Tak Kunjung Menikah Bukan Berarti Tuhan Tidak Mencintai Kalian

Fimela18 Jul 2018, 13:00 WIB
Ilustrasi./Copyright unsplash.com/suhyeon choi

Punya pengalaman tak menyenangkan atau tak terlupakan soal pertanyaan 'kapan'? Kata 'kapan' memang bisa jadi kata yang cukup bikin hidup nggak tenang. Seperti kisah sahabat Vemale yang disertakan dalam kompetisi Stop Tanya Kapan! Ungkapkan Perasaanmu Lewat Lomba Menulis Juli 2018 ini. Pada dasarnya kamu nggak pernah sendirian menghadapi kegalauan dan kecemasan karena pertanyaan 'kapan'.

***

Sebagai bagian dari human society yang hidup di dunia ini, sudah lumrah sepertinya memberikan pertanyaan kapan bla bla bla kepada sesamanya. Mulai dari pertanyaan kapan punya pacar, kapan putus, kapan membuka hati, kapan sidang, kapan lulus, kapan move on, kapan nikah, kapan kerja, kapan punya anak, kapan liburan dan segala kapan-kapan yang lain. Singkatnya ketika mendapati pertanyaan semacam itu lalu saya malas (atau dapat dikatakan lelah) menjawab sederetan pertanyaan klasik di atas, senyuman adalah senjata yang cukup ampuh untuk disuguhkan. Jenis pertanyaan seperti itu mungkin digunakan masyarakat kita sebagai substituent atau bentuk lain dari pertanyaan apa kabar dimasa kini. Mereka yang bertanya demikian, dapat kita asumsikan mencurahkan perhatiannya untuk kita, atau bahkan malah sekadar kepo dengan diri kita.

Pada umumnya, ketika seseorang mendapat pertanyaan semacam itu, apabila mereka dalam kondisi normal (psikologi yang baik-baik saja), maka dapat dipastikan mereka tidak akan mengalami yang namanya baper. Namun, apakah pernah terbesit di benak teman-teman yang bertanya demikian untuk memikirkan bagaimana kondisi psikologis sebenarnya dari objek yang kalian beri pertanyaan semacam itu? Jika mereka yang kalian beri pertanyaan semacam itu tidak dalam kondisi yang baik, apakah pernah terbesit di benak kalian bahwa mereka bisa saja baper yang menjurus ke sebuah sakit hati/tekanan mental tersendiri.

Ilustrasi./Copyright unsplash.com/katherine hanlon

Tampaknya pertanyaan itu memang bertahap muncul di setiap fase kehidupan kita, terlebih ketika seseorang menginjak umur kepala 2. Dalam masa-masa sengit mencari jati diri masing-masing, kita disuguhi dengan pertanyaan-pertanyaan berentet seperti itu. Ketika sudah lulus, lalu sudah bekerja, dan bahkan sudah menikah, kadang kita merasa terbebas dari yang namanya pertanyaan kapan. Faktanya, beberapa orang masih saja mendapati pertanyaan level lanjut semacam kapan punya anak. Hello, ingat kalian bukan petugas sensus.

Teman-temanku, bukannya saya ingin menyatakan bahwa menanyakan kapan blablabla kepada orang lain itu haram atau dilarang. Cobalah sesekali posisikan diri kalian seperti objek yang kalian beri pertanyaan itu. Bayangkan bagaimana perasaannya ketika terlalu sering mendapat pertanyaan yang terus beruntun seperti itu.

Percayalah kawan-kawan, setiap insan manusia di dunia ini memiliki zona waktunya masing-masing. Apabila kalian tak kunjung lulus, bukan berarti kalian tidak akan sukses di kemudian hari dan bukan berarti hari ini kalian telah gagal. Apabila kalian tak kunjung menikah, bukan berarti Tuhan tidak mencintai kalian, hanya saja kalian belum berada di waktu yang tepat untuk bertemu dengan jodoh terbaik yang sudah disiapkan Tuhan. Apabila kalian tak kunjung mendapat pekerjaan, bukan berarti kalian bodoh atau tak berguna, hanya saja Tuhan tengah menyiapkan sesuatu yang lebih indah untuk kalian suatu saat, tetaplah berusaha tanpa lelah dan percaya dengan rencana-Nya. Apabila kalian belum dikaruniai seorang anak, tetaplah bersyukur, Tuhan mungkin tengah mengujimu untuk lebih mendekatkan diri pada-Nya, dan sedang menyiapkan rencana terindah dalam hidupmu.

Ilustrasi./Copyright unsplash.com/lawrence green

We are what we think.Respon dari dalam diri kitalah yang akan membentuk bagaimana kita. Ada seorang kawan saya yang menjadi tertekan setiap mendapat pertanyaan kapan lulus, kapan nikah, kapan punya anak dan lain sebagainya. Ia berpikir bahwa hidupnya tetap di titik ini saja tanpa ada sedikit pun perpindahan, ia merasa berbeda dari kebanyakan orang. Lantas, apa selanjutnya yang muncul di benaknya? Dirinya berkata bahwa ia sepertinya tidak layak hidup di dunia ini, buat apa lagi ia melanjutkan hidup.

Kawan, ketahuilah, hidup ini bukanlah sebuah arena balap di mana ketika si A sudah mencapai checkpoint A kehidupannya, maka kamu juga harus sepertinya yang dengan cepat dan segera meraih checkpoint A tersebut. We have our own life path. Tetaplah jalani hidupmu, temukan passionmu atau minatmu, lakukan, syukuri. Saat belum menemukan passionmu atau hal yang kamu inginkan di dunia ini, teruslah cari, jangan berhenti sampai kamu menemukan dan menyadarinya. Jangan berputus asa hanya karena dirimu terus mendapat bombardir pertanyaan dari societymu hingga lantas membuat kamu memilih untuk membelenggu dirimu sendiri. Tetaplah berpikir positif. Be grateful, be grateful, be grateful. Apabila kesabaran ada batasnya, maka hal itu sama saja artinya dengan tidak sabar. Teruslah memiliki sabar yang tanpa batas. Kamu pasti akan tiba pada zona waktumu masing-masing.

Ilustrasi./Copyright unsplash.com/photos by lanty

Your life lives in your own hand on a beautiful God’s secret plan. Live your life happily. Jangan biarkan orang lain menggambar hingga bahkan mengatur kehidupanmu. Dan untuk kalian, atau bahkan diri sendiri, yang pernah atau sering menanyakan pertanyaan semacam itu, marilah menjadi lebih bijaksana dalam mengutarakannya. Beri saja uluran tangan atau doa yang nyata agar tidak hanya menjadi sekadar pertanyaan basa-basi belaka dari mulut kalian. Di saat mereka tetap sering kepo dengan kehidupan kita, baiknya jagalah diri dan mulut kita sendiri agar tidak berada dalam arus yang sama seperti mereka. Let’s be wise, good society!

(vem/nda)