Jangan Keburu Nikah, Perbanyak Ilmu Dulu agar Bahagia

Endah Wijayanti03 Mar 2019, 08:15 WIB
keburu nikah

Fimela.com, Jakarta Nasihat orangtua atau tradisi dalam keluarga bisa membentuk pribadi kita saat ini. Perubahan besar dalam hidup bisa sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai dan budaya yang ada di dalam keluarga. Kesuksesan yang diraih saat ini pun bisa terwujud karena pelajaran penting yang ditanamkan sejak kecil. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba My Culture Matters: Budayamu Membentuk Pribadimu ini.

***

Oleh: Moh. Warits - Sumenep

Sebuah Tekad untuk Membuat Keluarga Bangga dan Bahagia

Kami sekeluarga tinggal di daerah pelosok dengan suasana lingkungan yang penuh dengan hijau dedaunan. Rata-rata penduduk daerah kami bermata pencaharian sebagai petani, ya maklum, sebab ladang dan sawah terbentang luas di daerah ini. Kesehariannya masyarakat pagi-pagi berangkat ke sawah atau ladang untuk melakukan aktivitas sebagai mana para petani lumrahnya. Dan sebelum pulang terlebih dahulu mereka menyabit rumput untuk santapan peliharaan sapi di rumahnya. Sebab rata-rata masing-masing mereka punya peliharaan.

Pun demikian keluarga saya. Ayah dan ibu begitulah setiap harinya beraktivitas di ladang. Sedang saya, kakak dan adik berangkat ke sekolah untuk menimba ilmu yang jaraknya tidak terlalu jauh.

Soal pendidikan, keluarga saya memberikan perhatian yang lebih dan diutamakan. Meskipun baik ayah dan ibu tidak ada yang mengeyam pendidikan lebih dari tingkat SMA. Kami tiga bersaudara bagaimana pun harus mengenyam pendidikan setinggi-tingginya, “Soal biaya biar Ayah yang nanggung, tugas kalian lahap ilmu sebanyak-banyaknya,” begitulah kalimat yang sering disampaikan di hadapan kami bertiga.

Tekad dan semangat ayah itulah yang terus memotivasi kami untuk belajar dengan giat dan tekun. Jika suatu waktu malas, yang kami ingat bahwa perjuangan ayah juga ibu sangat besar terhadap kami. Malas bukanlah sebuah alasan.

Sampai saat ini, kakak saya sudah berkeluarga dan sudah memiliki anak, pendidikan terakhirnya S1 jurusan PAI. Adik saya melanjutkan pendidikannya di pesantren sambil belajar ilmu agama. Sedangkan saya melanjutkan pendidikan di tempat yang jauh dari tempat lahir saya, tepatnya di UIN Yogyakarta. Sesekali jika sedang berada di dekat ayah pesannya, “Nak, di usiamu seperti sekarang ini lanjutkan pendidikanmu setinggi-tingginya. Ayah tetap yang akan mencarikan biaya, syukur-syukur jika kamu bisa mencari penghasilan sendiri. Jangan keburu nikah. Jika sudah banyak ilmu dan luas wawasan kamu akan bahagia, Nak."

Ayah selalu memberikan dukungan lebih soal pendidikan. Dalam mendidik ia lebih banyak memberikan contoh melalui perilaku. Hal itulah yang membuat kami anak-anaknya bersepakat untuk berusaha melakukan hal yang bisa membuat keluarga kami bangga dengan anak-anaknya ini dan bahagia.