarnya kamu nggak pernah sendirian menghadapi kegalauan dan kecemasan karena pertanyaan 'kapan'.

***

Assalamu'alaikum Vemale,

Terkadang  kita sebagai manusia sering sekali julid, kepo, dan mungkin sekadar iseng terhadap kehidupan seseorang tanpa memikirkan dahulu seperti apa kehidupan dan kondisi orang tersebut. Kita seakan lupa bahwa hidup itu penuh dengan proses. Melayang jauh ke belakang ingatanku di Desember 2017 kemarin, tatkala seorang teman sebut saja namanya Awal yang sudah lama tidak kuhubungi, tiba–tiba saja dia mengirimkan pesan kepadaku sekadar tanya kabar.

Awal temanku yang paling muda usianya saat kami kuliah di kelas karyawan. Sosoknya begitu dewasa, kuat, dan pintar. Ketika aku mempunyai masalah aku lebih sering ngobrol dengan dia ketimbang temanku yang perempuan. Semenjak lulus kuliah kami jarang berkomunikasi, terakhir kami teleponan ketika aku mengetahui dia kena gagal ginjal. Tragis memang, tetapi bukan Awal namanya kalau dia tidak bisa menyembunyikan seperti orang sehat pada umumnya.

Tak ada yang aneh memang di sepanjang obrolan kami di chat BBM. Kami ngalor-ngidul bicara apa saja yang bisa kami obrolkan dari kondisi, kegiatan bahkan tiba saatnya yang pasti dia juga sudah nebak pasti aku akan menanyakan, “Kapan lu nikah?" Dia lama tak membalas, aku tak berpikir ada yang aneh dari sikapnya yang tak membalas pertanyaanku, aku pun menganggapnya biasa. Tak berlangsung lama pesan yang aku kirim dia baca, terlihat di layar dia mulai mengetikkan balasan untukku.

Ilustrasi./Copyright unsplash.com/esther wiegardt

“Aku masih fokus pada pengobatanku Pit, tolong jangan tanyakan itu lagi,” pesannya. Aku pun minta maaf tak ada maksud untuk menyakitinya, tapi kali ini sepertinya dia begitu kecewa dia cuma membaca pesanku saja. Akan tetapi aku semakin ngeh, kata-kata itu seakan menohok banget menyentil keusilan aku, semakin aku ingat betapa aku merasa bersalah kepadanya.

Hari berlalu begitu cepat sampai Idul Fitri 2018 kemarin, aku tidak berpikir untuk meminta maaf kembali, entah aku merasa lupa atau aku sudah biasa dengan hal itu. Sampai kemarin sore, tak sengaja aku membuka akun Facebook-ku. Notifikasi menyebutkan ada yang mengirimkan linimasa di dinding facebook. Berita duka cita bahwa Awal temanku telah meninggal dunia di RSCM karna komplikasi ginjal dan penyakit jantungnya. Ya Allah, Ya Allah aku tidak percaya! Itu bagai sambaran petir untukku, aku sedih kenapa di terakhir kalinya aku komunikasi dengan dia aku malah menyinggung hatinya.

Ilustrasi./Copyright unsplash.com/sunrise

Aku terisak, menahan air mata yang tak kuasa aku bendung, semua kenangan saat kami kuliah dulu, makan dan berangkat pun kami bersama-sama seakan masih terasa dipelipis mata. Aku semakin merasa bersalah ketika aku mengingat kembali jika berjumpa dengan dia aku selalu menanyakan "kapan". Kapan menikah, kapan melamar pacarnya, dan kapan kamu kenalin pacarnya.

Ya Allah ini pelajaran buatku dan semua, walaupun kita iseng ataupun cuma sekadar bercanda biasa janganlah kita kepo terhadap kehidupan seseorang itu bisa saja melukai hati seseorang. Setiap orang pasti menginginkan hal-hal yang baik dari setiap pertanyaan kapan. Yang kita tidak tahu adalah bagaimana proses orang tersebut menggapai sebuah pertanyaan kapan. Ada yang prosesnya cepat, ada yang butuh perjuangan, bahkan mungkin ada yang sudah melalui berbagai macam prosesnya tak kunjung juga hasilnya.

Ilustrasi./Copyright unsplash.com/shine tang

Kita cuma bisa meminta sama Yang Maha kuasa yang menentukan kembali lagi kepada sang Pencipta. Untuk Awal temanku, mungkin aku sudah tidak bisa menjabat tanganmu untuk sekadar minta maaf tapi aku berusaha, kamu selalu ada dalam setiap doa dan sujudku. Semoga Allah menerima amal ibadahmu, amin.

(vem/nda)