Hidup Hanya Sebentar, Jadilah Bermanfaat!

Endah Wijayanti25 Feb 2019, 10:47 WIB
Diperbarui 25 Feb 2019, 10:47 WIB
kelebihan kekurangan ISTJ

Fimela.com, Jakarta Nasihat orangtua atau tradisi dalam keluarga bisa membentuk pribadi kita saat ini. Perubahan besar dalam hidup bisa sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai dan budaya yang ada di dalam keluarga. Kesuksesan yang diraih saat ini pun bisa terwujud karena pelajaran penting yang ditanamkan sejak kecil. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba My Culture Matters: Budayamu Membentuk Pribadimu ini.

***

Oleh: Rizki Dewi Nareswari - Salatiga

Nasihat Sederhana yang Membuatku Bahagia

Terlahir di keluarga yang menjujung tinggi nilai kejujuran membuat perilakuku terbentuk sedemikian rupa. Sebelumnya perkenalkan namaku Dewi. Aku terlahir di daerah yang terkenal memilki suku paling bahagia di Indonesia. Iya, benar suku Samin di daerah Blora, Jawa Tengah. Meski keluargaku bukan asli suku Samin namun karena daerah tempat tinggal keluargaku berdekatan, membuat keluargaku sedikit terpengaruh ajaran suku Samin tersebut, yang dibuat oleh “Suro Sentiko”.

Memang benar jika ajaran-ajaran tersebut diterapkan membuat hidup menjadi tentram atau dalam bahasa jawa anyem atine. Beberapa ajaran yang dianut oleh suku Samin adalah, menjujung tinggi nilai kejujuran, rendah hati terhadap semua orang, melarang perkelahian, tidak berdagang (mayoritas suku Samin adalah seorang petani), bersyukur di setiap keadaan (nrimo ing pandum). Terlihat ajaran-ajarannya wajar dan biasa memang, namun semua suku Samin mematuhi ajaran-ajaran tersebut, karena mereka beranggapan hidup hanya sebentar, kalau bisa jadilah bermafaat untuk makhluk hidup disekitar kita. Bukan malah meresahkan dengan perbuatan yang tidak pantas dilakukan seperti mencuri dan berkelahi.

Sederhana memang, tapi ya begitulah adanya. Mengapa di atas saya menyebutkan suku Samin merupakan suku paling bahagia. Hal tersebut lantaran hasil dari penelitian yang dilakukan oleh Havard University mengenai perilaku suku Samin, yang termasuk dalam kategori suku yang hidupnya selalu bahagia.

Hingga saat ini nasihat yang selalu ibu dan bapakku berikan padaku adalah menjunjung tinggi kejujuran. Karena dengan sikap jujur membuat hati kita merasa tentram tanpa perlu memikirkan hal lain. Beda halnya kalau kita memilki sikap berbohong, maka suatu saat kita akan terus menerus berbohong untuk menutupi kebohongan sebelumnya, seperti mata rantai yang sulit diputus. Selain sikap jujur yang diajarkan orangtua pada saya adalah rasa bersyukur terhadap Sang Maha Pencipta. Bersyukur adalah menerima keadaan yang ada dengan ati legowo dan tersenyum.

Sulit, iya memang. Namun kalau tidak dibiasakan kapan bisanya? Harus dimulai sejak dini agar terbiasa dan terbentuk perilaku sedemikian rupa. Saat ini yang saya rasakan memang benar rasa bahagia karena saya terbiasa menerapkan sikap jujur dan selalu bersyukur di setiap keadaan.

Terima kasih ibu dan bapak yang telah mengingatkanku terus menerus akan pentingnya kejujuran dan rasa bersyukur.