Hidup yang Retak Bisa Mendorong Kita Berjuang Lebih Kuat dari Orang Lain

Endah Wijayanti01 Mar 2019, 13:53 WIB
Diperbarui 01 Mar 2019, 13:53 WIB
kesempatan

Fimela.com, Jakarta Nasihat orangtua atau tradisi dalam keluarga bisa membentuk pribadi kita saat ini. Perubahan besar dalam hidup bisa sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai dan budaya yang ada di dalam keluarga. Kesuksesan yang diraih saat ini pun bisa terwujud karena pelajaran penting yang ditanamkan sejak kecil. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba My Culture Matters: Budayamu Membentuk Pribadimu ini.

***

Oleh: Rini Retno Mukti - Tangerang Selatan

Nasihat Orang Tua Cahaya Kehidupan

Ada masa di mana kita merasa lelah, jatuh, sakit, tak mampu hingga merasa ingin mengakhiri semua. Salah satu yang membuat kita bisa bertahan adalah nasehat atau pesan yang ditanamkan orang tua ketika kita masih kecil dulu.

Berasal dari keluarga broken home membuat aku seperti harus berjuang lebih kuat dibanding anak-anak lainnya. Berjuang lebih kuat di masa kecil, ketika teman-teman bertanya, "Kenapa mama papamu bercerai?" Ketika mereka bertanya, "Kenapa kamu hanya tinggal dengan ayah, kemana ibumu?" Atau mengetuk-ngetuk pintu rumah tetangga dan meminta tolong mereka membantu menguncirkan rambutmu ketika kamu mau pentas dan melihat anak-anak mereka bertanya kenapa bukan ibu yang menguncirkan rambutku. Pertanyaan-pertanyaan yang aku sendiri tidak tahu jawabannya.

Beranjak remaja, berat perjuanganku bertambah. Mulai terjadi pergolakan dalam diriku. Aku mulai lebih banyak bertanya lagi dibanding tetangga atau teman-temanku itu. Sering aku berlirih kenapa hal ini terjadi padaku, kenapa nasibku begini, kenapa hidupku tak sesempurna anak-anak lain. Kenapa, Ayah? Kenapa, Ibu? Dan aku remaja mulai menuntut jawaban-jawaban. Dan yang terberat adalah ketika kita berhadapan dengan diri sendiri. Ketika kita tidak mendapatkan jawaban dari pertanyaan itu, ketika rasa tidak terima bergemuruh menghancurkan kepolosan diri, melenyapkan keiklasan yang pernah kita berikan. Menggerus rasa hormat terhadap orang tua sendiri.

Aku dua bersaudara. Aku tinggal dengan ayah sejak ayah dan ibu berpisah. Adikku tinggal dengan ibu. Ayah mendidikku dengan caranya. Ia tidak tahu pakaian seperti apa yang sedang tren untuk anak perempuannya saat itu. Semua yang kukenakan, gaya rambutku hingga diet yang sedang kujalani supaya tubuhku tetap slim, membuat ayah geleng-geleng kepala. Menurutnya aku masih perlu makan dengan porsi cukup, berpenampilan biasa-biasa saja, karena aku masih anak-anak. Dan aku selalu bilang, "Ayah nggak ngerti." Dan ayah menjawab, "Suatu saat kamu akan paham."

Di antara komunikasi kami, ayah kerap menyelipkan nasihat-nasihatnya. Nasihat tentang sekolah, mengejar cita-cita, tentang menjadi orang yang kuat, tentang menyelaraskan keinginan kita dengan semesta, dan topik lainnya yang membosankan kala itu. Walau ayah tahu aku tak tertarik dengan pembicaraannya, tapi ia tetap terus mengingatkan. Dan kini, hal yang kuanggap membosankan itulah justru yang paling kuingat sampai saat ini. Aneh. Entah bagaimana ayah melakukannya. Tapi semua pesan-pesannya menjadi kekuatanku menghadapi semua peristiwa ketika aku mulai dewasa.

 

Orang Pintar tapi Tidak Jujur
Ilustrasi./Copyright pexels.com/@s-n-b-m-827240

Lepas SMA aku memutuskan tinggal dengan ibu. Meninggalkan ayah dengan keluarga barunya. Tanpa mengurangi rasa hormatku pada ayah, aku hanya ingin ayah bahagia. Tak ingin kehadiranku memunculkan kekisruhan dalam rumah tangganya, aku berdalih rindu ibu, untuk meredam semua kekalutan.

Setelah tahun demi tahun berlalu, berbagai hal aku temui di dunia yang lebih dewasa ini. Dunia bekerja, dengan tuntutannya dan persaingan demi sebuah jenjang karier. Dunia percintaan, dengan kerumitannya ketika perbedaan prinsip menjadi tak kalah pentingnya dengan perselingkuhan. Dunia rumah tangga, ketika idealisme tak lagi bisa sejalan dengan realita dan kau harus mengambil pilihan yang tepat demi anak-anak dan keluargamu. Semua hal-hal itu tidak bisa aku bagi cerita lagi dengan ayah seperti dulu, tidak bisa aku dengarkan masukan-masukan dari ayah lagi.

Di dunia dewasa yang ternyata lebih nyata konfliknya, tanpa perlu mengada-ada perasaan hati seperti masa remaja galau dulu, aku berusaha berdiri kuat dengan hati yang damai menyambut semua konflik, cobaan, dan keinginan semesta di antara cita-cita kehidupanku. Nasihat ayah bagaikan tongkat penyanggahku, pengingatku di kala aku merasa jatuh, dan buntu. Nasihat ayah mengiringi setiap langkah kehidupanku sampai saat ini, menjadi cahaya dalam kehidupanku.

Aku kini punya dua orang anak yang mulai beranjak remaja. Seperti ayah, aku sering menyelipkan banyak nasihat di antara komunikasiku dengan anak-anak. Bagai bercermin melihat respon mereka. Respon baik atau tidak, aku memahaminya. Seperti ayah pernah bilang, "Kamu akan paham kelak." Dan aku mengerti sekarang. Kukatakan pada anakku, tak perlu kau pahami bicara ibu saat ini. Biarkan ibu bicara selama usia ibu masih berjalan, Nak. Kelak ibumu tak lagi mampu berada di sisimu, atau saat di mana hanya jiwaku yang mampu melihatmu, biarkan pesan-pesanku ini yang menjaga, mengingatkan dan menguatkan kehidupanmu dikemudian hari.

Selelah apapun dan seberat apapun hari yang berlalu, aku berusaha menjaga setiap ucapanku pada anak-anak. Berkata yang baik, kelak kata-kata yang didengar anak kita akan selalu diingatnya. Dan semoga ucapan baik kita bisa selalu menjadi senandung doa yang indah, yang kelak dikabulkan Tuhan. Mungkin, kehidupan kita tidak sama sempurnanya dengan orang lain, tapi ketika kau tahu bahwa hidupmu masih dalam proses penyempurnaan dan kau ada di dalamnya, kau akan merasa beruntung Tuhan memilihmu untuk berada di proses itu, karena kau tahu kau istimewa punya kesempatan pernah melaluinya.