Ibu Mertua Angkat, Ia Berlidah Pedang Tapi Berhati Sutra

Fimela18 Sep 2018, 10:45 WIB

Lagi sibuk menyiapkan pernikahan? Atau mungkin punya pengalaman tak terlupakan ketika menyiapkan pernikahan? Serba-serbi mempersiapkan pernikahan memang selalu memberi kesan dan pengalaman yang tak terlupakan, seperti tulisan sahabat Vemale dalam Lomba Menulis #Bridezilla ini.

***

Hari pernikahan untuk sebagian orang pasti adalah hari yang terindah. Aku juga merasakannya, betapa bahagianya hari pernikahan itu. Tapi tidak seperti sebagian orang yang dipenuhi suka cita. Hari di mana aku mengikrarkan janji bersama, ternyata hari di mana ada tangis yang memilukan. Waktu itu usiaku hendak menginjak 23 tahun, dan sekarang aku sudah berusia 26 tahun. Dari pernikahanku, kami sudah dianugerahi satu orang putra dan satu orang putri.

Suamiku memiliki hubungan yang kurang dekat dengan kedua orangtuanya. Dia anak pertama dari 9 bersaudara. Ya, cukup banyak saudara memang kalau kita melihat di zaman sekarang. Tapi bukan itu masalahnya. Dari kecil dia ganti-ganti tempat tinggal. Kadang dengan Ibu kandungnya yang berperangai sangat kasar, kadang dengan nenek kakek dari Bapaknya dengan keislaman yang sangat baik.

Ilustrasi./Copyright unsplash.com

Kakek suamiku memiliki 4 orang istri, salah satunya seorang perempuan yang sangat baik, asli Jawa Timur dengan perangai kasar tapi berhati lembut. Dia sebatang kara, orangtuanya meninggal sejak dia kecil dan tidak memiliki sanak saudara. Menikah dengan kakek suamiku yang sudah beristri, mereka tidak dikaruniai keturunan. Tetapi Ibu menganggap suamiku sebagai anak kandungnya. Setelah Ibu dan kakek suamiku bercerai, suamiku dan ibu angkatnya pindah dari Jakarta ke tempat tinggal kami sekarang. Tidak ada satu orang pun yang tahu bahwa mereka adalah anak dan ibu angkat.

Sampai akhirnya di hari pernikahanku, tangisan ibu angkat suamiku sangat memilukan hatiku. Di hari itu, tetangga suamiku yang ikut ngebesan baru tahu bahwa ibu yang selama ini dikenal, bukanlah ibu kandung suamiku. Dia dipermalukan, bahkan ada tetangga yang sempat marah karena merahasiakan hal ini. Tetangga dan saudara-saudaraku melihatnya, dan itu jadi perbincangan. Saat resepsi, rasanya ingin kupeluk ibu angkat suamiku, meredakan tangisannya. Tetapi di sana ada ibu kandung suamiku yang baru pertama kulihat di pernikahanku.

Sampai saat ini, seatap dengan ibu mertua angkat bukanlah hal yang menakutkan bagiku. Bagiku, dia tidak seperti ibu mertua angkat tetapi sudah kuanggap seperti ibu kandungku sendiri. Hanya kerikil-kerikil kecil yang sedikit kami lewati. Terlalu banyak kebaikannya yang tidak akan pernah bisa aku balas.

Ilustrasi./Copyright unsplash.com

Hari itu, adalah hari aqiqah anak pertamaku. Ibuku, saudara-saudaraku, teman-temanku, ibu kandung suamiku dan saudara-saudara suamiku hadir. Hanya masalah sepele, ibu angkat dimaki-maki oleh ibu kandung suamiku di depan semua orang. Semua tetangga, keluar dan peristiwa itu jadi tontonan warga. Suamiku mencoba meredakan amarah ibu kandungnya, tetapi amarahnya kian menjadi. Malu sangat rasanya hari itu. Aku bimbang, ibu angkat adalah ibu yang sangat baik, yang hanya ingin membantu kami mengurus kami dan anakku. Tetapi di sisi lain, ibu kandung suamiku adalah ibu yang mengandung dan melahirkan suamiku.

Empat tahun menikah, setiap kali kami ingin pulang kampung menemui keluarga, ibu angkat sering bermuram, seolah tidak merelakan kami pulang. Aku tahu perasaannya, ibu merasa kesepian sendiri. Dia tidak punya tujuan untuk pergi. Hanya kami teman hidupnya. Hari-hari dalam rumah tangga kami dipenuhi dengan perkataannya yang sering membuatku tidak nyaman. Tetapi satu hal yang tidak bisa ditemukan dari dia adalah hatinya yang lembut dan tulus.

Ilustrasi./Copyright unsplash.com

Aku hanya terus berdoa pada Allah agar keluarga kami dijauhkan dari perkara yang akan merusakkan keluarga kami. Dan didekatkan dengan orang-orang yang memang menyayangi kami dengan tulus.

Itulah kasih sayang seorang ibu yang sebatang kara, berlidah pedang tetapi memiliki hati selembut sutra.

Terima kasih ibu.

(vem/nda)