Ini Sejarah Jadah Tempe Khas Yogja yang Jadi Camilan Raja

Febi Anindya Kirana10 Jan 2019, 13:20 WIB
tempe bacem

Fimela.com, Jakarta Jika pergi ke Yogja untuk liburan atau berbagai urusan, jangan lupa menyempatkan diri mampir ke berbagai warung makan di sana. Ada banyak camilan khas yang tak akan bisa ditemui ketika pulang ke kota asal, salah satunya adalah jadah tempe.

Jadah tempe adalah kombinasi antara tempe bacem dan jadah yang terbuat dari ketan putih yang dipukul-pukul hingga halus. Dilansir dari Njogja, jajanan tradisional ini berasal dari Kabupaten Sleman, tepatnya berasal dari daerah Kaliurang di lereng Gunung Merapi. Terkadang masih dibungkus daun pisang ketika membelinya.

Ada kalanya jadah juga diberi parutan kelapa agar gurih sebagai teman makan tempe bacem. Rasa gurih dan manis dari tempe bacem menciptakan kombinasi camilan yang unik dan mengenyangkan. Untuk yang suka pedas, bisa menambahkan dengan cabai rawit. Jadah tempe muncul sebagai jajanan sudah sangat lama.

Pertama kali dijual oleh Mbah Carik atau yang bernama asli Sastro Dinomo di Kaliurang jauh di tahun 1950an. Makanan ini semakin populer ketika Sultan Hamengkubowono IX menyukai makanan ini. Beliau sering mengutus pengawalnya untuk membeli jajanan ini ke Kaliurang sehingga banyak kerabat keraton yang penasaran dan ikut membelinya.

Seiring berjalannya waktu, jadah tempe semakin diminati masyarakat umum dan bahkan menjadi makanan khas Kaliurang. Kini tak hanya di Kaliurang saja jadah tempe bisa ditemukan, di banyak kawasan Yogja juga sudah mulai banyak yang menjualnya, seperti misalnya di Pasar Beringharjo atau sekitar jalan Malioboro. Harganya juga terjangkau.

Jadi, ketika mengunjungi Jogja dan mencoba jadah tempe, kini sahabat Fimela tahu seperti apa sejarah dari camilan ini ya.