Kalau Adik Menikah Duluan, Memangnya Apa Salahku?

Fimela19 Jul 2018, 14:30 WIB
Ilustrasi./Copyright unsplash.com/tot

Punya pengalaman tak menyenangkan atau tak terlupakan soal pertanyaan 'kapan'? Kata 'kapan' memang bisa jadi kata yang cukup bikin hidup nggak tenang. Seperti kisah sahabat Vemale yang disertakan dalam kompetisi Stop Tanya Kapan! Ungkapkan Perasaanmu Lewat Lomba Menulis Juli 2018 ini. Pada dasarnya kamu nggak pernah sendirian menghadapi kegalauan dan kecemasan karena pertanyaan 'kapan'.

***

Ketika saya berumur 25 tahun, lebih kurang lima tahun yang lalu, saya sering sekali mendapat pertanyaan kapan nikah dari orang- orang di sekitar saya. Tetangga pada umumnya yang sangat perhatian pada masa depan saya (rasanya seperti itu dulu) yang rajin sekali bertanya kepada saya. Apalagi bila tetangga itu memiliki rencana menikahkan anak gadisnya yang dalam hal ini seumuran dengan adik saya, pertanyaan kapan nikah ini bisa ditanyakan kepada saya setiap kali dia melihat wajah saja.

Sampai-sampai pada saat itu saya malas keluar rumah demi menghindari pertanyaan dari orang yang bersangkutan. Karena lama- kelamaan, saking seringnya beliau ini bertanya saya menjadi risih. Bagi saya, antara perhatian yang tulus dan mengejek jelas sekali bedanya. Dan karena ditanyakan berulang kali setiap kali bertemu, saya jadi berpikir orang ini mulai mengejek saya dengan kedok perhatian. Sakit hati? Jelas! Pada dasarnya saya menghormati beliau, namun karena keseringan menanyakan kapan nikah itu yang kedengarannya seolah mengejek saya, “Heh lo tua kapan nikah? Keburu ubanan tuh," hilanglah rasa hormat saya kepada beliau. Apa yang mungkin beliau ini harapkan dari status saya ketika hari ini telah bertanya kapan nikah lalu seminggu kemudian bertanya lagi pertanyaan yang sama?

Ilustrasi./Copyright unsplash.com/hannah rodrigo

Wejangan-wejangan dari orang-orang sepuh pun mulai mengalir. Misalnya, jangan terlalu pemilih. Well, saya mau mencari suami. Jelas dengan mengharapkan sebuah pernikahan saya tidak memiliki rencana perceraian ke depannya. Tentu saja memilih yang terbaik adalah hal yang harus saya lakukan dan itu bukan berarti saya pemilih. Saya hanya melakukan apa yang seharusnya saya lakukan. Wajar, kan?

Dari sanak saudara pun cukup sering memberi saya nasihat agar saya tidak perlu mengejar beasiswa S2 karena katanya nanti laki-laki takut mendekat. Hehehe, yang ini lucu sekali. Karena saya adalah wanita yang percaya laki-laki smart dengan pikiran yang terbuka tidak akan terintimidasi jika wanitanya berpendidikan lebih tinggi. Toh setiap orang punya cita-citanya masing- masing. Lagipula saya ini orang yang sangat suka belajar. Entah kenapa, rasanya sekolah dan mencari ilmu itu menyenangkan sekali bagi saya.

Adik saya telah menikah beberapa tahun yang lalu. Bisa teman-teman bayangkan berapa banyak pertanyaan kapan nikah yang diberikan pada saya baik saat acara kumpul keluarga dan saat resepsi? Bagaimana saya harus tetap tersenyum dan berpura-pura tidak masalah dengan pertanyaan itu dalam rentang waktu yang lama sekali?

Ilustrasi./Copyright unsplash.com/toa heftiba

Saya bingung, tertekan, merasa sangat bodoh, hampir hancur, tapi saya tahu saya wanita yang mentalnya sekuat berlian. Tak hentinya saya bertanya kepada diri saya sendiri, “Sejelek itukah aku sampai tidak ada yang mau?” Saya mulai meragukan kualitas diri saya sendiri. Itu sangat menyakitkan.  

Saya menangis karena saya lelah dengan pertanyaan yang akan telah dan akan datang pada saya. Pertanyaan yang saya sendiri tidak tahu jawabannya. Pertanyaan yang sering saya tanyakan pada diri saya sendiri dan pada Tuhan dalam doa-doa saya. Apa orang-orang yang perhatian itu tahu saya menangis seperti wanita gila? TIDAK! Apakah orang tua dan teman-teman saya tahu saya bertanya kapan nikah kepada diri saya sendiri lebih sering dari siapapun didunia ini? TIDAK! Apakah mereka tahu seberapa besar saya ingin tahu jawabannya dibandingkan mereka? TIDAK!

Tidak ada seorangpun yang tahu karena saya tidak mengizinkan mereka untuk tahu betapa runsingnya pikiran, hati dan perasaan saya atas pertanyaan ini.  

Ilustrasi./Copyright unsplash.com/yuri levin

Sekarang saya hampir berumur 30 tahun. Ibu saya pun sudah mulai gerah dengan kesendirian saya sehingga pertanyaan kapan nikah itu sekarang lebih sering saya dengar dari beliau daripada orang lain yang sudah mulai lelah dengan jawaban saya yang sekadar senyum atau, “Doakan saja."

Saya paham kekhawatiran ibu sehingga beliaupun akhirnya memutuskan bertanya pada saya. Alih-alih pertanyaan itu berujung pada solusi, justru membuat saya merasa seperti seonggok beban bagi ibu. Sepertinya saya sudah mencoreng arang di wajah beliau. Anak pertama, perempuan pula, masih sendiri di usia yang hampir kepala tiga. Seperti aib terkadang rasanya. Meskipun kita semua sama- sama tahu bahwa menjadi single bukanlah dosa ataupun hina. Tapi seperti itulah rasanya bagi saya.

Satu kesamaan mereka semua, para penanya, mereka hanya bertanya tanpa memberi solusi. Tidak ada apapun yang mereka berikan kepada saya selain pertanyaan kapan nikah. Tidak ada! Jadi tolong bagi orang-orang di luar sana yang masih suka iseng bertanya kapan nikah kepada siapapun yang Anda kenal, entah dengan tujuan ikhlas perhatian atau hanya sekedar mengejek, please STOP!

Saya juga sama tidak tahunya dengan Anda. Bila nanti waktu saya tiba, dan mempelai laki-laki itu sudah duduk di samping saya, siap mengucapkan ijab qabul, saya akan jawab pertanyaan itu. Kapan nikah? Sekarang.     

 


(vem/nda)