Mengenang Cerita Masa Kecil: Teladan Istimewa Ibu dan Ayah

Endah Wijayanti28 Feb 2019, 06:15 WIB
Zodiak Jalan-Jalan

Fimela.com, Jakarta Nasihat orangtua atau tradisi dalam keluarga bisa membentuk pribadi kita saat ini. Perubahan besar dalam hidup bisa sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai dan budaya yang ada di dalam keluarga. Kesuksesan yang diraih saat ini pun bisa terwujud karena pelajaran penting yang ditanamkan sejak kecil. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba My Culture Matters: Budayamu Membentuk Pribadimu ini.

***

Oleh: Lucky Caesar Direstiyani - Madiun

Sedari kecil, Ibu sudah mendidikku dengan keras. Serba disiplin dan selalu bisa menjaga sikap, khususnya pada orang yang lebih tua dan saat bertamu. Punya perilaku santun dan tidak pecicilan seenaknya. Masih ingat saat duduk di sekolah dasar, tatapan Ibu seperti selalu mengawasi setiap gerak-gerikku saat bertamu di rumah sanak saudara ataupun kolega Ayah dan Ibu. Pun saat di rumah sebelum pergi, Ibu sebelumnya sudah membuat beberapa perjanjian. Pertama, jaga sopan santun, dua duduk tenang tidak pecicilan, tiga selalu habiskan minuman yang disuguhkan sebagai bentuk hormat pada tuan rumah.

Sudah terpatri kuat, maka saat bertamu akan selalu seperti itu. Pernah sekali ingin ikut bermain dengan anak pemilik rumah, langsung tatapan mata Ibu tajam mengarah padaku. Semacam berbicara dengan bahasa rahasia, aku pun langsung kembali duduk di sebelah Ibu dengan sigap. Sampai sebesar sekarang ini, aku selalu menjaga adab ketika bertamu seperti yang diajarkan oleh Ibuku sedari kecil.

Saat makan bersama pun begitu, mendahulukan orang yang lebih tua sebagai bentuk penghormatan. Tidak ada ceritanya anak kecil makan terlebih dahulu. Ketika beliau yang lebih tua sudah mengambil makan, maka selanjutnya yang lebih muda bisa mengambil bagian. Saat makan pun tidak boleh mengunyah yang menimbulkan suara, istilahnya tidak boleh “kecapan” karena dinilai tidak sopan. Berkat Ibu, aku sudah terbiasa makan dengan tenang tanpa kecapan. Pun lebih enak karena tidak mengganggu kenyamanan yang lain ketika makan bersama.

 

Zodiak
ilustrasi/copyright pixabay.com/pexels.com

Berbeda dengan Ibu, Ayah sangat santai dan tidak terlalu keras dalam mendidikku. Cukup dari kebiasaan baik yang beliau lakukan, Ayah selalu menjadi teladan yang istimewa bagiku. Sepakat jika anak kecil adalah peniru ulung. Kebiasaan baik Ayah yang menjadi teladan istimewa untukku dari kecil hingga saat ini adalah selalu ramah dengan siapapun, baik yang kenal baik ataupun tidak. Seperti contohnya saat olahraga pagi, setiap berpapasan selalu menyapa, “Mari, Pak, Bu,” khas dengan senyum lebar beliau. Tidak heran, jika rasanya kadang aku merasa sok akrab dan sok dekat dengan orang yang hanya berpapasan di jalan.

Ayah pernah berpesan, senyuman bisa membuat hari jadi lebih menyenangkan. Senyuman juga termasuk ibadah yang sangat dianjurkan. Tidak ada label sok ketika ada niat baik untuk menyenangkan orang lain. Ayah pun berpesan, jangan marah atau kecil hati jika sapaan dan senyuman tidak terbalas. Pernah sekali dua kali, namun lebih banyak terbalas dengan sapaan balik dan juga senyuman. Aku percaya, niat baik akan selalu diiringi kebaikan pula. Teladan istimewa yang terpatri kuat sedari kecil berhasil membentuk pribadiku seperti yang sekarang ini. Terima kasih, Ibu dan Ayah.