Jatuh Bangun Anak Rantau Mencari Pekerjaan

Endah Wijayanti22 Apr 2019, 11:41 WIB
anak rantau

Fimela.com, Jakarta Punya pengalaman suka duka dalam perjalanan kariermu? Memiliki tips-tips atau kisah jatuh bangun demi mencapai kesuksesan dalam bidang pekerjaan yang dipilih? Baik sebagai pegawai atau pekerja lepas, kita pasti punya berbagai cerita tak terlupakan dalam usaha kita merintis dan membangun karier. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Menulis April Fimela: Ceritakan Suka Duka Perjalanan Kariermu ini.

***

Oleh: Deka Riti - Lahat

Pada tahun 2014, saya merupakan mahasiswi tingkat akhir jurusan Jurnalistik yang sedang menyelesaikan skripsi di salah satu perguruan tinggi negeri kota Palembang. Di tengah-tengah keadaan itu, terlintas di benak saya, mau dibawa ke mana diri ini setelah tamat kuliah. Memang, sebelum kuliah saya sempat bercita-cita ingin menjadi seorang wartawan yang bekerja di salah satu stasiun TV kenamaan di luar Negeri. Mimpi itu terlalu muluk-muluk, pikir ulang saya. Jadi, setelah skripsi saya selesai dan wisuda tinggal menghitung hari, akhirnya hati saya memutuskan untuk mencari pekerjaan di tanah orang. Rencana itu saya sampaikan kepada teman karib saya yang juga telah menyelesaikan skripsi di jurusan yang sama. Dan benar saja, dia pun tertarik untuk ikut menjadi anak rantau di luar kota setelah tamat kuliah nanti.

Wisuda telah usai dan ijazah pun sudah di tangan, waktunya mempersiapkan diri berangkat menuju kota tujuan. Ketika sedang dalam posisi bimbang memilih kota tujuan untuk merantau dan mencari pekerjaan, tiba-tiba ada seorang teman satu kampus kami yang menelepon. Dia bilang bahwa saat ini dia telah bekerja dan menetap di Kota Batam. Dia bercerita panjang lebar kepada kami tentang kehidupannya di sana. Ia pun menawarkan pekerjaan untuk kami dan menjanjikan banyak hal jika nanti kami datang ke sana.

Setalah beberapa kali memastikan soal pekerjaan dan lain-lain via telepon kepada teman kami di Batam, tanpa pikir panjang, akhirnya kami berdua pun memutuskan untuk pergi ke sana. Saya pun nekat menjual motor yang telah menemani saya ke mana-mana kurang lebih 4 tahun belakangan, sebagai modal untuk merantau. Sebelum pergi, kami berdua meyakinkan diri dan satu sama lain bahwa keputusan yang kami ambil ini tepat. Kami merasa yakin suatu saat akan sukses di rantau orang, setidaknya setelah sampai di kota tujuan kami tidak harus menunggu lama untuk mendapatkan pekerjaan.

Hari keberangkatan itu pun tiba, dan pesawat yang kami tumpangi melesat cepat menuju Kota Batam, kota yang benar-benar asing bagi saya dan teman saya ini. Sesampainya di Batam, kami segera menghubungi sepupu teman saya yang kebetulan juga tinggal dan bekerja di sini. Kami menumpang tinggal untuk beberapa hari, sebelum pergi menemui teman kami yang telah menjanjikan kami pekerjaan dan banyak hal di sini. Dua hari sudah kami di Batam, dan teman kami itu sama sekali tak menunjukkan batang hidungnya. Ketika dihubungi via telepon pun ia selalu berkilah, dengan alasan sibuk dan lain-lain.

Awalnya kami berdua sama sekali tidak curiga akan hal ini. Namun, setelah beberapa hari kemudian, kami pun tahu bahwa teman kami itu telah berbohong dan tidak mau menepati janji-janjinya, bahkan sampai detik ini dia tidak menemui kami sama sekali. Kami berdua mulai kelabakan dan sangat kebingungan. Kami sama sekali buta akan kota ini, tidak tahu harus mulai dari mana. Sepupu teman saya pun sibuk bekerja dan tidak memiliki waktu untuk menemani kami pergi berkeliling kota. Selain dia sibuk, dia pun masih belum terlalu mengenal kota Batam, karena hanya berkutat pada pekerjaannya saja.

Ke Jakarta

senyumin aja 2
Ilustrasi./Copyright pexels.com

Setelah berdiskusi kembali dan menyatukan pikiran, kami berdua pun memilih kota Jakarta sebagai jawaban atas kegelisahan kami. Jakarta tidak terlalu asing bagi kami, dan kami pikir mungkin akan banyak lowongan pekerjaan di sana. Setelah saling meyakinkan kembali, kami pun langsung memesan tiket pesawat untuk keberangkatan besok pagi. Tak lupa, saya juga menghubungi kakak sepupu saya via telepon untuk izin menumpang tinggal di tempatnya beberapa hari, sebelum mendapatkan kontrakan ataupun kos-kosan sendiri di Jakarta nanti. Kakak pun menyambut baik akan kedatangan kami.

Keesokan harinya, setelah kurang lebih dua jam perjalanan, kami pun sampai di bandara Soekarno Hatta. Saya melanjutkan menelepon kakak saya, menanyakan perihal di mana kami akan bertemu. Kakak menginstruksikan kami untuk menaiki bus menuju ke Bogor, karena dia telah menunggu di suatu tempat di sana.

Dalam perjalanan ke Bogor, bus kami sempat melewati jalan yang di sisi kanan kirinya berjajar gedung-gedung tinggi khas kota Jakarta. Saat sedang memandangi gedung, saya bergumam dalam hati, "Masak gedung-gedung sebesar dan setinggi ini tidak ada satu pun kursi untuk saya bekerja?" Saya membayangkan kelak ada salah satu tempat di sana untuk saya bekerja.

Handphone saya tiba-tiba berdering, menghapus lamunan saya barusan. Kakak saya menelepon menanyakan posisi kami saat ini. Lalu, sepanjang perjalanan, saya dan kakak tetap menjaga komunikasi via telepon, sampai akhirnya kami bertiga bertemu di tempat di mana ia telah lama menunggu. Kami pun melanjutkan perjalanan menggunakan kereta untuk sampai ke alamat kakak saya di Bogor.

Setelah perjalanan kemarin, hari ini saya mengajak kakak saya untuk pergi ke Jakarta. Kakak saya pun mengikuti permintaan saya. Lalu, kami bertiga pun berangkat ke Jakarta menggunakan transportasi kereta. Pada hari itu, kakak membantu kami berdua untuk mencari kos-kosan. Kami pun menuju ke jalan Ampera, untuk memulai pencarian dari sana. Alasan kakak mengajak kami mencari kos di kawasan ini, karena dekat juga dengan kos salah seorang temannya, yang suatu waktu bisa dimintai tolong untuk memantau keadaan kami di sini. Setelah beberapa banyak tempat kos yang kami datangi, akhirnya kami menemukan kosan yang tepat dengan harga sewa yang sesuai kantong. Karena waktu itu keuangan kami berdua sudah mulai menipis.

Ketika memulai kehidupan yang baru di tempat kos, kami berdua langsung disibukkan melamar pekerjaan secara online. Sempat merasa senang karena langsung mendapat balasan via SMS dari salah satu pekerjaan yang kami lamar. SMS tersebut berisi panggilan kerja, di mana kami harus datang ke alamat tertulis dan membawa sejumlah uang untuk persyaratan masuk kerja. Kami berdua mencurigai hal ini. Untungnya, nasib baik masih berpihak kepada kami.

Berhati-hati dengan Penipuan

karier menulis 1
Ilustrasi./Copyright unsplash.com

Setelah kami cari tahu lewat berita online. Berita itu menyebut untuk tidak mudah mempercayai lowongan pekerjaan dengan beragam modus yang menggiurkan. Karena ternyata semua itu hanya modus penipuan yang telah memakan banyak korban. Oknum tersebut menggunakan kesempatan meraup keuntungan dari hasil mencari calon karyawan yang sangat membutuhkan pekerjaan seperti kami. Kami berdua pun menarik napas panjang karena lega akan hal yang baru saja terjadi, dan melanjutkan mencari pekerjaan lain. Kali ini dari website yang benar-benar resmi.

Setelah hampir dua minggu, pencarian kami belum menemukan titik temu. Keadaan keuangan juga semakin sekarat. Bahkan untuk makan saja kami hanya mampu membeli satu bungkus mie untuk berdua. Saat itu, kami berdua menangis sejadi-jadinya, meratapi nasib menjadi anak rantau yang mencari pekerjaan. Namun, kami tidak kehabisan akal untuk mendapatkan pinjaman uang dengan menghubungi orang-orang terdekat kami.

Sudah beberapa orang teman dan kerabat yang dihubungi, belum juga kami mendapatkan pinjaman. Kami berdua makin kebingungan memikirkan bagaimana melanjutkan kehidupan kami dengan kondisi seperti ini, hingga kami pun tertidur sampai pagi.

Keesokan harinya, saya mendapat telepon dari kakak sepupu saya di Palembang. Ia meminta bantuan untuk memperpanjang masa berlaku paspornya di salah satu kedutaan besar dari Nngara yang akan dikunjunginya. Saya pun dengan senang hati membantu kakak saya, dan melakukan permintaannya hari itu juga. Kami berdua pergi ke kedubes yang dimaksud dan langsung mengurus segala halnya.

Setelah selesai, paspor pun langsung dikirim kembali kepada kakak saya. Sebenarnya saya dengan sangat ikhlas membantu kakak sepupu saya itu, namun karena kondisi yang mendesak, akhirnya saya menerima uang tanda terima kasih yang telah ditransfernya ke rekening saya. Kami berdua pun bisa sedikit bernapas lega dengan uang yang dikirim oleh kakak saya yang cukup untuk digunakan dalam beberapa hari ke depan.

Dua hari kemudian, kakak saya yang di Bogor datang menjenguk. Ia menanyakan perihal kondisi dan pekerjaan apa yang sudah kami dapatkan. Setelah bercerita panjang lebar, kakak pun bergegas mengajak kami pergi bertamu ke rumah seorang temannya yang berada di Kemang Village. Kami bertiga pergi menaiki angkutan umum.

Sesampainya di sana, kakak langsung memperkenalkan kami kepada temannya tersebut. Kakak menceritakan keadaan dan tujuan saya dan teman saya datang ke Jakarta. Kakak pun meminta bantuan untuk mencarikan pekerjaan bagi kami berdua, karena kakak tahu bahwa temannya itu punya jaringan pertemanan yang sangat luas. Dan ternyata, temannya pun menawarkan sebuah pekerjaan kepada kami berdua.

Kami menyambutnya dengan baik, meskipun dia bilang lowongan pekerjaan itu hanya ada satu, dan untuk salah satu di antara kami berdua saja. Saya dan teman saya yang ketika itu duduk bersebelahan saling memandang satu sama lain beberapa saat. Lalu, ia pun berbisik kepada saya, dan berkata bahwa ia mempercayakan pekerjaan itu kepada saya. Setelah beberapa pertimbangan, saya pun menerima pekerjaan ini, yaitu sebagai waitress di salah satu resto dan bar makanan khas Meksiko di Kemang.

Hari interview itu pun tiba, saya merasa sangat gugup karena untuk pertama kalinya mendapatkan pekerjaan sebagai waitress. Untungnya, manajer dan teman-teman karyawan di sana semua ramah dan menyambut kedatangan saya dengan baik. Saya pun mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan kepada saya dengan tenang. Usai interview, saya melanjutkan perjalanan pulang dengan mampir ke salah satu rumah kos yang berada tidak jauh dari tempat saya akan bekerja.

Terus Berusaha

Lowongan Pekerjaan
Ilustrasi.(iStockphoto)

Saya bertanya kepada empunya kos tentang tersedia atau tidaknya kamar kosong untuk ditempati. Dan ternyata masih ada beberapa kamar kos yang kosong siap huni. Ibu yang punya kos sangat baik dan ramah, karena itu saya berani tawar menawar harga untuk satu kamar kos yang rencananya akan saya sewa. Saya menceritakan sejujur-jujurnya tentang keadaan saya dan teman saya kepada ibu kos. Sepertinya beliau merasa iba dengan cerita kami sebagai anak rantau yang sedang mencari pekerjaan, dan baru mau memulai berjuang untuk hidup di kota sebesar ini. Ia memperbolehkan saya untuk langsung bisa menempati kamar kos kapan pun saya mau, dengan uang sewa yang bisa menyusul di akhir bulan. Karena pada saat itu, saya meminta tolong kepada beliau untuk menangguhkan uang sewa sampai saya gajian dengan jaminan KTP, dan beliau pun setuju.

Besoknya, saya dan teman saya langsung pindah ke kos yang baru, sebelum hari di mana saya bekerja dimulai. Sepertinya, kami akan lebih kerasan tinggal di kos yang baru, karena kos kali ini khusus berada di dalam rumah pemiliknya yang semua penghuninya adalah perempuan. Kami pun mendapatkan teman-teman baru yang sangat baik, dan langsung merasa seperti mendapati keluarga sendiri. Tak sedikit dari mereka juga berasal dari luar kota Jakarta.

Waktu berjalan begitu cepat, tidak terasa tiga bulan sudah saya menjalani pekerjaan sebagai waitress di restoran Meksiko ini. Dan teman saya pun sudah bekerja di salah satu toko di pusat perbelanjaan di Jakarta Selatan. Dua bulan terakhir saya mendapatkan shift malam di tempat saya bekerja. Awalnya, saya sangat menikmati pekerjaan ini. Selain mendapatkan pengalaman baru dalam bidang pelayanan restoran berkelas dan berbagai macam kuliner dari Meksiko, saya juga sering bertemu beberapa artis ibu kota sampai turis mancanegara.

Sesekali ada turis asing yang mengajak saya berbincang seputar pekerjaan, dan hal ini saya manfaatkan untuk mengasah kemampuan berbahasa Inggris saya. Meskipun pekerjaan ini terasa sangat menyenangkan, tetap saja ada hal yang mengganjal di pikiran saya. Semenjak mendapatkan shift malam, saya merasa seperti menjadi kelelawar, yang tidur pagi hingga waktu siang, dan bekerja di saat malam hari.

Saya merasa tubuh ini menjadi kurang sehat. Apalagi ditambah asap rokok yang selalu setia menemani ketika saya sedang bekerja. Begitu juga hiruk pikuk suara musik yang sering memekakkan telinga. Keadaan inilah yang memunculkan keinginan dalam hati saya untuk menyudahi pekerjaan ini. Dengan keputusan yang sudah bulat dan juga persetujuan dari teman, akhirnya saya mengundurkan diri ketika memasuki bulan keempat saya bekerja.

Setelah satu minggu lebih memanfaatkan waktu untuk beristirahat dan melepas penat dari bayang-bayang bekerja shift malam, saya pun mulai mencari pekerjaan baru. Beberapa teman kos merekomendasikan tempat bekerja di sekitar Kemang. Ada satu dua pekerjaan tersebut yang cocok dengan saya. Lalu, saya pun segera membuat lamaran untuk pekerjaan tersebut.

Tidak sampai di situ, saya pun mencari lowongan pekerjaan dan mengirimkan lamaran melalui media online. Setelah dua minggu proses mengirim lamaran kerja ke berbagai tempat, saya belum kunjung mendapat panggilan. Dan suatu hari, ada kakak sepupu saya yang tinggal di kota Surabaya menelepon dan menawarkan untuk mencoba melamar pekerjaan di sana. Hati saya pun tergoda untuk mencoba peruntungan di kota pahlawan tersebut. Saya pun berdiskusi kembali berdua dengan teman saya, dan ia pun menyetujui. Harapannya, setelah saya dapat pekerjaan di sana, dia akan datang menyusul ke Surabaya. Saat itu kami terpaksa memutuskan berpisah untuk sementara waktu.

Hari di mana kereta dari Stasiun Pasar Senin Jakarta mengantarkan saya menuju ke Stasiun Gubeng Surabaya pun tiba. Hampir semua teman satu kos berkesempatan ikut mengantar keberangkatan saya. Di sana saya sangat merasa terharu, meskipun begitu saya berpura-pura tegar dengan menjaga air mata saya agar tidak terjatuh di depan mereka. Ketika memasuki gerbong kereta, barulah air mata saya tumpah ruah. Namun, keputusan ini sudah bulat, dan saya pun melanjutkan perjalanan sampai ke Kota Surabaya.

Titik Terang

Semangat bekerja (Ilustrasi iStock)
(Ilustrasi iStock)

Sesampainya di Surabaya, saya langsung mengabari teman-teman kos di Jakarta. Saya memulai hari-hari saya di sini bersama keluarga kakak sepupu saya. Kota ini juga masih sangat asing bagi saya. Jadi, untuk bisa mengantarkan lamaran saya harus menunggu waktu senggang kakak sepupu saya itu. Setelah hampir dua minggu, kesempatan untuk mengantar lamaran belum ada. Kakak saya masih sibuk dengan pekerjaannya. Dia juga sudah meminta maaf kepada saya karena akhir-akhir ini masih sedikit repot, dan saya memakluminya. Namun tidak bisa dipungkiri bahwa kejenuhan saya sudah meradang.

Beberapa hari kemudian, teman saya menghubungi untuk mengajak saya kembali pulang ke Jakarta. Dia bilang, bahwa telah mendapat pekerjaan baru di salah satu bank swasta asing di kawasan Jakarta Selatan. Dia pun ingin saya melamar di tempat dia bekerja sekarang, karena lowongan untuk karyawan baru masih terbuka lebar dan ia yakin saya akan diterima bekerja. Saya pun menceritakan hal ini kepada kakak sepupu saya, dan dia menyerahkan semua keputusan kepada diri saya sendiri.

Setelah beberapa pertimbangan, akhirnya saya pun memutuskan untuk kembali ke Jakarta. Kakak sepupu saya meluangkan sedikit waktunya untuk mengantar saya ke stasiun. Dia sempat mengucapkan kata maaf sekali lagi kepada saya atas kesibukannya yang menghalanginya untuk mengantar saya memasukkan lamaran pekerjaan ke beberapa tempat di sana. Hingga saya pun memutuskan kembali ke Jakarta.

Di Jakarta, saya sudah mengikuti anjuran teman saya untuk walk in interview di bank tempat ia bekerja saat ini. Satu minggu dari situ, saya mendapat panggilan untuk menjalankan training pertama. Setelah tiga hari training, saya pun dinyatakan tidak lulus. Kali ini saya tidak patah arang. Saya melanjutkan walk in interview yang sedang dibuka di bank swasta asing lainnya, sampai saya mendapatkan panggilan dan bisa diterima bekerja di perusahaan tersebut. Ketika itu, pegangan uang di tangan sudah hampir habis, saya mulai kebingungan karena segala sesuatunya membutuhkan uang.

Teman saya juga bernasib sama seperti saya, dirinya baru bekerja selama tiga minggu dan belum menerima gaji, sedangkan keuangan sudah menipis. Biaya bulanan kos di akhir bulan sudah menunggu dan semakin mendesak kami. Satu-satunya jalan keluar bagi kami, saya harus merelakan kamera DSLR kesayangan saya dijual. Dengan berat hati kamera itu saya lepas demi bertahan hidup di sini. Usai masalah ini, saya bertekad untuk bisa mendapatkan pekerjaan untuk mengatasi masalah keuangan selanjutnya.

Setelah seminggu lebih menunggu hasil walk in interview dan juga hasil training yang telah dijalani selama 6 hari di sebuah bank swasta asing, perusahaan tersebut pun memanggil saya untuk bekerja. Dengan semangat, saya berangkat ke tempat bekerja untuk memulai hari sebagai seorang karyawan bank swasta asing yang cukup terkenal di Asia. Meskipun perjalanan yang saya tempuh untuk sampai ke tempat bekerja dimulai pukul 6 pagi dengan menggunakan dua angkutan umum secara estafet dan merasakan kemacetan khas kota Jakarta, tapi saya tetap senang menjalaninya.

Saya masih tidak menyangka setelah lika liku cerita menjadi anak rantau, hingga tenggelam dalam penantian, akhirnya saya mendapatkan pekerjaan di sebuah perusahaan yang mungkin selama ini tidak pernah terbayangkan. Angan-angan saya mendapatkan satu kursi untuk bekerja di dalam gedung yang besar dan tinggi pun terwujud, karena bank tempat saya bekerja saat ini berada di lantai 26 salah satu gedung di kawasan Jakarta selatan. Orang-orang di sekitar saya bekerja pun sangat baik dan mau menuntun saya dalam bekerja. Tak lupa saya selalu mengucap syukur dengan semua hal yang telah terlewati dalam pencapaian saya saat ini.

Saya dan teman saya pun sekarang sudah tidak khawatir lagi hidup di rantau orang tanpa pekerjaan dengan segala permasalahannya. Dan kami merencanakan untuk membuat syukuran atas pekerjaan yang sudah kami dapatkan bersama ibu kos dan juga semua teman kos yang sudah kami anggap sebagai keluarga sendiri. Mereka pun menyambut baik niat kami dan turut berbahagia.

Lanjutkan Membaca ↓