Setiap Perempuan Berhak Mendapat Pendidikan yang Terbaik dalam Hidupnya

Endah Wijayanti20 Mar 2019, 14:30 WIB
iri padamu

Fimela.com, Jakarta Setiap perempuan punya kekuatan untuk mengatasi setiap hambatan dan tantangan yang ada. Bahkan dalam setiap pilihan yang dibuat, perempuan bisa menjadi sosok yang istimewa. Perempuan memiliki hak menyuarakan keberaniannya memperjuangkan sesuatu yang lebih baik untuk dirinya dan juga bermanfaat bagi orang lain. Seperti tulisan dari Sahabat Fimela yang disertakan dalam Lomba My Voice Matters: Setiap Perempuan adalah Agen Perubahan ini.

***

Oleh: Bee - Banjarnegara

Perkenalkan, aku adalah perempuan muda yang tinggal di sebuah pedesaan yang letaknya tidak terlampau jauh dari pusat kota kecil. Meski kerap tersudutkan, namun desaku tak semiskin yang dibayangkan. Beberapa pembangunan kini sudah mulai digalakkan. Jalan yang dulu berbatu tajam kini sudah berganti dengan aspal tebal. Rumah-rumah yang dulunya berdinding kayu dan bambu kini sudah dibangun dengan semen dan batu bata.

Kini kehidupan warga desanya juga tak sememprihatinkan dulu. Berkat beberapa program dari pemerintah, para masyarakat desa sudah bisa menata kebutuhan hidupnya sendiri. Sayangnya, di tengah kondisi yang sudah gemah ripah seperti ini ternyata masih banyak masyarakat desa yang mengesampingkan masalah pendidikan. Padahal di zaman seperti sekarang ini, pendidikan harusnya sudah bisa dirasakan oleh semua kalangan.

Namun, pemahaman masyarakat di desaku tidak begitu memprioritaskan tentang pendidkan melainkan lebih mementingkan tentang pekerjaan. Apalagi perspektif mayoritas masyarakat desa cenderung masih terikat dengan budaya dan berkiblat pada tradisi. Mereka menganggap jika orang yang bersekolah ataupun tidak sekolah pasti ujung-ujungnya akan bekerja juga. Sama seperti anggapan setinggi-tingginya pendidikan seorang perempuan pasti pada akhirnya akan ke dapur juga.

Pendidikan untuk kalangan perempuan di desaku memang terlihat cukup memprihatinkan. Mayoritas orang tua menikahkan anaknya setelah lulus SMP atau setelah mereka menstruasi. Karena mereka menganggap perempuan pantasnya itu di dapur, sumur, dan kasur.

 

 

iri padamu 3
Ilustrasi./Copyright pexels.com/@fineas-anton-933234

Mungkin aku adalah salah satu perempuan yang beruntung, karena masih mendapatkan hak untuk mengenyam pendidikan dan tidak melepas masa mudaku untuk mengurus rumah tangga. Beberapa kali aku juga pernah melakukan pendekatan kepada para orang tua, anak-anak, dan para perempuan di desaku. Bukan bermaksud menggurui, tapi aku hanya ingin memberikan pengeritan kepada mereka bahwa perempuan memiliki hak dan kesempatan untuk memperoleh pendidikan yang setara dengan laki-laki. Intinya bukan hanya laki-laki saja yang bisa bersekolah tinggi, tapi perempuan juga.

Mereka harus tahu bahwa generasi militan yang cerdas, berintegrasi tinggi, dan bertanggung jawab itu dilahirkan dari para perempuan yang berpendidikan. Karena dengan pendidikan, seorang perempuan akan mengetahui bagaimana cara mendidik anak yang baik, mengurus rumah tangga yang benar dan bersosialisasi dengan lingkungan.

Namun sepertinya ideologiku ini belum dapat diterima oleh mereka. Aku selalu dicap sebagai perempuan reformasi yang menentang tradisi. Padahal aku tidak memungkiri bahwa pemahaman mereka tentang perempuan tidak sepenuhnya salah. Perempuan memang tempatnya di dapur, tapi jika dilihat posisi perempuan berada di tengah keluarga. Sebagaimana kita tahu jika tugas seorang perempuan adalah mengurus rumah tangga, melayani suami, dan mendidik anak.

Tapi aku yakin setiap perempuan punya cita-cita. Sekalipun pada hakikatnya dia harus kembali ke dapur. Namun bukan berarti seorang perempuan tidak bisa ikut berkontribusi dalam membangun bangsa. Ibu Susi Pudjiastuti, Ibu Sri Mulyani, dan Ibu Retno Marsudi misalnya, mereka adalah sosok perempuan hebat masa kini yang ikut andil dalam memajukan roda pemerintahan di negara ini. Karena perempuan adalah agen perubahan.

Aku ingin semua perempuan di pelosok-pelosok negeri ini bisa mendapatkan hak yang sama untuk mengenyam bangku pendidikan. Sebagaimana Raden Ajeng Kartini pernah berkata bahwa pendidikan adalah awal dari perubahan suatu bangsa. Aku juga berharap pemikiran masyarakat di desaku segera terbuka mengenai pentingnya pendidikan. Agar para perempuan pedesaan sepertiku berhak mendapat kesempatan untuk ikut bersaing dalam memajukan negara. Ayo kita sosialisasikan dan menyuarakan tentang pentingnya pendidikan untuk kaum perempuan. Karena perempuan berhak untuk tahu.