7 Hal Penting untuk Dipersiapkan Sebelum Menikah Agar Tidak Over Budget

Fimela17 Sep 2018, 15:00 WIB
Ilustrasi./Copyright pexels.com

Lagi sibuk menyiapkan pernikahan? Atau mungkin punya pengalaman tak terlupakan ketika menyiapkan pernikahan? Serba-serbi mempersiapkan pernikahan memang selalu memberi kesan dan pengalaman yang tak terlupakan, seperti tulisan sahabat Vemale dalam Lomba Menulis #Bridezilla ini.

***

Halo Redaksi Vemale.com,

Rasanya senang ada kesempatan untuk berbagi pengalaman menyiapkan pernikahan dan pastinya banyak bridezilla di luar sana yang sama-sama pernah atau mungkin sedang di fase yang penuh dengan kebahagiaan sekaligus berurai air mata.

Setelah akhirnya memutuskan akan menikah dengan calon suamiku saat itu (saat ini finally sudah menjadi calon Ayah dari bayi kecil kami, mohon doanya semua), calon suami dan keluarga inti datang ke rumah orangtuaku untuk mengungkapkan maksud mempersuntingku. Kami tidak membuat acara lamaran khusus, hanya ngobrol kedua keluarga inti saja.

Ilustrasi./Copyright pexels.com

Aku ingat betul saat itu adalah bulan Desember dan kami berencana untuk menikah pada bulan Agustus tahun depannya. Setelah pembicaraan berjalan lancar, hal yang kami berdua persiapkan adalah penentuan budget pernikahan yang keputusannya masing-masing dari kami berdua akan menanggung sama besar biayanya. Tentu saja ini biaya pribadi kami berdua, dikarenakan saat itu kondisi keluarga kami tidak memungkinkan untuk ikut men-support kami secara materi.

Lalu akhirnya kami menyepakati sejumlah nominal dan sama-sama memutar otak untuk merancang pernikahan kami dengan budget maksimal yang telah kami sepakati. Hal pertama yang kulakukan adalah mencari venue pernikahan yang menerima paket pernikahan (biasanya ada yang include venue, catering, dekorasi, band, electric).

Hal kedua adalah mencari teman yang suka memotret dan bisa men-support dokumentasi pernikahan kami tanpa harus mencetak hasil fotonya, sehingga biaya bisa ditekan.

Hal ketiga mencari MUA yang bersedia merias saja.

Hal keempat adalah mencari bahan baju pengantin (satu saja untuk resepsi, karena akad kami memutuskan melakukan di KUA dan pada hari biasa sehingga biayanya free).

Hal kelima mencari penjahit gaun dan suit yang harganya juga terjangkau.

Hal keenam mencari souvenir yang bisa multi fungsi dan harganya pun terjangkau.

Hal ketujuh adalah mencari percetakan undangan yang minimal pemesanannya boleh hanya 150 pcs saja namun harganya tidak menjadi terlalu mahal.

Ilustrasi./Copyright pexels.com

Tapi tentu saja rencana itu semua tidak berjalan mulus begitu saja. Ini adalah bagian dari drama yang terjadi. Ketika sudah menemukan venue yang cocok dan melakukan DP untuk membook tanggal, tiba-tiba calon suamiku mendapat pekerjaan yang membuatnya tidak boleh menikah selama masa calon pegawai yaitu minimal 1 tahun.

Hal ini tentu membuat pernikahan kami harus ditunda kurang lebih 1 tahun lamanya dari rencana awal dan tentu saja harga paket pernikahan akan meningkat. Tapi ini pasti jalan terbaik yang Maha Kuasa berikan kepada kami. Setelah cemas menanti masa calon pegawai, akhirnya sudah terlihat hilal pengangkatan pegawai dan rencana pernikahan dapat kami lanjutkan.

Baju pengantin yang kujahit, itu akan menjadi sangat mahal apabila dengan jasa pemasangan payet, sehingga aku memutuskan mencoba memasang payet sendiri di baju pengantinku. Mulailah aku mencicil pemasangan payet di baju pengantin. Memang hasilnya tidak sebagus dilakukan oleh ahlinya, tapi kurasa cukup dan tentu menekan budget adalah yang utama.

Ilustrasi./Copyright pexels.com

Souvenir kami menemukan vendor yang cukup affordable dilakukan secara online, walau agak deg-degan tapi akhirnya dengan modal bismillah kami memesan souvenir via online. Alhamdulillah souvenir datang dan sesuai dengan harapan.

Undangan setelah melakukan pencarian kami menemukan percetakan yang tidak ada minimal jumlah namun lokasinya jauh dari domisili kami, tapi akhirnya kami memutuskan untuk tetap memesan ke sana. Sayang mungkin karena ini adalah tempat percetakan yang bukan hanya khusus undangan, proses design agak lama dan hasil kurang memuaskan.

Kalau kami menunggu untuk dikirim desain baru tentu akan memakan waktu. Akhirnya dengan modal nekad amatir, aku mencoba mempelajari membuat desain undangan dengan Corel Draw lewat YouTube dan Google, sehari penuh aku berupaya dan alhamdulillah desain undangan selesai tinggal proses cetak.

Waktu semakin dekat, waktunya kami mempersiapkan surat-surat untuk pencatatan sipil. Kebetulan aku tidak tinggal bersama orangtua sehingga semua surat harus aku yang mengurus sampai dengan penyerahan ke KUA harus aku lakukan sendiri. Tapi aku yakin, pengalaman ini akan menjadi sangat berharga untukku.

Seminggu sebelum hari H, ayahku terkena serangan jantung dan tentu hal ini sangat membuatku sedih dan khawatir. Tentu saja ada kekhawatiran ayahku tidak bisa menjadi wali di pernikahanku. Sekali lagi, Yang Maha Kuasa menunjukan kasih sayangnya, ayahku sembuh dan bisa mendampingiku saat menikah.

Selain masa-masa mempersiapkan, hal yang sangat teringat adalah masa-masa mengumpulkan biaya, hehe. Tentu saja kami berdua harus ekstra bekerja keras agar dalam jangka waktu sekian, biaya untuk melunasi semua kebutuhan dapat terlaksana. Akhirnya untuk pertama kali aku membuat pembukuan yang betul-betul konsisten aku jalankan agar tabungan bisa segera menggembung.

Ilustrasi./Copyright pexels.com

Aku membuat batasan “jajan” harian dan bulanan yang bagaimana caranya tidak boleh melebihi budget yang aku sediakan untuk keperluan tersebut. Dadah sementara untuk makan di café, dadah sementara untuk menonton bioskop dan beli popcorn caramel favoritku di sana, sampai ketemu lagi weekend liburan. But it’s all worth it at the end.

Selama masa persiapan kami memang melakukan semua hanya berdua saja, namun pada hari H semua keluarga kami tentu ikut membantu terlaksana dan menjaga kelancaran acara hari H.

Terima kasih untuk semua pihak yang telah menemani, berbagi cerita dan tentu memberi kami support baik materi dan tenaga agar pernikahan sederhana impian kami ini akhirnya terwujud.

(vem/nda)