Orangtua Menjadi yang Paling Berjasa dalam Masa Studiku

Fimela14 Agu 2018, 09:30 WIB

Apakah ada sosok pahlawan yang begitu berarti dalam hidupmu? Atau mungkin kamu adalah pahlawan itu sendiri? Sosok pahlawan sering digambarkan sebagai seseorang yang rela berkorban. Mendahulukan kepentingan orang lain daripada diri sendiri. Seperti kisah sahabat Vemale yang diikutsertakan dalam Lomba Kisah Pahlawan dalam Hidupmu ini. Seorang pahlawan bisa berasal dari siapa saja yang membuat pengorbanan besar dalam hidupnya.

***

Saya lahir dari keluarga yang sederhana. Bapak adalah PNS dan ibu adalah guru. Mungkin pekerjaan idaman dan ideal bagi sebagian orang. Terlihat wah dengan gaji besar dan bla bla bla. Namun sejak saya kecil, bapak dan ibu memulai dari nol.

Pindah ke perumahan dengan rumah satu kamar dan mulai membangun sampai saya umur 23 ini menjadi rumah dua lantai. Pernah mencoba usaha berjualan beras, membuat percetakan dan sablon lalu berakhir gulung tikar dan akhirnya sampai pensiun menjadi pegawai. Sampai akhir hidupnya bapak tidak membuka usaha apa–apa karena salah satu keuntungan PNS adalah kata orang–orang, nganggur (menganggur/tidak ada pekerjaan) saja digaji.

Ilustrasi./Copyright pexels.com

Saya di tengah kuliah yang sepertinya prospek masa depannya tidak jelas ini mulai tertarik dengan bisnis. Membuka usaha dan menjadi pengusaha adalah cita–cita terakhir saya. Kenapa terakhir? Karena saya sudah pasrah lagi apabila ibu, orangtua yang saya punya satu–satunya kini bercita–cita saya menjadi PNS.

PNS mungkin jadi jalan untuk menemukan kenyamanan hidup, kebutuhan terpenuhi dan masa depan cerah. Sudah sejak lima tahun lalu saya mencoba untuk tidak egois. Pernah membuat orangtua sedih pada masa SMP dan SMA dengan kelakuan mogok sekolah membuat saya merasa bersalah dan ingin menebusnya.

Masuk kuliah saya ingin masuk jurusan Komunikasi karena tertarik dengan jurnalistik. Sudah diterima di kampus swasta namun akhirnya diterima di kampus negeri akhirnya memilih kampus negeri. Merelakan untuk menjadi guru dengan mata pelajaran yang bisa buat "gagah–gagahan" karena tidak semua orang bisa menguasainya. Bahasa asing yang saya pelajari di bangku kuliah ternyata sulit dan tidak semudah bayangan saya.

Ilustrasi./Copyright pexels.com

Namun pada akhirnya saya bersyukur karena ditempatkan di jurusan itu. Tanpa saya pindah universitas dan tetap meneruskannya saya punya kesempatan untuk mempelajari jurnalistik bahkan di tingkat fakultas dengan bekerja sebagai reporter di fakultas tempat saya belajar.

Saya selalu yakin kalau doa–doa atau keinginan yang saya inginkan kadang tidak dibayar kontan langsung oleh Allah namun harus ada proses yang membersamai. Jatuh waktu kuliah pernah, diminta cuti oleh keluarga pernah karena merasa saya sudah mulai berat melaluinya, tapi saya bersikeras tetap aktif kuliah karena memikirkan waktu yang akan terbuang percuma karena saya kembali tidak kuliah dan nganggur.

Pahlawan–pahlawan saya yang paling berjasa selama masa studi ini tentu saja orangtua yang sudah berkorban banyak. Bapak yang dalam diamnya selalu mengerti anak ragilnya ini, dengan antusias bertanya apa saya ingin kerja di lapangan karena melihat saya begitu enjoy sebagai reporter, lalu ibu yang selalu mendengar keluh kesah saya ketika sedang down dan butuh dukungan. Walaupun beliau sering juga ikut menangis ketika saya sedih dan saya rasa sedihnya ibu pasti lebih-lebih dari sedihnya kita. Dan herannya lagi saat ini ibu saya masih percaya kalau saya masih mampu meneruskan kuliah pasca sarjana. Saya memang ingin tapi kalau bisa yang gratis dan tanpa biaya. Doakan saja ya kalau rezekinya.

(vem/nda)