Kehilangan Sebelah Sayap Bukan Berarti Akhir dari Segalanya

Fimela16 Agu 2018, 13:45 WIB
Ilustrasi./Copyright pexels.com

Apakah ada sosok pahlawan yang begitu berarti dalam hidupmu? Atau mungkin kamu adalah pahlawan itu sendiri? Sosok pahlawan sering digambarkan sebagai seseorang yang rela berkorban. Mendahulukan kepentingan orang lain daripada diri sendiri. Seperti kisah sahabat Vemale yang diikutsertakan dalam Lomba Kisah Pahlawan dalam Hidupmu ini. Seorang pahlawan bisa berasal dari siapa saja yang membuat pengorbanan besar dalam hidupnya.

***

Aku bersyukur, untuk semua yang telah aku miliki sekarang, terima kasih karena engkau hadir dalam hidupku. Terima kasih untuk semua hal yang telah kau beri dan lakukan untukku. Terima kasih untuk waktu yang telah engkau habiskan untukku.

Terima kasih untuk perjuanganmu selama ini.
Terima kasih untuk kasih sayang yang kau curahkan untukku.
Terima kasih atas semua cinta dan perhatianmu.
Terima kasih telah menjadi sandaranku selama hidupku.
Terima kasih atas bantuan, sanjungan, kerja keras, masukan, terima kasih belahan sayapku karena telah membantuku menjadi “aku” yang sekarang.

Ilustrasi./Copyright pexels.com

Maaf karena aku belum bisa membahagiakanmu sepenuhnya. Maaf karena belum mampu berbuat terbaik untukmu, dan maaf atas segala keluhan, kekurangan, dan kemalasan yang telah aku lakukan. Maaf karena belum bisa menjadi “sesuatu” yang bisa kau banggakan.

Maaf atas segala kesusahan yang aku akibatkan. Maaf karena belum bisa membalas semua yang telah engkau berikan padaku dan rasanya memang tidak mungkin aku mampu membalas lebih dari yang telah kau berikan padaku. Tapi aku berharap semoga aku bisa menjadi dan melakukan “sesuatu” dan “segala” yang bisa membuatmu bangga, bahagia, dan senang.

Aku berharap selalu menghiasi wajahmu dengan senyuman dan kebahagiaan. Aku berharap bisa menjadi yang terbaik untukmu. Duhai, belahan sayapku, jika dulu aku memiliki belahan sayap yang lengkap, kini tersisa hanya engkau yang aku harap aku masih bisa dan dapat terbang meski hanya sisa engkau belahan sayapku. Duhai belahan sayapku yang telah lepas. Aku berharap dengan kembali dan kepergianmu engkau bahagia di sana. Semoga kita kelak bisa bersua kembali di tempat terindah di sana.

Ilustrasi./Copyright pexels.com

Ya, begitulah kehidupanku yang sekarang, ayahku telah pergi untuk selamanya sejak umurku baru beranjak 17 tahun yang kata orang sweet seventeen. Entahlah, di umur itu aku harus kehilangan orang yang sangat berarti dalam hidupku. Seperti dua buah sayap yang salah satunya telah lepas dariku. Kini hanya dia (ibuku) sayapku yang tersisa yang membantu aku untuk bangkit dan melewati setiap cobaan yang kurasa.

Serasa mimpi kejadian yang menimpaku saat aku baru menginjak kelas tiga SMA. Mimpi buruk dan aku berharap segera bangun dari mimpi itu. Tapi ternyata itu real dan nyata di depan mataku. Kini sebelah sayapku telah patah dan pergi untuk selamanya. Sesedihnya aku, aku yakin ibu belahan sayapku jauh lebih sedih ditambah beliau harus menghidupi aku dan adikku yang saat itu baru naik kelas lima sd.

Saat masih di umur remaja seperti itu tak banyak yang bisa kulakukan untuk menguatkan ibu. Sering saat rasa rindu itu datang, tak sadar kami berdua menitikkan air mata saat mengenang sosok ayah. Tapi yang namanya kehidupan harus tetap berlanjut.

Ilustrasi./Copyright pexels.com

Sosok ibuku harus berjuang sendiri untuk mengurus kami berdua sampai saat aku lulus SMA. Aku diterima lulus di salah satu kampus ternama di ibukota provinsiku. "Itu adalah kesempatan emas," kata pamanku yang tidak boleh aku lewatkan. Aku bersyukur bisa lulus, namun di sisi lain aku sedih karena jika aku kuliah di sana itu berarti aku harus berpisah dengan ibu. Ya, ibu. Bukan hanya aku yang sedih, ibu juga pasti merasakan kesedihan yang sama tapi beliau tetap berusaha untuk tidak menunjukkan rasa sedih itu di hadapanku.

Beliau bahkan menguatkanku dan mengatakan, “Kamu harus melanjutkan kuliahmu karena ibu dulu tidak bisa melanjutkan sekolah ibu ke jenjang yang lebih tinggi." Perkataan dan motivasi ibu membuatku kuat untuk melanjutkan kuliah di sana, meski harus berpisah jauh dari ibu.

Lama setelah aku kuliah aku baru tahu dari cerita ibu ke orang lain kalau sebenarnya saat itu ibu sangat sedih bahkan beliau pernah berkata rasanya seperti orang yang dibuang harus berpisah jauh dariku. Tapi itu dulu, saat awal-awal aku menginjakkan kaki di kampus. Seiring dengan waktu kami sama-sama bisa saling menguatkan dan lupa membuat kami kuat dan tegar melewati hari-hari paling menyedihkan dalam hidup keluarga kami, saat-saat aku harus kehilangan belahan sayapku itu.

Belahan sayapku yang lainlah yang menguatkan aku untuk tetap terbang meraih mimpi-mimpiku. Terima ibu untuk semua doa, dukungan, dan kasih sayangnya. Terima kasih atas cinta ibu padaku.




(vem/nda)