Setiap Pasangan Pasti Ingin Buah Hati, Tapi Semuanya Ada Waktunya Sendiri

Fimela05 Sep 2018, 19:00 WIB
Ilustrasi./Copyright pexels.com

Duh, udah setengah tahun nikah kok nggak hamil hamil sih? Jangan-jangan mandul ya?”

Entah pertanyaan atau sindiran yang pas untuk menggambarkan kalimat di atas. Yang jelas, hati saya hancur saat mendengar kalimat itu dilontarkan oleh saudara sendiri. Namun, dukungan suami menjadi kekuatan tersendiri bagi saya.

Saya masih ingat betul suami saya menguatkan saya dengan pelukan hangat dan ucapan lembutnya, “Jangan didengarkan omongan begitu, jangan masukkan ke dalam hati, mungkin dia iri padamu. Ingat sayang, Allah lebih tahu apa yang terbaik untuk kita. Termasuk mempercayakan buah hati pada kita. Pasti akan ada saatnya, saat-saat indah kita bisa memiliki buah hati."

Ilustrasi./Copyright pexels.com

Ucapan dan dukungan suami menjadi obat dan penyemangat hati yang hancur. Saya dan suami memang bersepakat tidak menunda untuk memiliki buah hati setelah menikah. Karena kami ingin saat si kecil dewasa kami masih bisa memberikan dukungan moral dan materi untuk masa depannya kelak.

Setelah menikah, saya dan suami mengikuti program kehamilan. Bukan tanpa sebab, kami hanya ingin memastikan bahwa kondisi kami berdua memang sehat dan tidak ada kendala untuk memiliki anak.

Bulan demi bulan kami menanti hadirnya si kecil dalam rahim, saat datang bulan telat aku bergegas melakukan test pack. Namun 11 bulan berlalu setelah kami mengikuti program kehamilan, hasilnya selalu negatif. Suami kembali menguatkan, “Sabar sayang, mungkin belum saatnya.”

Hingga datang usia pernikahan memasuki satu tahun, aku mengalami telat datang bulan hingga 2 minggu. Karena aku takut kecewa lagi, aku tak melakukan test pack. Hingga tanda-tanda kehamilan semakin jelas. Aku mengalami morning sicknessdan mudah merasa lelah.

Suamiku segera membawa ke dokter kandungan langganan. Alhamdulillah,ternyata benar Allah telah mempercayakan kami untuk menjadi seorang ibu dan juga ayah. Kami sangat bahagia, betul-betul bahagia. Karena penantian dan perjuangan satu tahun ini terbayarkan juga dengan kehadiran si kecil dalam rahim ku. Dan hadirnya si kecil menjadi hadiah terindah di usia pernikahan pertama kami.

Aku dan suami betul-betul sangat menjaga agar si kecil dalam kandungan selalu sehat. Aku selalu cukupi kebutuhan nutrisi terbaik untuk si kecil. Suami pun begitu memperhatikan kondisiku. Hingga ia rela mengerjakan pekerjaan rumah yang seharusnya kukerjakan. Betul-betul kehamilan yang bahagia kujalani.

Hingga saat yang dinantikan pun tiba, kami akhirnya bisa bertemu dengan si kecil Aini lewat persalinan normal pada 22 Oktober 2016 pukul 20:45 WIB. Hadirnya buah hati melengkapi kebahagiaan kami sebagai suami istri.

Ilustrasi./Copyright pexels.com

Orangtua dan saudara ikut bahagia dan menyambut kelahiran buah hati kami. Dan kami sebagai orangtua pastinya lebih merasa bahagia dan sempurna. Namun tetap saja, saudaraku yang sebelumnya menyinyir dengan tanpa alih-alih melontarkan kalimat yang membuat dada sesak. “Cie selamat ya, akhirnya bisa juga punya anak. Kapan nih nambah lagi anaknya?”

Masya Allah,si kecil saja masih merah dan ia sudah menanyakan pertanyaan “kapan” lagi yang membuat dada sesak. Kala itu, aku hanya bisa tersenyum simpul dan menjawab, “Kami lebih tahu apa yang terbaik untuk keluarga kami, kami akan merencanakan kehadiran anak ke-2 dengan baik. Saat kami merasa mampu, dan Allah berkehendak Insya Allah akan ada saatnya.”

Seketika itu juga, saudaraku itu tidak menjawab sepatah kata pun. Ia hanya terdiam dengan muka memerah.

Setiap pasangan pasti menginginkan kehadiran buah hati. Hanya semuanya itu ada waktunya. Buat yang masih belum dikaruniai anak, nikmati masa-masa kebersamaan kalian berdua sebagai pasangan suami istri. Nikmati masa pacaran halal kalian dengan pergi berlibur berdua atau ngedate nonton midnight di bioskop. Karena setelah kehadiran si kecil yang menjadi prioritas utama adalah si kecil dan pastinya kalian tidak akan tenang tuh ngetrip berdua atau ngedate berdua tanpa si kecil. Enjoy your moment.

(vem/nda)