Jadilah Istri yang Selalu Dirindukan Suami

Endah Wijayanti04 Mar 2019, 10:21 WIB
Diperbarui 04 Mar 2019, 10:21 WIB
pernikahan ikhlas

Fimela.com, Jakarta Nasihat orangtua atau tradisi dalam keluarga bisa membentuk pribadi kita saat ini. Perubahan besar dalam hidup bisa sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai dan budaya yang ada di dalam keluarga. Kesuksesan yang diraih saat ini pun bisa terwujud karena pelajaran penting yang ditanamkan sejak kecil. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba My Culture Matters: Budayamu Membentuk Pribadimu ini.

***

Oleh: Sarah Mei - Bandung

Terlahir sebagai anak perempuan satu-satunya dalam sebuah keluarga pastinya akan berdampak sangat besar terhadap pola asuh kedua orang tuaku. Banyak orang mengira sebagai anak perempuan satu-satunya aku pasti selalu dimanja oleh kedua orang tuaku. Tapi ternyata tidak sepenuhnya anggapan itu benar.

Ayahku selalu mengajarkanku untuk tetap menjadi anak perempuan yang tangguh berdikari sejak dini. Beliau selalu memberi pemahaman dan berkata bahwa, "Meskipun terlahir sebagai anak perempuan bukan berarti jadi lemah dan selalu menggantungkan diri pada orang lain." Kemandirian yang selalu ayah ajarkan padaku sejak kecil membuatku bisa tumbuh menjadi seorang yang lebih tangguh dan berdikari hingga saat ini.

Semenjak duduk di bangku sekolah dan kuliah, aku selalu berusaha mewujudkan apapun keinginanku dengan usaha sendiri. Mau juara kelas, ya belajar yang rajin sendiri. Mau suatu barang, ya harus berusaha mengumpulkan uang sendiri. Mau mencapai sesuatu, ya harus berjuang dan kerja keras sendiri. Semua yang dilakukan oleh tangan sendiri akan terasa sangat menuaskan dan berkah. Itulah wejangan yang sering beliau sampaikan padaku berulang kali.

Ayahku juga selalu mengajarkan kalau kita harus baik pada siapapun tanpa membeda-bedakan seseorang berdasarkan keadaan dan kedudukannya. Beliau pernah berkata, "Semua orang berhak dihargai dan dihormati bagaimanapun keadaannya."

Beliau selalu mengayomiku sejak kecil. Membentukku agar menjadi seorang yang kuat dan berkepribadian baik. Ia ingin aku selalu berpikiran dewasa dan mementingkan banyak orang agar tumbuh menjadi anak yang egois, tapi tidak juga untuk mudah dicurangi orang lain. "Nak, kamu harus bisa bawa diri, jaga diri, dan mawas diri. Di manapun kamu berada posisikan dirimu sebagai orang yang bermanfaat dan berpengaruh baik bagi orang lain." Itu salah satu nasihatnya yang membuatku untuk memilih berprofesi sebagai guru, karena dapat berpengaruh dan bermanfaat bagi orang lain.

 

Zodiak
Ilsutrasi/copyright pexels.com

Mungkin tanpa arahan dan bimbingan ayahku, aku belum tentu mencapai titik sekarang ini. Setelah lulus kuliah dan menyandang sebagai sarjana pendidikan, aku sempat menjadi guru honorer di salah satu sekolah negeri. Kalau bukan karena nasihat ayahku supaya kita harus bermanfaat bagi orang lain, mungkin aku sudah menyerah dan mundur. Hingga kini, berkat doa dan usaha serta dukungan kedua orang tuaku alhamdulillah aku baru saja lolos dinyatakan sebagai CPNS setelah melalui proses tes dan seleksi yang panjang.

Sementara itu, ibuku adalah seorang yang ambisius dan pantang menyerah. Banyak sekali dukungan moral yang selalu beliau berikan padaku. Mengingat hidup adalah tempatnya ujian, maka masalah selalu datang tanpa henti. Ibuku selalu menguatkan aku, menyadarkan dan mengingatkan aku pada satu tujuan awalku. Perjalanan hidupku tidak selamanya baik dan mulus.

Banyak sekali tempaan dan hambatan yang akan terjadi baik saat sekolah, kuliah, bahkan saat di tempat kerja. Beliau selalu berkata, "Biar orang lain mau seperti apa padamu, jangan muluk-muluk mereka itu orang lain tidak ada kewajiban untuk berbuat baik padamu." Nasihat itu yang selalu menguatkanku saat merasa jatuh dan kecewa terhadap orang lain. Selain itu, ada lagi yang selalu kuingat, ibu juga selalu berkata, "Nak, jangan pernah berharap banyak pada siapapun nanti kecewalah yang didapat dan pahitlah rasanya.” Sungguh aku tidak tahu apa yang akan terjadi bila bukan karena ayah dan ibuku yang menasihati dan mendukungku hingga saat ini.

Waktu berjalan begitu cepat berlalu, tak terasa anak perempuan satu-satunya ayah dan ibu telah menjadi seorang istri dan ibu. Ya, kini aku telah menikah. Setelah perjalanan yang lumayan panjang, tibalah di mana hari aku harus diikhlaskan oleh kedua orang tuaku kepada lelaki pilihanku. Berat, khawatir, takut, cemas dan masih banyak lagi perasaan yang berkecamuk dalam hatiku. Tapi lagi-lagi mereka jugalah yang memberikan pembekalan nasihat untukku sebelum aku membina rumah tangga bersama suamiku.

zodiak
ilustrasi./copyright unsplash/Gades Photography

Ayah selalu bilang, "Setelah jadi istri tugasmu hanya mencari ridho suamimu, caranya ada banyak. Pilihlah sesuai dengan yang suamimu sukai dan kehendaki, agar ia ridho dan ikhlas atasmu." Sederhana dan klasik tapi memang itulah yang seharusnya selalu diingatkan bagi setiap perempuan yang sudah menikah, tak jarang perempuan sering lupa pada hal krusial tersebut. Ada yang lebih emosional lagi saat aku akan menikah, ya ibuku.

Beliau tidak banyak bicara, tapi hanya berpesan kalau, "Jadilah istri yang selalu dirindukan suami. Suka tidak suka, mau tidak mau. Dialah suamimu, pilihan terbaik dari Tuhan." Terbukti dalam sebuah pernikahan selalu ada hal yang membuat aku merasa kesal atau kecewa, tapi petuah ibu seolah selalu terdengar dalam batinku untuk menerima dan bersabar.

Begitulah ayah dan ibuku, mereka selalu memberikanku nasihat yang realistis dan selalu aku sadari kebenarannya di kemudian hari. Tanpa nasihat mereka yang mungkin terdengar sederhana, mungkin aku tidak seteguh ini. Dan tanpa tempaan dan dukungan mereka aku bukan siapa-siapa dan tidak ada di titik ini. Posisi yang mungkin orang lain inginkan. Terima kasih ayah dan ibu, telah bersedia menasihati tanpa henti meski terkadang anakmu enggan untuk mendengarnya.