Fimela Historia: Perjalanan Women's March dari Amerika Hingga Dunia

Vinsensia Dianawanti12 Mar 2019, 08:00 WIB
Women's March

Fimela.com, Jakarta Aksi membela hak perempuan semakin banyak digaungkan. Bukan hanya menggaung di satu wilayah, melainkan sudah mendunia. Salah satunya adalah Women's March. Ya! Aksi ini berawal dari pelantikan Donald Trump sebagai Presiden ke 45 Amerika Serikat. Di mana ribuan orang melakukan aksi protes ke Washington terkait administrasi Trump dan perjuangan hak sipil.

Sekelompok perempuan membuat Facebook event untuk acara Inauguration Day Trump. Mereka menganggap Trump kerap melecehkan kaum perempuan jauh sebelum ia mencalonkan diri sebagai Presiden Amerika. Sebelumnya kegiatan ini dinamai "Million Women March", namun berubah menjadi Woman March on Washington yang mengacu pada demostrasi hak-hak sipil.

Selama kampanye pemilihan presiden di Amerika pada 2016 terungkap rekaman Trump berbicara dalam bahasa yang kasar tentang popularitasnya yang membuat banyak bermunculan dan berbicara soal tuduhan pelecehan dan perilaku seksual yang tidak pantas di masa lalu.

Dikutip dari History.com pada Selasa (12/3/2019) kemudian sehari setelah pemilihan, gagasan Women's March dimulai di Facebook. Ketika seorang perempuan Hawaii bernama Teresa Shook menyuarakan pendapatnya bahwa pawai pro-perempuan diperlukan sebagai reaksi terhadap kemenangan Trump. Setelah ribuan perempuan mendaftar untuk mengikuti aksi berskala besar yang dijadwalkan pada 21 Januari 2017. Tepat sehari setelah hari Pelantikan.

 

Mengenakan atribut berwarna pink

Women's March
Women's March di Cheyenne, Amerika Serikat. (Leslie Lund/AP)

Di hari Women's March terkumpul sebanyak 500 ribu orang dari berbagai kota menuju ibukota. Di pawai ini banyak aktivis mengenakan pakaian merah muda. Ini menjadi seragam tidak resmi yang ditambah dengan topi bertuliskan "Pussy Hats". Julukan ini ditujukan pada pilihan kata Trump yang kasar pada rekaman tersebut.

Ternyata aksi ini tidak hanya terjadi di Amerika. Sebanyak lebih dari 50 negara bagian dan 30 negara lainnya mulai dari Antartika dan Zimbabwe melakukan aksi ini. Menurut laporan Washington Post diperkirakan aksi ini menuai 4,1 juta orang.

Para pengunjung rasa yang mengambil bagian dalam berbagai acara Women's March menyuarakan hal yang sama. Yakni dukungan mereka terhadap hak-hak perempuan dan reproduksi, peradilan pidana, pertahanan lingkungan, hak imigran, dan hak lainnya yang dipandang sebelah mata di bawah pemerintahan Donald Trump.

Lanjutkan Membaca ↓