Resign demi Karier yang Lebih Baik, Bukan karena Mata Duitan tapi Ini Realistis

Endah Wijayanti22 Apr 2019, 14:22 WIB
hambatan bisnis

Fimela.com, Jakarta Punya pengalaman suka duka dalam perjalanan kariermu? Memiliki tips-tips atau kisah jatuh bangun demi mencapai kesuksesan dalam bidang pekerjaan yang dipilih? Baik sebagai pegawai atau pekerja lepas, kita pasti punya berbagai cerita tak terlupakan dalam usaha kita merintis dan membangun karier. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Menulis April Fimela: Ceritakan Suka Duka Perjalanan Kariermu ini.

***

Oleh: R - Jakarta

Saya berprofesi sebagai seorang penulis konten. Setelah bekerja secara freelance selama lima tahun lebih, akhirnya saya memutuskan untuk berkarir fulltime di bidang itu. Sebuah perusahaan startup berbasis digital pun menerima saya akhir tahun lalu.

Awalnya, saat itu saya sempat ragu untuk menerima pekerjaan ini dengan gaji di bawah standar UMR. Apalagi, pengalaman saya sebenarnya sudah cukup banyak. Namun, karena bosnya mengaku bahwa ini masih perusahaan kecil, saya putuskan untuk mencobanya. Apalagi, kantor dekat dengan tempat tinggal saya dan saya sedang sangat membutuhkan penghasilan tetap.

Tiga bulan pertama, saya sangat menikmati pekerjaan tersebut. Sayangnya, sekeras apa pun mencoba untuk berhemat, belum akhir bulan saya sudah kelabakan. Bahkan, tidak jarang saya harus berjalan kaki pulang untuk menghemat ongkos transportasi.

Begitu sadar saya mulai sering kelelahan dan bahkan jatuh sakit, banyak teman yang menyarankan untuk resign dan pindah ke kantor yang lebih baik. Apalagi, atasan di perusahaan startup tersebut ternyata terlalu banyak menuntut tanpa kenaikan gaji yang berarti. Workload yang diberikan benar-benar berlebihan, sehingga saya stres.Mengapa berlebihan? Saya sudah mengecek standar normal workload profesi serupa. Banyak rekan seprofesi yang kaget begitu tahu workload kerja saya.

 

 

 

Mengajukan Resign

perempuan mandiri
Ilustrasi./Copyright unsplash.com/@bbh_singapore

Belum sampai lima bulan, saya akhirnya mengajukan resign. Ini pun setelah melalui banyak hal yang tidak enak, seperti sering dimarahi dan hasil kerja saya yang dianggap jauh dari memuaskan. Saya sudah berusaha bernegosiasi dengan atasan tiga kali dan menemui jalan buntu. Atasan tetap menganggap saya hanya banyak alasan dan menolak permintaan saya.

Atasan juga melakukan dua kesalahan fatal yang sama sekali tidak disadarinya, yaitu:

  • Sesumbar bahwa sebenarnya dia bisa mencari pengganti saya lebih cepat.
  • Membocorkan yang tabu, seperti mengaku telah menaikkan gaji karyawan lain kecuali saya.

Begitu mendapatkan tawaran kerja lain yang lebih baik, saya langsung mengambilnya tanpa menunggu waktu lagi. Untunglah, atasan di perusahaan sebelumnya tidak menahan saya sebulan lebih lama, seperti halnya one month’s notice policy. Meskipun dengan risiko pengurangan gaji, setidaknya saya bisa segera move on untuk karier yang lebih menjamin.

Jangan takut ajukan resign demi karier yang lebih baik. Bukannya mata duitan, tapi ini realistis. Bukan juga karena saya tidak tahu berterima kasih maupun rasa syukur. Untuk apa bertahan pada pekerjaan yang malah membuat stres karena kelelahan dan tetap tidak bisa menghidupi diri sendiri?

 

Lanjutkan Membaca ↓