Belum Jodoh, Cinta Tak Direstui karena Terhalang Horoskop

Fimela18 Jul 2018, 14:30 WIB
Ilustrasi./Copyright pixabay.com
Punya pengalaman tak menyenangkan atau tak terlupakan soal pertanyaan 'kapan'? Kata 'kapan' memang bisa jadi kata yang cukup bikin hidup nggak tenang. Seperti kisah sahabat Vemale yang disertakan dalam kompetisi Stop Tanya Kapan! Ungkapkan Perasaanmu Lewat Lomba Menulis Juli 2018 ini. Pada dasarnya kamu nggak pernah sendirian menghadapi kegalauan dan kecemasan karena pertanyaan 'kapan'.
 
***
Saya seorang wanita berusia 30 tahun. Sampai saat ini belum pernah pacaran. Menyedihkan? Mungkin itu anggapan beberapa orang. Tapi itu adalah pilihan yang harus kujalani. Pilihan yang kini menghadapkanku pada berbagai pertanyaan yang selalu mengikutiku.

Kamu sudah punya pacar belum? Mau tunggu sampai kapan?
Kakak-kakakmu sudah pada menikah, sekarang harusnya giliran kamu kan? Apakah kamu mau dilompati adikmu nanti (adik menikah duluan)?

Menanggapi berbagai pertanyaan yang mengitariku, kadang saya hanya membalasnya dengan tersenyum , dengan berkata, “Kapan-kapan,” atau “Doain aja yah." Sebenarnya bukan persoalan belum mau berkeluarga, belum mau membuka hati. Tapi lebih kepada ketakutan dalam diri yang pernah dilukai berkali-kali.
Ilustrasi./Copyright pixabay.com/free-photos

Ketakutan ini bermula dari kedekatanku dengan seorang pria. Hati ini telah menetapkannya sebagai pasangan sepanjang hidup ini, namun semuanya harus buyar ketika ia memutuskan untuk menjadi anak yang berbakti yang mengikuti perkataan orangtuanya. Memangnya apa yang salah denganku, mengapa kedekatannya denganku bisa mengakibatkannya menjadi anak durhaka.

Kekhawatiran orangtuanya lah yang menjadi penyebab perjalanan asmara kami harus terhenti saat itu juga. Terkejut memang ketika ia menyampaikan alasan keberatan orangtuanya adalah tidak lain hanya karena perbintangan kami yang tidak sesuai. Saya berusaha untuk tenang dan berpikir sejenak. Memposisikan diri ini seperti dirinya.
Ilustrasi./Copyright pixabay.com/adamkontor

Memang tidak ada yang perlu disalahkan, saya mengerti bahwa baktinya kepada orangtua jauh lebih besar daripada semuanya. Biarkanlah rasa sakit ini menjadi awal bagi perjalanan cintaku selanjutnya. Sebagai penghiburan diri, hanya bisa berpikir, jauh lebih baik bisa mengetahui lebih awal mengenai pemikiran keluarganya yang lebih mendasari keputusan dengan percaya akan penafsiran yang belum tentu terjadi.

Bagaimana nantinya jika sampai menjalani kehidupan berkeluarga? Mungkin semua keputusan dalam keluarga akan dikaitkan dengan penafsiran perbintangan (horoskop) semata, bukannya diputuskan secara logika. Karena sejauh pengetahuanku, horoskop hanyalah penafsiran yang dapat berubah. Intinya adalah lebih kepada subjek yang menjalani, tergantung pada pengetahuan, usaha, dan perbuatan seseorang. Kesedihan dan kehilangan yang dirasakan, kujadikan sebagai pembelajaran agar tidak mudah jatuh cinta kepada seseorang.

Hari berganti hari, bulan berganti bulan. Saya menyibukkan diri di suatu organisasi sosial. Di sana saya memiliki banyak teman dan seorang sahabat karib. Saya juga dipertemukan dengan seorang pemuda yang kepribadiannya sangat menarik: ramah, baik, pintar dan bertanggung jawab. Awalnya saya hanya menganggapnya sebagai panutan karena ia sangat dewasa dalam berperilaku baik, tapi lambat laun seiring kebersamaan kami, rasa suka mulai tumbuh. Saya merasakan, ia juga merasakan hal yang sama denganku dari gerak-geriknya. Tapi karena ketakutan akan kehilangan yang kurasakan sebelumnya, membuatku berusaha untuk memendam perasaan ini jauh di dalam lubuk hatiku.

Di dunia nyata ini ternyata ada kualami cerita seperti sinetron di TV, sahabat karibku di organisasi itu semakin hari semakin dekat dengan pemuda yang kusukai. Melihat mereka berdua, saya hanya dapat mengalihkan pandangan ini ke arah lain. Hingga suatu hari, muncul sebuah pertanyaan dari sahabatku, “Apakah ada orang yang kamu suka?”
Ilustrasi./Copyright pixabay.com/takmeomeo

Pada saat itu, saya beranggapan bahwa ia telah mengetahui isi hatiku. Namun karena saya mengetahui bahwa sahabat karibku juga memiliki perasaan yang sama denganku terhadap pemuda itu, maka saya menjawab, “Tidak, tidak ada yang kusukai."

Kupendam perasaan ini sedalam-dalamnya hingga tidak ada orang yang bisa merasakannya. Kesedihan dan kebimbangan meliputi hati ini, apakah perlu kusampaikan isi hatiku yang sebenarnya kepada pemuda itu. Namun apa yang akan terjadi nanti, mereka berdua telah begitu dekat, tidak seharusnya saya mengganggu hubungan mereka berdua. Akhirnya sahabat baikku dan pemuda itu resmi berpacaran. Karena rasa sakit dalam hati ini yang semakin mendalam ketika melihat mereka bersama, akhirnya saya memilih untuk mundur dan menghilang dari pandangan mereka.

Sungguh miris bukan, menutup-nutupi perasaan, berpura-pura tidak suka, ternyata bukanlah hal yang tepat. Ketakutanku sebelumnya ternyata berujung kesedihan dan menganggap sahabatku mengkhianati hubungan kami. Tapi sebenarnya yang berkhianat adalah diriku sendiri, musuh terbesarku. Mengkhianati perasaan ini, tidak berani mengakuinya karena terlalu takut akan pengalaman masa lalu. At last, kepedihan dan rasa kehilanganlah yang tersisa untuk mendampingiku.

Girls, jujurlah dengan apa kata hatimu. Jika suka, tunjukkan rasa sukamu. Jika tidak, maka jangan memberikan harapan palsu.

STOP! Sekarang, saat ini, saya tidak mau ambil pusing memikirkan kisah cintaku. Saya memilih untuk menjalani kehidupanku dengan aktivitas sehari-hari: membaca, bernyanyi dan bermain dengan keponakan yang cute. Seperti kata pepatah, “Kalau jodoh, takkan kemana." Semua sudah diatur dan pada saat yang tepat, jodoh pasti dipertemukan.
(vem/nda)