Kenali Emotional Eating Sebagai Pelarian di Kala Stres

Vinsensia Dianawanti19 Des 2018, 16:30 WIB
Ilustrasi stres

Fimela.com, Jakarta Apa hal yang akan Sahabat Fimela lakukan ketika mengalami stres? Kebanyakan perempuan cenderung memilih untuk makan sebagai pelarian stres. Beberapa makanan seperti cokelat dan es krim kerap kali diidentikkan sebagai makanan yang mampu membangkitkan mood seseorang.

Tanpa disadari, kebiasaan ini daapt memicu emotional eating yang jika tidak dikendalikan dapat meningkatkan asupan gula, garam, dan lemak. Pada akhirnya akan memicu timbulnya kenaikan berat badan yang signifikan

Menurut Tara de Thouars, BA, M.Psi ada dua aspek yang memengaruhi apa yang kita konsumsi dan menentukan hubungan yang dimiliki antara makanan dan emosi. Secara psikologis, manusia memiliki insting bertahan ketika ada sesuatu yang seimbang. Ketika hal itu terjadi, manusia akan mencari sesuatu yang mampu menyeimbangkannya. Salah satunya adalah makanan.

Sementara faktor fisik, akan terjadi perubahan kimiawi dalam otak ketika tubuh mengalami stres. Di mana hormon dopamine dan serotonin akan menurun ketika stres dan membuat mood menjadi buruk.

Hubungannya dengan makanan, Tara menjelaskan bahwa makanan dengan lemak, garam, dan kalori tinggi akan meningkatkan dopamine dan serotonin. Dari segi efek psikologi, hal ini membuat makanan menjadi penenang.

Akibat emotional eating

Ilustrasi stres
Kenali Emotional Eating Sebagai Pelarian di Kala Stres (Unsplash.com/Neonbrand)

Tara menuturkan tidak masalah jika menjadikan makanan sebagai pelarian dari stres. Yang menjadi masalah adalah jika hal ini dilakukan secara berlebihan. Selain berakibat pada kenaikan berat badan yang cukup signifikan dan obesitas, emotional eating sendiri akan menimbulkan gangguan bulimia dan binge eating.

Bulimia disebabkan karena rasa bersalah setelah mengonsumsi banyak makanan. Setelah makan yang banyak, penderita Bulimia membutuhkan solusi untuk mengatasi rasa bersalah atau menyesalnya. Sehingga akan langsung mengeluarkan kembali makanan yang telah ia makan.

Sementara binge eating merupakan pola konsumsi makanan yang meningkat secara drastis akibat stres. Di mana seseorang akan makan dengan kalap karena merasa stres. Ia pun akan merasa bersalah setelah mengonsumsi banyak makanan. Namun biasanya binge eating tidak memberikan reaksi langsung atas rasa bersalahnya tersebut.

Mengatasi emotional eating diperlukan edukasi kepada indivisu terkait cara pandang yang sehat pada makanan. Selain membangun pola makan yang lebih baik, mengenali pemicunya, dan membangun langkah-langkah tepat untuk menghadapi stres.

Tara menyarankan bahwa harus memutuskan kebutuhan makan yang tepat. Lebih jeli untuk memperhatikan apakah yang perlu mengonsumsi makanan atau tidak.

"Kalau lapar fisik, masih bisa dikendalikan dan makan jenis apapun. Sementara lapar emosi, tidak bisa dikendalikan dan hanya makan hanya yang benar-benar diinginkan," ujar Tara de Thouars.

Lanjutkan Membaca ↓