Tangisan Ibu Malam Itu Membentuk Pribadiku yang Sekarang

Endah Wijayanti25 Feb 2019, 17:35 WIB
Diperbarui 25 Feb 2019, 17:35 WIB
pribadiku

Fimela.com, Jakarta Nasihat orangtua atau tradisi dalam keluarga bisa membentuk pribadi kita saat ini. Perubahan besar dalam hidup bisa sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai dan budaya yang ada di dalam keluarga. Kesuksesan yang diraih saat ini pun bisa terwujud karena pelajaran penting yang ditanamkan sejak kecil. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba My Culture Matters: Budayamu Membentuk Pribadimu ini.

***

Oleh: Silvia Simangunsong - Jakarta Utara

Aku si bungsu dari empat bersaudara yang sekarang sudah berusia 26 tahun. Kami semua anak perempuan. Menurutku keluarga kami bahagia, walaupun tidak hidup dalam kemewahan tapi segala kebutuhan kami terpenuhi. Bapak bekerja, ibu bertani di sawah kakek yang lumayan jauh dari rumah. Tapi semuanya tetap baik, ibu selalu menyempatkan diri memasak sarapan dan makan siang untuk kami sebelum pergi ke sawah.

Sejak masuk sekolah kakak-kakakku sudah diajarkan mengerjakan pekerjaan rumah. Kakak pertama menyetrika baju dan memasak untuk malam hari. Kakak kedua mencuci baju dan membersihkan rumah dan yang ketiga mencuci piring sementara aku belum kebagian tugas apa-apa karena umurku yang lumayan jauh dari mereka, aku dan kakak ketigaku berjarak 6 tahun. Jadi sudah pasti aku yang paling dimanja dirumah kami.

Kami tidak pernah melihat ibu dan bapak bertengkar, belum pernah melihat bapak marah. Bahkan bapak tidak berbicara dengan nada tinggi. Kami semua mengaguminya, menghormatinya, sangat amat menyayanginya. Demikian juga dengan ibu, ibu yang tegas, cekatan, tapi berhati lembut. Semua tampak baik-baik saja, sampai tiba malam itu tiba. Malam yang luar biasa menyakitkan, sampai sekarang pun aku masih menangis bila mengingat itu.

Tak pernah terbayangkan itu adalah awal dari semua permasalahan yang ternyata sudah sangat lama ditutupi ibu dari kami. Memang aku sering mendengar orang-orang mengatakan kepadaku tentang masalah itu tapi aku hanya menganggap itu sebagai candaan saja karena setiap aku bertanya pada ibu, ibu bilang, “Itu nggak benar." Dan karena semua baik-baik saja, aku percaya dengan jawaban ibu.

Malam itu bapak terlambat pulang kerja, sampai kami semua tidur bapak belum juga pulang. Saat kami semua tidur nyenyak, tiba-tiba terdengar suara tangisan ibu. Kami semua bangun, ibu dan bapak bertengkar hebat malam itu. Aku anggap itu pertengkaran hebat karena itu pertama kalinya aku melihat mereka bertengkar. Bapak membentak ibu, ibu seolah-olah sedang meminta penjelasan akan sesuatu hal dari bapak tapi diacuhkan oleh bapak.

Aku tidak ingat apa yang mereka katakan tapi aku masih ingat jelas suasana malam itu, wajah ibu saat menangis malam itu dan wajah bapak yang penuh dengan emosi serta wajah kakak-kakakku yang hanya bisa terdiam di pintu kamar masing-masing sambil menangis melihat bapak dan ibu bertengkar. Bapak masuk ke kamar dan tidur, Ibu mengajak kami semua tidur di ruang tamu beralaskan karpet, karena kami berlima tidak muat di kamar kakak-kakakku.

Aku bertanya kepada ibu, “Bu, kenapa ibu dan bapak bertengkar? Jangan bertengkar bu, kasihan bapak.” Ibu memelukku dan berkata “Nggak, Nang. Bapak yang jahat sama kita. Kalau kalian udah besar harus bikin ibu bangga, jangan menyusahkan, mulai sekarang cuma kita aja, bapak udah nggak sama kita lagi." Nang adalah panggilang sayang di suku kami. Aku tidak mengerti maksud ibu, kami semua menangis, ibu cuma bilang, “Udah, tidurlah. Besok kalian sekolah." Kami menangis sampai tertidur malam itu. Sementara bapak sendirian di kamar.

Sejak malam itu suasana rumah tidak sebaik sebelumnya. Kami harus bantu ibu cari uang. Aku dan kakakku yang pertama, sehabis dia pulang sekolah kami akan menyusul ibu ke sawah. Sementara kedua kakakku yang lain, ibu memberikan mereka kegiatan yang menghasilkan uang yang pasti asal tidak jadi pembantu dir umah orang, mengemis, atau sejenisnya. Aku umur 8 tahun, aku baru mengerti apa yang terjadi dengan keluargaku. Bapak selingkuh dari ibu. Hatiku hancur, aku perlahan mulai menjauh dari bapak.

 

 

kepribadian
ilustrasi./copyright Pexels/Charry Jin

Waktu berjalan kami terbiasa tanpa bapak, semua permasalahan dan kebutuhan keluarga di pikul ibu. Sampai ketika aku sudah duduk di bangku SMA ibu bilang bapak sudah menikah, sudah punya anak. Anak laki-laki yang diimpikan bapak selama ini yang tidak ada di keluarga kami. Hatiku semakin hancur, aku semakin membenci bapak. Bahkan untuk melihatnya pun aku merasa jijik.

Dalam diriku aku tanamkan, “Bikin ibu bangga dan jangan bikin susah ibu." Aku berusaha selalu bikin ibu bangga, semua kakak-kakakku pergi merantau, tinggal aku dan ibu di rumah. Sambil sekolah aku juga bekerja mencari uang untuk mengurangi beban ibu. Sejak SMP aku tidak pernah meminta uang dari ibu selain untuk membayar uang SPP bulanan.

Terkadang aku iri dengan teman-temanku, mereka bisa jajan semaunya tidak seperti aku yang harus membatasi uang jajan ku agar cukup. Mereka kadang mengajakku membeli pakaian yang lagi tren saat itu tapi aku hanya bisa menemani karena aku tidak punya uang untuk ikut membeli. Sering sekali teman-temanku menawarkan meminjamkan uang padaku tapi aku menolak karena aku takut tidak bisa mengembaiikan uang tersebut. Aku harus bekerja dua kali lebih keras agar aku bisa membeli barang yang ku inginkan.

Saat SMA sesekali aku membantu temanku mengerjakan tugas mereka dan mereka membayarku dengan sejumlah uang. Aku pun pernah berpacaran tapi aku selalu berpacaran dengan teman satu sekolahku yang memiliki motor agar aku mereka mau antar-jemput aku sekolah, lumayan untuk mengirit ongkos angkot. Banyak teman-temanku yang menganggap aku cewek matre tapi aku abaikan saja. Tapi walaupun begitu aku tetap ingat pesan ibu, aku tetap berprestasi di sekolah, selalu menjadi juara satu di sekolah.

Akhirnya lulus sekolah aku merantau ke Jakarta, tak lama bagiku untuk dapat pekerjaan. Aku bekerja agar dapat membantu ibu. Aku tumbuh menjadi wanita yang kuat, yang tahan banting, yang tegas seperti ibu, yang tidak pernah menunjukkan kelemahanku di depan orang lain seperti ibu. Aku selalu menanamkan dalam diriku pesan ibu. Mau bikin ibu bangga, mau bikin ibu bahagia, mau menunjukkan ke bapak bahwa kami semua bisa berhasil (amin) tanpa dia. Wajah ibu malam itu, tangisan ibu, dan pesan ibu malam itu membentuk aku yang sekarang.