Menampik Stigma Negatif Janda, Aku Mengajak Para Single Mom Berkarya Bersama

Endah Wijayanti21 Mar 2019, 10:39 WIB
single mom

Fimela.com, Jakarta Setiap perempuan punya kekuatan untuk mengatasi setiap hambatan dan tantangan yang ada. Bahkan dalam setiap pilihan yang dibuat, perempuan bisa menjadi sosok yang istimewa. Perempuan memiliki hak menyuarakan keberaniannya memperjuangkan sesuatu yang lebih baik untuk dirinya dan juga bermanfaat bagi orang lain. Seperti tulisan dari Sahabat Fimela yang disertakan dalam Lomba My Voice Matters: Setiap Perempuan adalah Agen Perubahan ini.

***

Oleh: Ana Hidayah - Indramayu

Terkadang, menjadi perempuan itu serba salah. Bertahan membuat kita tersakiti. Hingga berujung sakit mental. Menyerah, membuat kita menjadi sampah. Bukan rahasia umum lagi, status janda memiliki stigma negatif tersendiri di kalangan masyarakat. Rasanya apa yang kami lakukan itu serba salah di mata mereka. Bekerja dianggap menelantarkan anak. Tidak bekerja, dicibir, diketawain, diperlakukan semena-mena oleh mereka.

Aku sendiri seorang single mom dengan dua anak. Usiaku masih sangat muda, belum sampai 30. Satu tahun pertama menjalani kehidupan sebagai seorang single mom, cukup membuatku trauma dan depresi. Tidak di rumah, tidak di luar rumah, semua orang memperlakukan aku secara tidak adil. Sedikit saja aku melakukan kesalahan, aku seperti harus menerima hukuman pancung. Seperti sekedar leyeh-leyeh di kamar, ibu langsung marah-marah menganggapku pemalas, omongannya langsung melebar sampai ke masa depan anak-anak lah, yang apa. Padahal aku hanya ingin beristirahat sebentar karena capek. Kadang aku jadi berpikir, aku hanya istirahat sebentar, langsung dimarahi kayak gitu. Kenapa tidak ada yang memarahi mantan suamiku yang kerjaannya tiap hari bermalas-malasan, sampai tidak menafkahi kami?

Seistimewa itu seorang laki-laki di masyarakat kita ya? Mereka adalah raja, yang orang lain sungkan untuk menyalahkannya. Maaf, tidak bermaksud sinis. Hanya saja, aku merasa semua ini tidak adil bagiku. Suami ketahuan selingkuh, aku yang disuruh sabar. Seolah laki-laki selingkuh itu biasa. Sementara aku, aku dekat dengan seorang laki-laki saja, padahal statusku sudah bercerai, aku langsung mendapat stigma negatif. Yang disangka genit lah, kegatelan lah. Padahal hubungan kami hanya pertemanan biasa.

 

impian ibu rumah tangga
Ilustrasi./Copyright unsplash.com/liana mikah

Aku ingat sekali, setap aku pergi kemanapun, selalu menjadi gunjingan tetangga. Hanya karena menjadi janda, aku dianggap durhaka. Gara-gara aku tidak tahan dengan perlakuan ibu, lalu aku marah. Langsung, semua orang mengecapku tidak baik. Padahal aku hanya membela diri.

Setiap hari aku dan anak-anakku diperlakukan seperti parasit. Kadang yang lebih menyakitkan, ibuku sering meminta uang kepada mantan suamiku, lalu mantan suamiku tidak memberi, kemudian ibu melampiaskan kemarahan kepadaku dan anak-anak. Kami yang selalu menjadi korban. Beginikah seorang janda? Selalu diperlakukan semena-mena karena dianggap lemah? Tak ada yang membela kami. Kami lari kemana pun selalu kami yang dianggap bersalah. Dan semua orang yang memperlakukan kami tidak adil, selalu lolos dengan kesombongan dan kecongkakan. Seolah menyindir kami, “Suruh siapa menjadi janda?” Padahal ini bukanlah pilihan kami. Keadaan yang membuat kami harus memilih jalan ini.

Niatnya, aku tinggal di rumah ibu hanya sementara. Hingga aku bisa menabung dan bisa mandiri. Namun selama di sini aku justru sering disindir karena dianggap merepotkan. Kalau gitu aku harus ke mana? Maunya ibu itu apa? Sudah sering aku mencoba pergi dari rumah ibu. Aku mendapatkan tawaran pekerjaan yang lumayan. Tapi tiba-tiba ibu sakit lah, menganggapku tidak menyayanginya lah. Tapi ketika aku kembali ke rumah dan meninggalkan pekerjaanku, ibu kembali memperlakukan aku seperti itu. Sumpah aku benar-benar bertanya, maunya ibu itu apa? Apakah single mom lain mengalami kebingungan yang sama sepertiku?

Aku kira, hanya aku yang diperlakukan seperti ini. Sampai aku bertemu dengan banyak single mom lainnya, ternyata mereka juga mengalami hal serupa. Bahkan ada yang bertahan dalam situasi ini hingga puluhan tahun. Bayangkan, puluhan tahun mereka hidup dalam bayang-bayang trauma karena perlakuan yang tidak seharusnya mereka dapatkan. Mereka itu manusia, mereka berhak untuk berkembang. Tidak diperlakukan seperti ini!

 

Patah hati
Ilustrasi.copyright: unsplash/dmitry schmelev

Aku mendengar curhatan seorang single mom, di satu sisi dia bersyukur karena mantan suaminya masih bertanggung jawab. Meski hanya memberi nafkah Rp500 ribu per bulan. Di zaman yang serba susah ini, hanya dinafkahi Rp500 ribu per bulan. Tapi dia menerimanya dengan lapang dada. Namun uang itu dipegang oleh ibunya, bukan oleh dia. Sehingga dia tidak bisa mengatur keuangan sendiri. Ibunya lah yang mengatur. Akibatnya, jatah susu anaknya saja jauh dari kata cukup. Bekerja pun dia jadi terseret-seret karena harus bekerja sambil mengurus anak. Terkadang dari kondisi seperti itu, kita jadi menyalahkan orang-orang di sekeliling kita.

Padahal, pemikiran seperti itu tidak baik untuk kita. Kita jadi terkurung dalam kesedihan dan kecemasan kita sendiri. Yang membuat kita tidak maju-maju. Memang, aku akui. Mereka semua salah! Karena sudah menginjak-injak kita. Tapi, hati ini seharusnya segera bangkit dan move on mencari peluang kesuksesan kita sendiri. Bukannya meratapi nasib yang malah membuat kita semakin terpuruk.

Makanya, entah kalian setuju atau tidak, kalau aku, lebih baik berada di kondisi terburuk sekalian. Lalu aku bisa bangkit dari keterpurukan. Daripada harus dipermainkan terus-menerus oleh mantan suami seperti itu. Dia bukan urusanku lagi. Masa, sudah bercerai saja masih mempermainkan seperti itu? Sementara dia bahagia dengan kehidupan barunya, lalu aku harus menerima nafkah yang alakadarnya? Tidak! Lebih baik aku bangkit sendiri. Biar dia malu sendiri sudah mempermainkan wanita seistimewa aku.

 

Patah hati (iStock)
Ilustrasi./iStockphoto

Aku sendiri, alhamdulillah sudah mulai terlepas dari trauma kesedihan itu sejak beberapa bulan lalu. Dalam kesedihan, meski terkatung-katung, aku tidak berhenti mencari ilmu. Untuk mencari peluang-peluang baru agar aku bisa bangkit. Agar aku bisa membuktikan kepada orang-orang yang selama ini menginjak-injak harga diriku, bahwa aku berharga. Bahwa aku adalah sebutir berlian yang selama ini mereka tempa, dan kini aku sudah seindah ini sekarang.

Melihat beberapa single mom yang aku temui, aku jadi ingin membagikan semangat ini untuk mereka. Aku ingin mereka sadar, betapa berharganya mereka. Mereka tak pantas dicampakkan dan diinjak-injak seperti itu. Mereka harus memiliki rasa percaya diri dan bangga terhadap diri sendiri agar mereka bisa bangkit.

Kalau mereka sudah menghargai diri sendiri, mereka akan dengan mudah menemukan jalan untuk mereka bisa bahagia. Intinya adalah hargai diri sendiri, sadari apa yang sebenarnya paling mereka inginkan. Lalu mereka akan sadar harus menemukan jalan untuk menuju kesana. Supaya tidak stuck pada kondisi terhina seperti itu. Oleh karena itu, saat ini aku sedang memulai sebuah project memberi pelatihan menulis untuk para single mom. Menulis bisa menjadi sarana mereka mencurahkan perasaan, menjadi healing therapy untuk trauma kesedihan yang mereka alami. Selain itu, menulis juga bisa melatih intuisi, agar mereka mampu melihat peluang-peluang yang ada, yang bisa mereka manfaatkan untuk bisa bangkit dari keterpurukan.

Aku berharap para single mom mampu bangkit dan mandiri, demi anak-anak yang Tuhan titipkan kepada mereka. Aku pernah merasakan, dan tahu betul bagaimana tekanan yang mereka rasakan. Rasanya setiap hari kita hanya berputar-putar tanpa arah. Bingung, cemas, ingin mati saja. Tidak ada yang peduli dengan apa yang kita rasakan ini. Yang ada hanya cibiran, hinaan, semua orang seolah menjauh dari kita. Kita merasa sendirian.

 

karier menulis 2
Ilustrasi./Copyright unsplash.com

Setiap single mom pasti merasa sendiri dan kesepian. Karena perlakuan tidak menyenangkan yang mereka terima setiap harinya. Makanya, terkadang dia mudah terjebak rayuan gombal lelaki tukang modus yang malah semakin menghancurkan hidup mereka. Dari situlah stigma pelakor mulai muncul. Karena itu kita harus berkumpul, saling berbagi dan memberi motivasi. Sharing ilmu dan pengalaman, juga memperluas pergaulan. Agar kita bisa bangkit dan mandiri, melawan berbagai stigma negatif yang melekat pada diri seorang janda.

Doakan saja ya, agar project ini berjalan lancar. Harapannya aku bisa sekalian menerbitkan hasil tulisan para single mom itu, agar bisa menjadi buah karya untuk mereka. Agar memancing kebanggaan mereka terhadap diri sendiri, bahwa mereka juga mampu berkarya. Dan mudah-mudahan bisa sedikit membantu keuangan mereka.

Aku sendiri hanya seorang single mom yang masih mencari jalan kesuksesanku sendiri. Namun jika aku bisa membantu teman-teman senasib dan seperjuangan, aku akan sangat bersyukur bisa membantu mereka. Minimalnya menyembuhkan trauma patah hati dan kesedihannya dulu, membuat mereka bisa melihat ke dalam diri mereka sendiri, potensi apa yang bisa mereka kembangkan? Mudah-mudahan ini akan menjadi jariyah aku untuk ke surga-Nya.

Untuk para single mom, cukup terima saja bahwa kita telah dicampakkan. Kita merasa sendirian, itu wajar. Tapi jangan berlarut-larut terjebak dalam situasi seperti itu. Segera bangkit, cari alasan apa pun untuk bahagia. Hargai diri sendiri, kita berhak bahagia. Lakukan saja apa yang membuat kita merasa bahagia. Jangan pedulikan omongan orang. Sekalipun itu adalah ibu kita sendiri. Mereka semua tidak menjamin kebahagiaan kita. Kita sendiri lah yang bertanggung jawab atas kebahagiaan kita. Lalu, maafkan mereka. Sudah, selesai. Karena kalau masih ada dendam, itu hanya akan menghambat datangnya kesuksesan dan kebahagiaan. Aku sendiri, meski dongkol dan sempat bersitegang dengan ibu, sekarang aku hanya ingin menunjukkan baktiku saja sebagai seorang anak. Ibu mau ditemenin, baiklah aku temenin. Ibu minta uang, aku kasih. Udah, yang lalu biarkan berlalu. Kini kita menjadi pribadi yang baru. Agar Tuhan senang, dan memberikan berkat-Nya kepada kita.

Semoga kita semua selalu dalam lindungan dan kasih sayang Tuhan Yang Maha Esa.