Menepati Janji pada Mendiang Ibu Tercinta

Endah Wijayanti01 Mar 2019, 10:35 WIB
Diperbarui 01 Mar 2019, 10:35 WIB
keberanian

Fimela.com, Jakarta Nasihat orangtua atau tradisi dalam keluarga bisa membentuk pribadi kita saat ini. Perubahan besar dalam hidup bisa sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai dan budaya yang ada di dalam keluarga. Kesuksesan yang diraih saat ini pun bisa terwujud karena pelajaran penting yang ditanamkan sejak kecil. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba My Culture Matters: Budayamu Membentuk Pribadimu ini.

***

Oleh: Julita Hasanah - Jember

Berbicara #MyCultureMatters atau nasihat orangtua kepada kita, jumlahnya pasti tidak terbatas. Orangtua baik Ayah maupun Ibu sudah seperti My Visible God, malaikat yang dikirim Tuhan buatku. Mereka sangat berarti dan tentunya banyak sekali nasihat dan life lesson yang sudah beliau ajarkan. Dari semua nasihat tersebut, ada nasihat yang paling melekat di hati dan menjadi guide untuk menghadapi dan melalui berbagai hal sulit. The most memorable advice comes from Ibu. Ibu adalah sosok wanita yang sangat kuat, seberat apapun beban yang beliau rasakan, jarang sekali diketahui kami, anak-anaknya. Beliau selalu ceria dan pantang menangis di depan orang lain apapun kondisinya.

Saat aku duduk di bangku Taman Kanak-kanak, Ibu dengan setia menjemputku sepulang sekolah. Meskipun jarak sekolah-rumah cukup jauh untuk ditempuh dengan berjalan kaki, aku sangat menikmati perjalanan kami. Banyak pemandangan yang aku temui, Bapak tukang becak yang mengayuh becaknya dengan kencang, toko-toko mebel yang berjajar rapi, hingga truk-truk pengangkut tebu yang akan dibawa ke Pabrik Gula. Suatu siang sepulang sekolah, aku melihat seorang pemulung yang sudah tua renta. Ada percakapanku dengan Ibu saat itu yang cukup memorable.

“Ibu, apa yang Bapak itu lakukan?”

“Bapak itu sedang memilah sampah Nduk, nah sampah-sampah itu nantinya akan di tukar dengan uang untuk membiayai sekolah anak-anaknya. Bapak itu sangat pekerja keras ya?”

“Tapi kasihan sekali ya Bu, harus pergi ke tempat-tempat kotor untuk mendapatkan uang."

“Justru itu, kamu harus sekolah yang tinggi, belajar dengan sungguh-sungguh, supaya nanti kalau sudah besar bisa membantu orang-orang seperti Bapak itu. Janji sama Ibu ya?"

 

Kebiasaan yang Bikin Hidup Lebih Bahagia
Ilustrasi.(Foto: unsplash.com)

Nasihat itu sederhana sekali, tapi kini aku baru sadar Ibuku sangat berhati mulia. Ibu tidak menakut-nakuti jika aku malas akan bekerja menjadi pemungut sampah seperti Bapak Pemulung, tapi justru menasihatiku untuk bersekolah setinggi mungkin, agar kelak bisa membantu orang-orang yang kesusahan. Nasihat itu hingga kini menjadi peganganku, bahwa setinggi apapun pendidikan dan jabatan kita, yang paling penting adalah menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain, meringankan beban orang lain dan menjadi cahaya bagi kehidupan sesama.

Usiaku kini 23 tahun, dan jika ada yang menanyakan tujuan hidup, jawabanku masih sama persis seperti yang Ibu ajarkan, menjadi pribadi yang berguna bagi siapa saja, kapan saja dan di manapun aku berada. Berusaha menjadi seorang anak yang berbakti, berusaha menjadi role model bagi adik-adikku, berusaha menjadi sosok yang positif bagi sahabatku, dan berusaha bermanfaat bagi tanah air sesuai keilmuanku. Dan masih banyak lagi peran positif yang bisa aku lakukan bagi semesta.

Ibu, hari ini tepat 100 hari kepergianmu. Ini berat sekali, sangat berat, tapi aku akan kuat sepertimu. Terima kasih atas nasihat, jerih payah dan kasih sayang hingga aku tumbuh dewasa. Tahun ini aku akan melanjutkan studi magister dengan beasiswa. Aku harap bisa menyelesaikan studi tepat waktu, dan dengan ilmu yang baru aku bisa menolong lebih banyak orang dan lebih bermanfaat bagi semesta. Aku pasti menepati janjiku pada Ibu saat taman kanak-kanak dulu. Aku akan selalu mendoakanmu. Sampai berjumpa di surga, Bu.