Pekerjaan Itu Seperti Jodoh, Harus Diusahakan Terus Biar Ketemu

Fimela19 Sep 2018, 11:15 WIB
Ilustrasi./Copyright unsplash.com

Kuliah di kampus ternama bukan berarti jaminan bahwa seluruh mahasiswa di kampusnya akan langsung memperoleh pekerjaan di perusahaan bonafide. Sesuai dengan apa yang telah kualami hampir setahun pasca menjejaki kehidupan nyata di masyarakat.

Ada begitu banyak informasi lowongan pekerjaan yang tersebar di grup Whatsapp, Facebook, Instagram maupun email. Namun kenyataannya belum ada satupun lowongan pekerjaan yang berhasil kutembus. Bukan perkara mudah sebagai penyandang gelar sarjana atau sebutan mahasiswa yang hidup di kampung dan belum memiliki pekerjaan.

“Kapan kerja?”

“Itu si A yang dulu cuma kuliah di kampus biasa saja sudah kerja.”

“Apa Kamu tidak kasihan pada orangtuamu yang sudah bayar mahal demi kuliahmu?”

Dan banyak lagi pertanyaan maupun komentar yang tidak menyenangkan bagiku.

Ilustrasi./Copyright unsplash.com

Dengan santainya mereka membandingkan diriku dengan si A atau lainnya. Bisa saja mereka langsung dapat pekerjaan karena jurusan kuliah mereka linear dengan pekerjaan yang mereka geluti. Bisa saja mereka langsung dapat pekerjaan karena mereka memiliki link atau kerabat yang dapat membantu mereka mendapatkan pekerjaan.

Bukan aku tak pernah berusaha. Pertama kali aku coba mendaftar di salah satu perusahaan yang bergerak dibidang penjualan. Kedua, aku mendaftar di perusahaan yang bergerak di bidang keuangan. Ketiga, aku mendaftar di bidang pemasaran. Keempat, aku hendak mendaftar di salah satu kantor dinas namun ternyata aku terlambat mengetahui informasi jadwal pendaftaran dan aku hanya dapat membawa berkas lamaranku kembali pulang ke rumah. Semua nihil. Kenyang rasanya mendengar cemoohan tetangga yang semakin liar dan menggerogoti semangatku.

“Makanya kalau cari pekerjaan itu jangan kebanyakan pilih-pilih.”

“Anak kuliahan sih, jadi gengsi.”

Siapa yang pilih-pilih. Siapa pula yang gengsi?

Sampai pada suatu ketika ada seorang kerabat yang menawarkan pekerjaan di perusahaan bonafide kepadaku dengan syarat mahar seharga satu unit mobil. Terang saja aku dan kedua orangtuaku menolak. Ada juga yang menawarkan pekerjaan untukku melalui perantara, dan aku diharuskan mendatangi rumahnya. Hari berikutnya aku datang ke rumah orang tersebut. Dengan sangat bersemangat, berharap mendapatkan informasi lowongan pekerjaan. Aku berjumpa dengan si empunya rumah.

“Besok saya tanyakan dulu ya. Tunggu saja minggu depan saya kabari lagi.”

Aku sangat gembira menanti kabar baik di akhir pekan depan. Namun sayang, justru yang aku alami adalah kejadian yang tidak menyenangkan. Beredar rumor di komplek tetangga, bahwa aku bukan anak yang bersyukur.

“Udah dikuliahin tapi tidak bisa berpikir kalau cari kerja itu susah. Sudah saya kasih info lowongan eh malah disepelekan. Itu si X yang kemarin saya salurkan kerja sekarang sudah dapat pekerjaan enak, gaji besar.”

Ilustrasi./Copyright unsplash.com

Kecewa sudah pasti. Kesal iya. Tapi apa dayaku. Aku merasa dijebak untuk dijadikan bahan cemoohan. Belum juga kabar lowongan itu sampai kepadaku di akhir pekan depan, tapi berita buruk tentangku disebarluaskan. Aku sudah hampir putus asa. Namun kedua orang tuaku selalu mendukung dan memberi semangat. Mereka selalu menasihatiku setiap saat. Yang paling aku ingat dari mereka adalah…

“Pekerjaan/rezeki itu layaknya jodoh, harus diusahakan terus sampai bertemu. Suatu saat nanti bila sudah tiba masanya kamu bertemu, maka akan sangatlah mudah dan hilanglah semua halang rintang menujunya.”

Akhirnya aku mendapat informasi lowongan pekerjaan pada salah satu kantor bonafide di kota. Kupompa lagi semangatku. Segera kuikuti alur pendaftaran beserta pengumpulan berkas persyaratan pendaftaran. Aku lolos administrasi. Seminggu berselang, lanjut dengan sebuah tes wawancara panjang yang bagiku terasa begitu singkat. Keesokan harinya, aku adalah satu-satunya pelamar kerja yang lolos masuk divisi yang kuinginkan.

Ilustrasi./Copyright unsplash.com

Mungkin memang sudah ditakdirkan aku bekerja di sini. Ini adalah pekerjaan terbaik dari semua calon pekerjaan yang pernah kulamar. Aku sangat bersyukur dapat membungkam prasangka buruk tetangga dan orang lain tentangku. Yang paling penting aku sangat bersyukur diberi kekuatan untuk melewati semua tantangan hampir setahun ini. Proses yang menyakitkan terkadang harus dilewati demi sebuah hasil terbaik. Sabar adalah pendukung paling mujarab.

Kini aku merasa iba apabila ada seseorang yang mengalami masa pahit sepertiku. Mereka hanya sedang berjuang menanti hal baik dalam hidupnya. Jangan sakiti, jangan terus dihakimi dengan pertanyaan kapan atau kenapa atau memberi pernyataan dengan konten komparasi antara orang satu dengan lainnya. Alangkah lebih baik jika kita memotivasi dan membantunya lepas dari masa sulitnya bukan?

(vem/nda)