Lisa Duwiry, Perempuan yang Berjuang untuk Gizi dan Pendidikan Anak-Anak Papua

Anisha Saktian Putri21 Apr 2019, 10:00 WIB
Lisa Duwiry

Fimela.com, Jakarta Gizi buruk dan sulitnya akses pendidikan di Papua memang masih menjadi masalah serius.  Inilah yang membuat Lisa Duwiry seorang perempuan muda berdarah Papua yang lahir dan besar di Jakarta, yang berjuang membantu masyarakat Papua mendapatkan perubahan dalam hidupnya. 

Ia pun melakukan sejumlah kampanye kemanusiaan, yang mengajak begitu banyak orang membantu masyarakat Papua, khususnya anak-anak mendapatkan gizi dan pendidikan yang lebih layak. 

"Awalnya, saya bergabung dalam gerakan 'Buku Untuk Papua' di Twitter.  Foundernya adalah Dayu Fanto, kami mengumpulkam buku-buku bekas untuk teman Dayu yang memiliki perpustakaan di Nabire," ujar Lisa kepada Fimela.com

Mulai dari sanalah, Lisa mengatakan tidak hanya sekedar menyumbangkan buku dengan cuma-cuma, mereka pun rutin mengadakan Kelas Cerdas, tujuannya selain berbagi ilmu, semua orang yang mau datang, diwajibkan membawa buku untuk didonasikan bersama 'Buku Untuk Papua'.

Namun, Lisa akhirnya memutuskan untuk vakum sejenak dalam kegiatan tersebut, tapi ia tak tinggal diam, dirinya terus mencari sesuatu yang baru yang bisa ia lakukan untuk tanah Papua. Sampai di tengah perjalanan, perempuan keturunan Jawa - Papua ini melihat informasi adanya kasus gizi buruk di Korowai, Papua. 

Tepatnya kisah mengenai Putih Atil, bocah perempuan yang menderita Noma, penyakit akut akibat gizi kronis, sehingga menyebabkan luka di mulutnya sampai pipinya bolong. Berita ini lantas mendorongnya untuk kembali bergerak, berbuat sesuatu untuk Korowai. 

Apalagi, lanjut Lisa tak hanya Putih Atil, kasus gizi buruk di daerah tersebut juga dialami banyak ibu dan anak hingga kondisinya begitu memprihatinkan. Dari sinilah kemudian gerakan tanda pagar (tagar) #UntukKorowai mulai menggema. 

“Berpaling sebentar yuk lihat anak-anak & mama-mama di Korowai Papua, mereka perlu bantuan kita. Kalau mau dan mampu, mari sama-sama ikut memberikan urunan tangan. Kalau bisa langsung tekan tombol dana sekarang, kita efisiensi waktu daripada ditumpuk2. Karena mendesak, tiap hari ada saja anak yang meninggal," tulis Lisa diakun Twitternya.

Lisa mengajak lebih banyak orang untuk menyumbangkan dana yang kemudian akan dibelikan pangan untuk perbaikan gizi dan vitamin, pakaian anak dan dewasa, selimut, handuk, hingga perlengkapan mandi seperti sabun."Saya awalnya niatnya cuma sekedar sharing. Meretweet berita itu, ini lho di Korowai ada kasus gizi buruk sampai ada anak yang mengalami ini," ungkapnya.

2 of 2

#UntukKorowai

#UntukKorowai
#UntukKorowai

Cuitan Lisa di Twitter pun ternyata menjadi pembicaraan publik, khususnya saat beberapa ifluencer seperti Arie Kriting dan penyanyi Once menggemakan tagar #Untuk Korowai. Sampai Lisa pun bisa mengmpulkan dana sampai Rp130 juta.

Selain itu, angka buta huruf di Papua paling tinggi. Mengapa? Karena kata Lisa, Papua, khususnya Korowai tidak memiliki tenaga pengajar dan sekolah yang layak seperti yang sangat mudah ditemui di pulau Jawa atau pulau lainnya di Indonesia.

Inilah yang kemudian membuatnya menjalankan aksi kedua #UntukKorowai yang pada akhirnya kita secara mandiri membiayai satu guru, yang bernama Margi untuk mau mengajar di desa Brumakot, Korowai.

"Sebagian menggunakan sisa crowdfunding dari aksi pertama untuk Putih Atil, lalu dari sana kita lakukan lagi crowdfunding, untuk membeli kebutuhan solar panel di rumah guru Margi, karena di sana tidak ada listrik sama sekali," ujarnya.

Dari crowdfunding tersebut, kata Lisa, akhirnya #UntukKorowai tidak hanya mengadakan kebutuhan solar panel untuk guru Margi, tapi juga di rumah kepala desa dan penginjil di desa tersebut.

Yang paling terbaru dan sedang berjalan, Lisa kembali mendorong dukungan publik melalui tagar #UntukKorowai dan juga #KalepinKorowai yang dipicu pengalaman satu anak bernama Kalepin yang terbuang dari komunitasnya. Terinspirasi dari anak ini, Lisa membantu anak-anak dari Korowai yang bernasib sama untuk membangun asrama dan sekolah.

"Dengan modal kuota internet saja, kita bisa manfaatkan potensi sosial media yang tidak ada batasnya. Buat tujuan baik. Jadi bukan buat senang-senang saja. Dengan menggaungkan hashtag kita sudah bisa ajak orang. Ketika orang tertarik dengan apa yang kita ajak, dari situ akan muncul aksi-aksi. Seperti gerakan untuk Korowai, saya mulai dari satu tweet saja," tutupnya.

Lanjutkan Membaca ↓