Tradisi Pernikahan 'Tanpa Izin' Orang Tua, Sudah Pernah Dengar?

Fimela19 Jul 2018, 10:00 WIB
Ilustrasi./Copyright unsplash.com/pablo heimplatz

Punya pengalaman tak menyenangkan atau tak terlupakan soal pertanyaan 'kapan'? Kata 'kapan' memang bisa jadi kata yang cukup bikin hidup nggak tenang. Seperti kisah sahabat Vemale yang disertakan dalam kompetisi Stop Tanya Kapan! Ungkapkan Perasaanmu Lewat Lomba Menulis Juli 2018 ini. Pada dasarnya kamu nggak pernah sendirian menghadapi kegalauan dan kecemasan karena pertanyaan 'kapan'.

***

Kapan nikah?"
Saya seorang perempuan yang baru saja menyelesaikan pendidikan strata 1. Umur saya belum mencapai seperempat abad, tapi pertanyaan jebakan tersebut rasanya sudah terlalu familiar di telinga saya. Saya bahkan belum menikmati dunia kerja, belum merasakan gaji pertama, belum juga merasakan melajang keliling Indonesia menikmati masa muda. Tapi harus sudah merasakan tekanan tentang rencana pernikahan dari omongan tetangga.

Tahu tentang adat kawin lari dari suku Sasak Lombok?
Saya hidup di lingkungan sebuah desa pelosok bagian selatan Lombok Tengah. Jika Anda hidup di lingkungan seperti ini maka bersiaplah untuk menerima segala konsekuesinya.  

Ilustrasi./Copyright unsplash.com/crew

Penduduk desa suku asli Sasak masih menganut tradisi kawin lari atau “merarik” sebelum melakukan pernikahan resmi baik secara agama dan hukum. Di suku Sasak, mencuri seorang gadis untuk dinikahi lebih dianggap ksatria dibandingkan meminta langsung pada orangtuanya. Jangan salah paham, kawin lari di sini tidak berkonotasi negatif. Selain dilakukan atas dasar suka sama suka, pasangan yang menikah juga tidak melakukan hal–hal negatif sebelum akad nikah dilaksanakan. Merarik dalam persepsi masyarakat Sasak merupakan suatu bentuk “penghormatan” kepada kaum perempuan. Bagi mereka, perempuan tidak bisa disamakan dengan benda yang bisa di tawar-tawar atau diminta.

Tradisi kawin lari yang masih tetap dilaksanakan dan dijaga oleh adat membuat sebagian besar masyarakat tentu saja merasa bangga dan sebagian lagi merasa was–was atau tertekan terutama untuk remaja perempuan yang tidak ingin menikah muda.

Di lingkungan saya, menikah muda adalah sesuatu yang lazim. Jarang ada yang bertahan untuk tidak menikah sampai umur cukup dewasa, terutama jika anda adalah gadis remaja umur 20 ke atas, sudah sepantasnya menikah atau punya anak. Saya juga pernah menyaksikan acara "nyongkolan" dengan pengantin wanita baru lulus sekolah dasar! Badannya masih kecil khas remaja tanggung umur 13 tahun. Dan di luar sana, ada lebih banyak lagi remaja perempuan dan laki-laki memilih menghabiskan masa muda membangun sebuah pernikahan, mengurus anak dan keluarga.

Ilustrasi./Copyright unsplash.com/jon asato

Adat pernikahan Sasak seperti memiliki dua sisi yang berbeda. Bisa menjadi pernikahan yang mudah sekaligus rumit untuk dilaksanakan. Mudah, karena kita "tidak memerlukan izin orangtua" untuk melakukan pernikahan sekaligus memilih pasangan. Urusan nyelabar, mas kawin, uang pisuke, biaya acara akad nikah, begawe, dan nyongkolan adalah tanggung jawab pihak laki–laki. Yang rumit di sini adalah serangkaian acara tradisi tersebut membutuhkan tenaga dan biaya yang sangat besar.

Cara pernikahan "tanpa izin orang tua" inilah yang menjadi penyebab banyak remaja lebih memilih menikah daripada melanjutkan sekolah. Orangtua tidak banyak andil dalam keputusan anak–anaknya karena tradisi dan karena jauh sebelum itu mereka juga melakukan hal yang serupa. Hal yang paling disayangkan adalah, kenyataan bahwa mereka rela menghabiskan banyak biaya untuk melaksanakan pernikahan, tapi beralasan tidak punya biaya untuk menyekolahkan anaknya.

Siapapun kamu dan berapapun umurmu kamu bisa memilih jalan hidupmu. Fakta ini menjadi hal yang ironis karena banyak sekali remaja putus sekolah karena memutuskan menikah muda. Pendidikan tidak lagi begitu penting jika mereka merasa masih punya tenaga untuk bekerja menggunakan fisik. Menjadi petani, tukang bangunan, menjadi TKI dan TKW atau menikmati warisan orang tua adalah beberapa cara untuk menyambung hidup.

Ilustrasi./Copyright unsplash.com/kawin harasai

Saya adalah salah satu perempuan yang hidup di lingkungan yang seperti itu. Tingkat pendidikan masyarakat yang rendah tapi menjunjung tinggi tradisi dan adat adalah kondisi yang akrab di sekitar saya. Saya bukannya tidak menyukai adat istiadat daerah saya. Sungguh! Saya masih suka menonton orang nyongkolan dan berharap suatu saat bisa iring-iringan sebagai pengantin bersama rombongan pengiring.

Saya juga menikmati acara mangan merangkat dan begawe sebagai ajang berbaur dengan teman-teman dan tetangga. Tetapi, tradisi tersebut akan terasa lebih menarik dan sakral jika pasangan pengantin sama–sama dewasa dan sudah siap menikah secara lahir batin.

Saya sangat menyayangkan pelaksanaan tradisi dan adat merarik tersebut terlaksana karena pernikahan dini dan membuat banyak remaja putus sekolah. Banyak orangtua enggan menyekolahkan anak-anaknya karena berpikir bahwa sekolah tidak lagi penting apabila berujung pernikahan dini. Ironisnya lagi, anak-anak tidak banyak memberontak untuk memperjuangkan pendidikan sendiri karena berpikiran serupa.

Ilustrasi./Copyright unsplash.com/ryan franco

Hal yang paling disayangkan adalah, kenyataan bahwa mereka rela menghabiskan begitu banyak biaya untuk melaksanakan pernikahan, tapi beralasan tidak punya biaya untuk menyekolahkan anaknya. Semakin tinggi jumlah pernikahan dini, semakin banyak pula perceraian dini. Korbannya adalah tentu saja anak-anak yang berasal dari orangtua yang belum bisa berpikiran dewasa.

Saya mencintai adat dan tradisi suku saya, dan saya berharap tradisi ini tetap terlaksana tanpa melibatkan remaja–remaja usia sekolah sebagai pelakonnya. Saya masih punya banyak target dan impian. Pertanyaan ‘kapan menikah’ cukup menekan saya yang hidup di lingkungan yang akrab dengan merarik kodeq. Sampai dengan tulisan ini saya buat, saya masih berjuang untuk keluar dari zona nyaman orang-orang di sekitar saya.

Keterangan:
Merarik: tradisi kawin lari masyarakat suku Sasak.
Merariq kodeq: pernikahan dini.
Nyelabar: istilah yang digunakan ketika pihak laki laki memberi tahu wali pihak perempuan tentang pernikahan
Pisuke: uang jaminan yang harus dibayar pihak laki–laki pada wali pihak perempuan.
Mangan merangkat: makan bersama sebagai perayaan pertama untuk menyambut pengantin.
Begawe: syukuran yang dilaksanakan oleh masyarakat Suku Sasak dalam merayakan sesuatu, seperti pernikahan dan khitanan.
Nyongkolan: acara ngiring pengantin ke rumah orangtua perempuan memakai pakaian adat dan diringi musik tradisional Sasak (gendang beleq/kecimol).

(vem/nda)