Trauma Melahirkan karena Keadaan Pinggul Sempit

Fimela01 Sep 2018, 17:00 WIB
Ilustrasi./Copyright pixabay.com

Aku seorang ibu rumah tangga dengan satu anak dengan pernikahan yang sudah berlangsung 9 tahun dengan suamiku. Keinginan mempunyai satu orang anak lagi tentunya selalu kami idam-idamkan seperti halnya keinginan anakku yang ingin mempunyai seorang adik. Namun sampai saat ini aku masih agak trauma dengan proses persalinan 8 tahun lalu.

Ilustrasi./Copyright pixabay.com

Berawal dari proses melahirkan yang cukup sulit karena keadaan pinggulku yang agak sempit, sehingga membuat segala macam cara diusahakan oleh bidan saat itu untuk mendapatkan persalinan secara normal. Dan akhirnya anakku terlahir dengan persalinan normal. Meskipun buat saya, persalinan caesar ataupun normal itu sama saja, semua butuh pengorbanan. Hanya saja, aku cukup kurang nyali ketika beberapa tetangga bercerita tentang pengalaman caesar-nya hehe.

Itulah sebabnya, aku masih agak trauma dengan persalinanku yang dengan keadaan pinggul sempit. Hal ini berimbas kepadaku yang belum mau "membuatkan" seorang adik untuk anakku.

Ilustrasi./Copyright pixabay.com

Rasa lelah dalam keadaan seperti ini adalah ketika setiap orang bertanya dengan pertanyaan yang sama, "Kapan di'bikin'kan adik?"
Duh, sampai saat ini aku sangat bersyukur sudah dikaruniai anak. Hanya saja, kenapa aku setrauma ini, semoga suatu saat rasa trauma ini bisa hilang dan anakku mempunyai seorang adik. Ya, pertanyaan kapan yang selalu diulang-ulang di lingkungan kita saat kita bertemu orang,  terkadang membuat kita jenuh. Yang pasti, jadilah manusia yang senantiasa bersyukur, amin.

(vem/nda)