Pekerjaan yang Menguras Emosi dan Tak Memberi Gaji Layak, Tinggalin Aja!

Endah Wijayanti20 Apr 2019, 09:19 WIB
perempuan

Fimela.com, Jakarta Punya pengalaman suka duka dalam perjalanan kariermu? Memiliki tips-tips atau kisah jatuh bangun demi mencapai kesuksesan dalam bidang pekerjaan yang dipilih? Baik sebagai pegawai atau pekerja lepas, kita pasti punya berbagai cerita tak terlupakan dalam usaha kita merintis dan membangun karier. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Menulis April Fimela: Ceritakan Suka Duka Perjalanan Kariermu ini.

***

Oleh: Y - Surabaya

Hai, namaku Y umur 20 tahun. Aku tinggal di Surabaya dan aku ingin membagikan sedikit pengalaman kerjaku dan pengalaman bagaimana susahnya mencari kerja itu. Mungkin bisa dibilang aku masih kecil tapi kecil-kecil cabe rawit bukan. 

Jadi, aku mulai terjun ke dunia kerja sejak aku lulus SMK tepatnya 2 tahun lalu. Di umur yang bisa dibilang masih labil aku harus sudah merasakan ditolak oleh banyak perusahaan pada saat melamar pekerjaan. Pernah pada suatu waktu aku melamar di salah satu perusahaan asing asal Jepang dan aku lolos tes, saat sesi wawancara aku pikir semua lancar-lancar saja. Eh, ternyata aku kena korban PHP. Janjinya mau dihungi 1 minggu lagi tapi nggak ada kabar juga. Dan usut punya usut ada salah satu teman yang satu sekolah denganku juga dia lolos dan berhasil mendapatkan pekerjaan tersebut dengan bantuan gurunya. Bikin kesel banget. 

Ya, karena tak mau berhenti di satu tujuan aku memutuskan untuk melamar juga ke tempat lain selain ke perusahaan. Mulai dari jadi SPG, penjaga counter sampai ke toko kelontong kukirimkan lamaran semua dan NIHIL. Tak ada panggilan sama sekali. Aku juga pernah mencoba melamar di salah satu tempat prostitusi yang berkedok tempat pijat dan spa, untung pada saat itu aku diperinggatkan oleh pedagang sekitar tempat tersebut untuk tidak melamar di sana karena itu tempat yang "tidak benar" katanya.

Aku juga pernah melamar ke perusahahan yang ternyata melakukan penipuan dengan berkedok mencari karyawan padahal hanya ingin meminta uang untuk alasan pelatihan sebelum bekerja. Bayangkan kami pelamar diwajibkan membayar uang senilai Rp1.800.000 sebelum kami diterima kerja dan uang tersebut juga menjadi salah satu syarat penerimaan karyawannya jika membayar maka diterima jika tidak ya ditolak. Dan aku mengundurkan diri dari interview perusahaan tersebut.

Karena sudah mulai putus asa aku akhirnya memutuskan untuk datang ke salah satu pusat perbelanjaan untuk menaruh surat lamaranku paling tidak ini amunisi terakhirku lah. Aku datang ke salah satu toko baju anak yang di sana tertulis mencari karyawati. Aku masuk dan bertanya ke salah satu SPG di sana. Setelah sedikit berbincang akhirnya aku diantarkan ke bagian gudang, katanya sih untuk langsung ketemu aja sama yang punya toko. Saat masuk ke tempat tersebut aku langsung bertemu dengan bapak-bapak paruh baya dan dia mengantarku lagi bertemu anaknya yang ternyata membutuhkan karyawan untuk butiknya yang sementara sedang dalam proses renovasi. 

Pekerjaan yang "Melenceng"

tantangan karier
Ilustrasi./Copyright unsplash.com/@sclensstudio_339

Singkat cerita aku bekerja di sana. Dan itu merupakan pekerjaan yang cukup melenceng jauh dari harapanku karena aku lulusan akuntansi dan aku harus bekerja di bidang desain lebih tepatnya penjahit. Dalam bulan awal aku bekerja cukup canggung aku dalam pekerjaan yang baru aku kenali tersebut. Dan setelah berjalan beberapa bulan baru aku tahu ternyata karyawan yang bekerja di sana tak semuanya lulusan sekolah menengah atas (SMA) ada yang lulusan SMP bahkan yang tak memiliki ijazah pun bisa bekerja di sana. 

Kesan pertamaku di sana adalah aku salah jalur dan aku harus memutar balik. Sempat beberapa kali mencoba melamar ke sana- sini lagi di sela waktu libur agar aku menemui pekerjaan yang lebih baik tapi tak ada hasil juga. Akhirnya rasa putus asa pun tiba kau memutuskan untuk menetap sampai aku paling tidak sudah mulai muak dengan pekerjaan ini.

Dalam tahun pertama, aku merasa “rasa tak nyaman” atas salah jurusanku mulai menghilang karena aku nyaman ditambah lagi aku mendapatkan salah satu kenalan seorang laki-laki dari teman kerjaku di sana. Laki-laki itu berbeda pekerjaan denganku tapi saat aku hendak mengenalkan ke orangtuaku baru lewat foto ia sudah ditolak. 

Saat aku menceritakan hal itu ke teman yang menjodohkan aku dia cukup kecewa karena aku tak mau “berjuang”. Tapi ya, mau bagaimana lagi restu itu penting bagiku. Aku memutuskan untuk menghentikan hubunganku dengan laki-laki itu. Ya, banyak teman kerjaku yang kecewa karena keputusanku untuk menjauh dari lelaki laki tersebut karena katanya kami cocok. Tapi ya sudahlah kalau jodoh tak akan kemana bukan.

Cukup lama aku bekerja di sana sekitar 1 tahun 9 bulanan. Dan selama itu aku banyak menemui hal yang menjengkelkan seperti baju yang baru diukur harus jadi dalam satu hari yang mengharuskan aku kerja rodi, gaji yang nggak naik-naik, dan bosku yang pelitnya bukan main sampai dalam jangka waktu kerjaku yang cukup lama itu aku hanya menerima gaji Rp1.200.000/bulan itu saja kalau tak ada hari libur dalam kalender kalaupun ada gajiku bisa di bawah itu. 

Masalah Datang Silih Berganti

tantangan karier
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com

Selain masalah gaji aku juga sempat sedikit ribut dengan karyawan lain di sana. Masalahnya karena dia yang suka mengomentari orang dan mengajak aku bergosip ria dengan hal negatif yang tidak orang tersebut lakukan ditambah lagi orang yang dia omongin itu pernah satu pekerjaan dengan kami tapi dia keluar dengan alasan gajinya tak cukup untuk kebutuhan hariannya.

Aku sempat berperang dingin dengannya. Tak mengajak berbicara sampai beberapa waktu karena hal tersebut. Mulai dari situ aku mulai tak kuat untuk lanjut bekerja di sana karena suasana kerjanya yang mulai tak sehat. Dia yang tak sepemikiran denganku dan menganggap aku “teman yang tak asyik“ juga mulai membicarakan aku dari belakang mulai dari pergunjingan kecil sampai hal yang berkaitan dengan atasan. 

Sudah merasa tak enak dengan suasana kerja yang tak sehat ditambah keputusan atasan yang akan menutup salah satu cabang karena alasan yang menurutku tak masuk akal, katanya dia tidak bisa mnegawasi dua cabang. Bukankah para pengusaha sangat senang jika dia memiliki banyak cabang usaha. Awal tahun ini aku sudah mulai mencari cara agar aku bisa keluar dari sini tanpa terus dipaksa untuk bergabung dengan mereka. Karena jujur aku mulai tak suka dengan permainan kotor karyawan lainnya.

Tak lama aku pun keluar dari pekerjaan yang menurutku cukup menguras emosi beberapa bulan terakhir. Aku keluar tepatnya bulan Februari lalu masih begitu hangat. Alasan aku keluar dari pekerjaan itu adalah gaji yang tak kunjung naik dan jarak yang begitu jauh dari rumahku. Aku keluar dari sana dengan gaji yang tak penuh aku hanya menerima Rp500.000 jauh dari gajiku keseluruhan katanya karena aku pernah menghilangkan barang dan ikut ganti rugi atas kelalaian salah satu temanku yang juga keluar namun tanpa kabar karena dia telah menghilangkan beberapa ratus ribu uang yang harusnya jadi uang transport.

Saat itu aku sempat kalut dengan keadaan, namun aku harus mencari pekerjaan lagi yang lebih baik dari ini itu tekadku dan karena ada orang tua yang harus aku bantu masalah ekonominya. Begitu aku keluar dari sana aku kembali mencari pekerjaan mulai dari kirim CV lewat email sampai datang langsung ke beberapa tempat usaha. 

Belajar dari pengalaman yang jangan berharap dipanggil cepat setelah kamu memasukkan lamaran dan aku merasa harus segera bekerja maka dari itu aku memutuskan untuk sementara bekerja di sebuah percetakan. Aku bekerja di sana sebagai penyortir buku yang merangkai cetakan buku berupa lembaran kertas menjadi sebuah buku jadi dengan gaji Rp30.000/hari.

Aku cukup kelelahan bekerja di sana, dimulai dengan masuk pukul 8 lalu, harus mengangkat ratusan buku jadi untuk dikemas dalam kardus dan bekerja kembali sampai sore sempat membuat tangan dan kakiku kram bukan main. Selama aku di sana aku mendapatkan panggilan interview di salah satu kantor redaksi koran dan aku menerima panggilan tersebut. Hari di mana harusnya aku bekerja di percetakan aku tinggalkan untuk memenuhi panggilan tersebut.

Mencari Pekerjaan yang Lebih Baik

karier atau rumah tangga
Ilustrasi./Copyright unsplash.com/@malaweung

Masih ingat betul aku hari itu hari Jumat aku melaksanakan interview bersama 8 orang lainnya banayak sesi yang aku tempuh mulai wawancara sampai tes essai. Dan alhamdulillah aku lolos diterima bekerja di kantor redaksi itu. Besoknya aku mohon izin ke bpak pemilik percetakan tersebut untuk resign karena aku mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. Aku bersyukur bapak pemilik percetakan itu begitu baik bahkan dia sempat berkata, "Kalau kamu butuh pekerjaan sampingan kerja di sini lagi nggak apa-apa saya terima.” Sungguh terima kasih, Pak.

Minggu depannya aku memulai hari pertama kerjaku di suatu perusahaan di bidang media ini. Minggu pertama masih canggung namun ke sini aku mulai nyaman. Dan lagi sekarang aku juga sedang dekat dengan salah satu karyawan di sini. Dia anak yang baik dan sopan kalau jodoh akan dipertemukan bukan. Dan saat aku menulis sedikit pengalaman kerjaku ini aku masih aktif sebagai karyawan baru di sini dan aku berusaha untuk menjadi karyawan terbaik di sini.

Mungkin hanya itu yang bisa aku bagikan. Karena aku cuma pengejar dolar yang hendak menuju bangku kuliah tapi harus mencari biaya sendiri jadilah aku begini.

Aku hanya bisa membagikan cerita yang belum selesai ini karena kau yakin kisah karierku ini baru saja dimulai. Semoga lain waktu aku bisa membagikan lanjutan kisahku lagi kalau ada kompetisi seperti ini lagi.

Salam Cinta,

Y

Lanjutkan Membaca ↓