Bila Telah Saling Menemukan, Akan Tiba Saatnya Menjumpai di Pelaminan

Fimela20 Jul 2018, 19:30 WIB
Ilustrasi./Copyright unsplash.com/ph ng nyuy n
Punya pengalaman tak menyenangkan atau tak terlupakan soal pertanyaan 'kapan'? Kata 'kapan' memang bisa jadi kata yang cukup bikin hidup nggak tenang. Seperti kisah sahabat Vemale yang disertakan dalam kompetisi Stop Tanya Kapan! Ungkapkan Perasaanmu Lewat Lomba Menulis Juli 2018 ini. Pada dasarnya kamu nggak pernah sendirian menghadapi kegalauan dan kecemasan karena pertanyaan 'kapan'.
***
Beberapa tahun yang lalu kita tentu akrab dengan salah satu iklan yang mengatakan," Truk aja gandengan masa kamu enggak." Saat itu saya masih duduk di bangku SMA. Pertanyaan kapan nikah amat jauh untuk ditanyakan pada saya yang masih 14 tahun. Sebagai gantinya orang-orang di sekitar saya kerap menanyakan “Kapan punya gandengan?”

Kalau dapat saya menjadikan sesuatu menjadi tersangka, masa SMA akan saya jadikan tersangka. Kata kebanyakan orang masa SMA adalah masa yang sangat menyenangkan utamanya perihal percintaan. Buku, lagu, dan film berbicara begitu bukan? Awalnya saya pun menyetujuinya.

Saya dahulu adalah pecinta cerita fiktif nan berakhir romantis. Sebagian orang mengawali berakhirnya kesendirian di masa SMP. Saya tak setuju, paling cuma sekadar cinta monyet. Toh, ketika saya tanyakan teman-teman saya yang berpacaran di masa itu, mereka bilang pacar itu berfungsi sebagai penyemangat. Aku perbaiki, mungkin maksud mereka sebagai pemandu sorak. Saya adalah pemandu sorak yang hebat. Hm, saya rasa saya masih dapat menyemangati diri saya dalam hal apapun, selanjutnya mungkin orangtua saya.
Ilustrasi./Copyright unsplash.com/tiko giorgadze

Saya menjadi bersemangat mengawali masa SMA saya. Imajinasi saya bilang, saya akan menemukan pacar pertama saya di sana. Masa SMA itu selalu dan semestinya berhubungan dengan cinta, cinta, dan cinta. Buruk, tahun pertama saya tak dapat menemukannya. Saat itu saya masih 16 tahun dan tak apa menunggu pacar pertama saya di usia 17 tahun. Mengesankan! Tidak, nyatanya lebih buruk lagi, hingga tiga tahun itu berakhir saya tak dapat menemukannya di sana.

Di masa itu orang-orang di sekitar mulai mencurigai saya. Ketika akan pergi di hari libur hingga malam hari, untuk pertama kalinya orang tua saya bertanya, “Dengan siapa?” Aku jadi canggung tapi dengan cepat memperbaiki keadaan karena memang tak ada yang patut dicurigai.

Perempuan itu merias diri untuk membahagiakan dirinya sendiri, begitu juga dengan saya. Apa masalahnya merias diri di hari Sabtu malam padahal tak pergi kemana-mana? Stop berkata saya menunggu pacar saya menjemput untuk bermalam mingguan (karena saya memang tak punya kekasih). Kadangkala ada film yang bagus untuk dinikmati, apa salahnya mengajak sesama perempuan menonton film berdua saja? Hm, saya menikmati rasa pertemanan kita lalu mengapa kamu malah membalas saya dengan menyarankan saya untuk segera memiliki kekasih. Saya tak menaruh kunci kebahagiaan saya kecuali pada kantung celana saya. Ya, nyatanya saya bahagia saja meski tiga tahun sendirian melalui masa yang katanya paling indah.
Ilustrasi./Copyright unsplash.com/samantha gades

Akhirnya saya lulus, namun bukan berarti saya telah lolos dari pertanyaan soal gandengan itu. Pertanyaan-pertanyaan yang datang malah semakin menjadi-jadi. Kamu tahu, perihal menikah muda. Setidaknya terasa menyenangkan diikat sebagai tunangan sebelum wisuda. Apalagi di masa kuliah ini seringkali saya menjumpai ‘komitmen ala ala’ antara dua sejoli. Jola dan Joli sedari masa kuliah sudah mengikat hingga saat menikah nanti. Tentunya ikatan itu cuma diketahui dua sejoli tersebut. Aku sih no! Tajuk iklan kecantikan semakin memperburuk keadaan.

Seketika mereka menjadi brand ambassador merek kecantikan itu, “Nikah atau S2?" Haduh, saya masih fokus mengejar jenjang S1 saya. Saya pilih akademik deh, boro-boro kepikiran nikah, pacar saja tidak ada. Sejujurnya, pada mulanya saya terjebak ketika seorang teman berkata, “Kuliah itu bukan cuma sekadar kuliah, sekalian cari jodoh, kecuali jika kamu betah sendirian hingga usia 25 tahun seperti kakakku." Saya pun berencana meneruskan keturunan, tentu tak ingin di usia segitu masih menjomblo. Jadi, harus bagaimana? Ya, mulai cari pacar pertama kamu dong. Iya. Mungkin.

Saya 18 tahun dan belum pernah menjalin kasih dengan seorang pun. Jangan menyangka saya tak suka lawan jenis. Saya pernah saling menyukai dan sangat memungkinkan untuk menjalin kasih. Tapi memang tidak ingin menghentikan masa lajang saya. Saya masih terlalu muda untuk mengawali masa berpasangan. Saya mulai gerah.

Stop menghubungkan setiap hal di masa menjelang kepala dua ini dengan percintaan. “Wah, kamu dapat pengemudi ojek daringnya yang sama dengan minggu lalu kan, jangan-jangan dia ingin berkenalan denganmu karena minggu lalu sama sekali tak terlibat percakapan.” Wow! Aku pernah mendapatkan pengemudi ojek daring yang sama, sebanyak lima kali pemesanan. Apa artinya dia jodoh saya? Tidak ada yang tahu, tapi tak mungkin, karena dia sudah memiliki seorang istri dan satu anak balita. Hahahaha.

Tolong berhenti penasaran dengan isi telepon genggam saya. Tak ada nomor kekasih yang sengaja saya ubah menjadi nama perempuan. Dapat saya pastikan tak ada foto saya bersama kekasih saya, karena sesungguhnya saya masih sendiri. Jikalau ada foto bersama laki-laki, jangan mencurigai dialah kekasih saya. Jangan terus menghubungkan seseorang yang berpose di samping saya adalah kekasih saya. Sebuah potret seringkali diambil secara alami, saya tak dapat memastikan siapa di samping kanan kiri atas bawah saya. Memang kamu kira foto pernikahan?

Terakhir, tolong hentikan berkata, “Kenapa pacarnya enggak pernah dikenalin?” Saya enggak punya pacar, apa yang mau saya kenalkan? Sepertinya lebih baik kamu kenalan dengan Bibiboo, boneka kesayangan saya. Dan terimak asih mama karena tak pernah bosan menjawab pertanyaan yang bukan dari teman-teman seumuran saya dengan kalimat, “Jangan pacaran, harus fokus kuliah dulu."

Teruntuk teman-teman saya tersayang, jangan buat saya malas mengunjungi kalian karena pernyataan, “Betah amat jomblo?" Saya malas berorasi tentang kebetahan menjomblo saya. Setiap orang memiliki pilihan dan lebih baik pilihan itu dipilih secara bawah sadarnya sendiri. Tak semua yang jomblo disebabkan tak laku sehingga dapat dengan mudah mengatakan, “Udah terima aja cintanya si dia ketimbang menjomblo.”

Hei, cinta bukan cuma sekadar pasang status di media sosial. Remaja-remaja seusia saya masih belum terlalu dewasa utamanya soal cinta. Masa menjelang kepala dua ini lebih baik dinikmati dengan hal-hal yang menyenangkan, daripada menggalaui kekasih yang begini begitu.

Saya percaya setiap orang diciptakan berpasangan, tak perlu risau memikirkan siapa jodohmu kelak. Bila telah saling menemukan akan tiba saatnya saling menjumpai di pelaminan. Pada intinya pernikahan yang lebih penting. Apa gunanya status pacar bertahun-tahun tapi tak berujung kan? Stop tanya kapan punya pacar karena pada saatnya nanti saya akan mengundangmu ke pernikahan saya.
(vem/nda)