Di Tengah Depresi Itu, Tuhan Masih Memberi Kesempatan untuk Bertahan

Endah Wijayanti23 Jan 2019, 13:15 WIB
kesempatan

Fimela.com, Jakarta Apapun mimpi dan harapanmu tidak seharusnya ada yang menghalanginya karena setiap perempuan itu istimewa. Kita pun pasti punya impian atau target-target yang ingin dicapai di tahun yang baru ini. Seperti kisah Sahabat Fimela ini yang kisahnya ditulis untuk mengikuti Lomba My Goal Matters: Ceritakan Mimpi dan Harapanmu di Tahun yang Baru.

***

Oleh: Adytya Fitriani - Bandung

Saya pernah membaca perkataan orang sukses, “Buatlah tema setiap menyambut tahun yang baru agar semangatmu lebih mengebu gebu,” begitu tulis orang tersebut. Saya memutuskan tema untuk 2019 ini adalah tahun kebangkitan.

Tahun 2018 lalu meski saya tidak memberikan tema di awal tahun, saya menganggap tahun tersebut adalah tahun permulaan. Kenapa saya memberikan 2018 permulaan dan tahun ini adalah kebangkitan? Karena 2016 hingga pertengahan 2018 adalah masa-masa terkelam, tersulit, dan bahkan sempat membuat saya depresi.

Akhir 2016, Ibu saya meninggal dunia karena kanker payudara. Terlambat diketahui sehingga tidak sempat ditangani. Ibu hanya sempat dirawat di rumah sakit selama sebulan sebelum akhirnya menghembuskan napas terakhir. Ayah saya menyusul sebelas bulan kemudian, disusul dengan berbagai masalah utang piutang. Saya sebagai anak tunggal benar-benar stres. Diberikan beban yang begitu berat.

 

[Bintang] Cewek
Ilustrasi. (via. Medscape)

Tapi mungkin Tuhan masih memberikan kesempatan saya untuk bertahan. Sempat merasa begitu jauh dari-Nya, salat terasa hampa, mengerjakan segala sesuatu yang berhubungan dengan-Nya terasa hambar, bahkan bulan Ramadan 2017 saya hanya berhasil membaca 9 juz Al Quran juga meninggalkan hampir semua sunnah. 2018 saya mulai kembali menemukan kehadiran-Nya. Titik baliknya adalah Ramadan 2018. Saat itu saya begitu semangat menjalankan ibadah puasa, menjalankan sunnah-sunnah, bahkan berhasil mengkhatamkan Al Quran di pertengahan Ramadan.

Kebangkitan. 2019 ini saya mencoba bangkit dari semua keterpurukan saya. Mulai mencoba mengikhlaskan segala sesuatu. Bahkan saya merelakan melepas seseorang yang telah berada di samping saya selama nyaris dua tahun. Alasannya sederhana: karena agama. Banyak hal yang membuat saya justru menjauh dari Tuhan karena bersama dengannya. Bahkan di saat saat terpuruk saya, saya lebih memilih dia dibanding menghabiskan sepertiga malam saya untuk bercerita pada Tuhan. Jangankan perkara seperti itu, salat lima waktu saja kadang saya tinggalkan.

move on
Ilustrasi./Copyright pexels.com/@minan1398

Banyak mimpi yang dulu belum tercapai, saya tulis sebagai dreams goals saya tahun ini. Lulus ujian Noryouku Shiken level 2. Menyelesaikan project naskah novel yang sudah bertahun-tahun saya telantarkan. Menginvestasikan sebagian uang hasil kerja saya. Membaca lebih dari 60 buku. Menurunkan berat badan hingga 55 kilogam (tahun lalu akhirnya saya berhasil menurunkan berat badan saya yang semula hampir obesitas menjadi sedikit di atas normal. Pencapaian yang sudah saya tulis selama bertahun-tahun akhirnya terwujud). Menjadi bookstagramer (cita cita dari zaman kuliah yang belum kesampaian hingga saat ini).

Yang paling penting dari semua dream goals yang saya buat adalah saya ingin iman saya semakin diperkuat. Kenapa? Karena punya banyak mimpi tanpa dekat dengan-Nya, akan sulit untuk meraih mimpi-mimpi tersebut. Karena saya adalah orang yang percaya bahwa mimpi baru akan tercapai setelah berusaha, berdoa, dan percaya akan usaha dan doa kita.