Saat Keinginan Tak Terwujud Tepat Waktu, Don't be Sad!

Fimela03 Agu 2018, 09:45 WIB
Ilustrasi./Copyright unsplash.com/toa heftiba

Lulus kuliah tepat waktu tak lantas membuatku terlarut dalam euforia wisuda dan keberhasilan memperoleh gelar sarjana. Lulus dengan menyandang gelar berarti semakin banyak pula hal yang mengganggu pikiran dan menambah beban di pundakku. Salah satunya adalah membangun karier sebagai fresh graduate. Setelah menerima ijazah pertama kali, semangatku menggebu-gebu. Hal-hal yang kucari di internet tak jauh-jauh dari situs lowongan pekerjaan. Job fair pun menjadi ajang yang tak ketinggalan untuk kudatangi. Namun, waktu demi waktu bergulir dan pekerjaan tak kunjung menghampiriku.

Beberapa bulan setelah aku wisuda, akhirnya aku memutuskan untuk kembali ke kampung halaman atas permintaan orangtua. Mereka berdua sedang sakit-sakitan, ayah pun sempat beberapa kali masuk rumah sakit. Karena adik semata wayangku sedang kuliah di luar kota, akhirnya aku pun memutuskan untuk pulang dengan tujuan merawat orangtua serta mengadu nasib di kampung halamanku.

Ilustrasi./Copyright unsplash.com/brooke cagle

Awalnya aku pun bersemangat untuk mencari pekerjaan di sana. Bermodal ijazah sarjana dari kampus negeri ternama, aku yakin bisa bekerja di salah satu perusahaan yang ada. Namun, kenyataan tak seindah yang kuharapkan. Lamaran demi lamaran kukirimkan, job fair demi job fair kudatangi, interview demi interview kulakoni namun tak kunjung membuahkan hasil. Sedangkan satu per satu temanku sudah mulai diterima kerja di perusahaan-perusahaan bergengsi ibu kota maupun kota besar lainnya.

Aku pun mulai introspeksi diri, mencari celah pada diriku yang membuat perusahaan-perusahaan menolakku. Aku memperbaiki surat lamaran juga curriculum vitae yang kubuat. Mengganti bahasanya, mendesain ulang template-nya. Buku-buku mengenai trik dan tips melamar pekerjaan pun satu per satu kubaca. Aku pun mulai mempelajari hal-hal yang seringkali dibutuhkan oleh perusahaan. Bahkan aku pun sempat menduga-duga bahwa penampilan fisikku yang kurang menarik lah yang menyebabkan kegagalan. Namun teman-temanku yang lain pun tetap diterima kerja dengan seluruh apa yang melekat pada diri mereka. Mengapa aku tidak?

Ilustrasi./Copyright unsplash.com/hannah busing

Bulan demi bulan berlalu, setiap bangun tidur aku masih dihantui pertanyaan ‘kapan kerja’ yang diembuskan oleh pikiranku. Target memperoleh pekerjaan sebelum lebaran pun gagal tercapai. Mau tak mau aku harus melewati momen lebaran dengan pertanyaan ‘sudah kerja?’ atau ‘kerja di mana?’ juga sebangsanya. Untuk menyelamatkan sedikit harga diriku, aku mengumpulkan uang hasilku bekerja sebagai penulis lepas, bisnis jualan HP, juga mengajar ekstrakulikuler untuk memberi THR kepada sepupu dan keponakanku. Semua kulakukan untuk menghindarkanku dari pertanyaan ‘kapan kerja’ dari saudara-saudaraku.

Namun ternyata pertanyaan ‘kapan kerja’ masih kujumpai dan tetap berhasil mencubit perasaanku, mungkin juga orangtuaku. Hal yang membuatku sedih adalah aku satu-satunya cucu yang berhasil sekolah di perguruan tinggi negeri dan dianggap pintar oleh keluarga besar. Namun tak kunjung memperoleh pekerjaan dengan cepat membuat citra itu seakan luntur.

Orangtuaku yang dulu sering membanggakanku kini tak mampu berkata banyak. Aku pun sedikit demi sedikit kehilangan rasa percaya diri dan secara tidak langsung mulai menarik diri. Terutama di kumpulan teman, keluarga besar, dan tetangga yang penasaran dengan nasibku namun di sisi lain memamerkan keberhasilan mereka atau anak mereka. Obrolan basa-basi kini menjadi hal yang paling aku hindari. Aku pun mulai menghindari membuka sosial media yang seringkali membuatku iri dan rendah diri.

Ilustrasi./Copyright unsplash.com/wang xi

Bersyukurnya, selama ini aku memiliki teman-teman di satu komunitas yang tidak memandang keberhasilan materi melainkan keimanan. Bersama mereka, aku pun menguatkan diri dan imanku. Aku menekankan pada diriku bahwa mungkin saat ini belum waktuku untuk bekerja. Atau mungkin aku harus mencari pintu rizki selain menjadi karyawati di perusahaan.

Aku pun berusaha meyakinkan perasaan dan pikiranku bahwa Allah telah membagi rezeki kepada seluruh hamba-Nya. Setahuku rezeki tidak hanya pekerjaan, bisa juga kesehatan, mempunyai keluarga dan teman yang saling mendukung, terhindarkan dari kerusakan juga bencana. Toh aku pun masih bisa makan dengan nikmat, bisa tertawa, juga bisa menghasilkan sedikit uang dari pekerjaan paruh waktuku. Tidak apa-apa. Kita tidak bisa memaksa keadaan untuk mendapatkan hal yang kita inginkan tepat waktu, kan? Yang penting, aku tidak akan berhenti berusaha!

Aku menyadari akan tiba waktunya untuk pertanyaan-pertanyaan lain yang menungguku di masa yang akan datang. Seperti ‘kapan nikah?’ atau ‘kapan punya rumah sendiri?’ atau ‘kapan punya momongan?’ dan seterusnya. Jika aku terus-menerus memikirkan kata orang, aku tidak akan sempat untuk mensyukuri hidupku. Jadi, mari hadapi dengan senyuman dan say hi to our quarter life crisis!



(vem/nda)