Boru Ni Raja Bukan Princess

Endah Wijayanti04 Mar 2019, 11:18 WIB
Diperbarui 04 Mar 2019, 11:18 WIB
mengeluh

Fimela.com, Jakarta Nasihat orangtua atau tradisi dalam keluarga bisa membentuk pribadi kita saat ini. Perubahan besar dalam hidup bisa sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai dan budaya yang ada di dalam keluarga. Kesuksesan yang diraih saat ini pun bisa terwujud karena pelajaran penting yang ditanamkan sejak kecil. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba My Culture Matters: Budayamu Membentuk Pribadimu ini.

***

Oleh: Joice J. Siagian - Jakarta

Sebagai anak yang lahir dari keluarga Batak, tidaklah heran kalau saya sudah diajarkan adat istiadat Batak, mulai dari bahasa sampai kebiasaan-kebiasaan orang Batak. Batak adalah salah satu suku yang sering menjadi perhatian dan bahan studi. Teringat akan perkataan dosen saya yang memang meneliti perilaku orang Batak, bahwa setinggi apa pun pendidikan orang Batak, sejauh apa pun mereka tinggal bahkan di luar negeri sekalipun kalau berhubungan dengan lahir, kawin, dan kematian, pasti kembali ke adat. Hal ini sudah berlaku turun-temurun. Itulah yang terjadi dalam keluarga saya mulai dari keluarga kecil sampai keluarga besar, hidup saya tidak pernah lepas dari falsafah nilai-nilai orang Batak.

Dimulai dari bahasa, bagaimana orang tua saya terbiasa berbicara dalam bahasa Batak di rumah dan juga kepada kami, walaupun dalam bicara saya kaku tetapi bukan berarti tidak bisa. Saya mengerti bahasa Batak itu sama persis dengan saya mengerti bahasa Indonesia. Di kemudian hari ternyata banyak keuntungan, di samping bisa menjadi bahasa rahasia, saya juga bisa berkomunikasi dengan orang-orang tua yang tidak bisa berbahasa Batak, dan nasihat-nasihat (umpasa) Batak yang sering disampaikan pada acara adat yang nilainya bagus sekali.

 

unfollow media sosial
Ilustrasi./Copyright unsplash.com/@ayahya09

Selanjutnya kami juga diajari hubungan kekerabatan dan silsilah, jadi saya sudah tahu bagaimana bersikap kepada sanak famili dan bagaimana bersikap dan menempatkan diri walaupun kadang ada yang berlebihan. Selanjutnya adalah saya juga diajarkan oleh ibu saya untuk mengenal makanan dan kain-kain tradisional Batak. Untuk makanan saya sangat suka terutama Na Niura dan karena kami penganut Kristen Advent maka makanan Batak yang non-halal kami ganti menjadi halal. Bahwa ternyata dari makanan itu terkandung juga nilai-nilai tersendiri dan bagaimana makanan itu terhidang dalam setiap acara adat.

Kain tradisional Batak, terutama ulos juga diperkenalkan ibu saya. Ulos-ulos itu memiliki motif yang berbeda dan penggunaan juga berbeda dan tidak boleh sembarangan. Awalnya sangat sulit untuk membedakan tetapi sedikit demi sedikit saya mulai mengerti dan kemudian mencintai. Sama seperti halnya makanan, ulos juga menjadi bagian penting dalam setiap acara adat Batak. Ulos adalah lambang kasih, lambang cinta, lambang kehormatan. Ulos adalah kain yang di dalamnya terkandung doa-doa bagi pemakainya. Bagaimana ibu saya bercerita bahwa dulu ompung boru saya (nenek) tidak sembarangan dalam menenun ulos, ada ritual tersendiri, seperti doa-doa dan makanan yang harus dimakan saat membuatnya.

Yang paling sering dikatakan saat saya remaja adalah bahwa saya adalah boru ni raja. Setiap laki-laki Batak itu selalu dianggap raja, mengapa? Karena memang laki-laki Batak adalah raja dalam keluarganya, semua dianggap terhormat. Sebagai perempuan disebut boru ni raja, artinya dia itu harus bisa menjaga kehormatan dirinya. Caranya adalah dengan bertutur dan bertingkah laku yang baik dan beradab, memiliki pengetahuan yang baik, bijaksana, singkatnya memang seorang perempuan yang penting karena menjaga kehormatannya dengan baik. Apalagi jika dia bisa membawa diri dengan mengerti adat isitiadat seperti yang saya telah sebutkan di atas. Karena hal itu selalu ditanamkan orang tua maka nilai itu meresap dalam diri saya.

 

mengeluh 1
Ilustrasi./Copyright unsplash.com

Saya menyadari bahwa sebagai perempuan Batak harus memiliki kualitas yang lebih luar dalam. Tujuannya tidak hanya mendapatkan jodoh yang baik tetapi memang pantaslah yang datang kepada saya itu adalah laki-laki yang baik dari keluarga terhormat karena memang saya sudah menunjukkan kualitas saya sebagai boru ni raja, atau istilah kerennya sekarang personal branding saya sudah mantap.

Tidak hanya sebelum menikah, setelah sekarang berumah tangga pun falsafah boru ni raja masih saya pegang teguh. Sebagai istri dan ibu yang memiliki peran di dalam dan di luar rumah, haruslah menjaga wibawa suami dan anak-anak. Efeknya juga banyak, saya semakin mencintai budaya saya sendiri walaupun mungkin dengan sentuhan modern.

Kemampuan berbahasa Batak menjadi nilai lebih di zaman modern sekarang, memiliki pengetahuan tentang budaya sendiri ternyata menjadi sarana yang baik untuk menunjukkan keunggulan bangsa kita sendiri, bangsa Indonesia. Kecintaan akan kain tradisional tidak hanya kain ulos tetapi kepada semua kain tradisional Indonesia atau wastra Nusantara. Wastra Nusantara adalah kain-kain yang menunjukkan keluhuran budaya setiap suku di Indonesia, di situlah terkandung doa dan makna kepada si pemakai dengan pembuatan yang teliti dan hati-hati. Memakai kain tradisional atau pakaian dari kain tradisional Indonesia menjadikan saya merasa sangat cantik dan bangga sebagai boru ni raja. I am proud of being a Bataknese and love being an Indonesian.