Sayangi Bumi, 3 Cara Menggunakan Plastik dengan Bijak

Anisha Saktian Putri22 Apr 2019, 20:00 WIB
Ilustrasi/pixabay

Fimela.com, Jakarta Setiap tanggal 22 April kita memperingati Hari Bumi. Setiap tahunnya, diingatkan untuk selalu menjaga bumi di mana tempat kita berpijak.

Apalagi saat ini, bumi sudah semakin tidak sehat untuk ditinggali. Seperti kita lihat diberbagai berita, hewan-hewan laut mati karena memakan limbah plastik . Bisa dibayakan, berapa banyak limbah yang diciptakan manusia setiap tahunnya.

Padahal, laut merupakan sumber kehidupan dan pusat ekosistem untuk bumi. Kepala Balai Teknologi Polimer BPPT, Ir. F. M Erny S. Soekotjo M.Sc mengakui bahwa dalam 5 tahun terakhir, plastik sangat dimusuhi.

“Ini akibat edukasi tentang plastik yang masih sangat kurang. Konotasi tentang plastik di masyarakat saat ini adalah sebatas tas plastik atau kantong plastik pembungkus makanan. Padahal, setiap hari kita sangat bergantung pada plastik. Bangun tidur kita sikat gigi menggunakan sikat gigi terbuat dari plastik,” jelas Erny dalam siaran pers. Bisa dikatakan, produk plastik dapat ditemukan from basket to rokcet, dari dapur hingga luar angkasa.

Plastik, Dimusuhi Namun Dibutuhkan

Ilustrasi sampah plastik
Ilustrasi sampah plastik. (Foto: pexels.com)

Dijelaskan Erny, plastik ditemukan dan kemudian berkembang pesat, karena memiliki banyak keunggulan. Ringan, tahan lama, anti korosif, murah, dan praktis. Maka dalam waktu singkat plastik menjadi idola baru dan menggantikan logam dan kayu, untuk berbagai kebutuhan.

“Plastik atau polimer adalah material yang baru ditemukan, lebih muda dibandingkan logam. Dan sampai sekarang, secara material, plastik masih bisa berkembang. Masih sangat terbuka untuk mengembangkan produk baru yang cuztomize sesuai kebutuhan,” ujar Erny.

Satu-satunya kelemahan plastik adalah tidak mudah diuraikan oleh bakteri atau mikroorganisme sehingga mencemari lingkungan. Dipaparkan Erny, polimer memiliki berat molekul sangat besar karena merupakan gabungan dari monomer-monomer yang lebih kecil dalam proses yang disebut polimerisasi. Semakin banyak monomer yang digabung, maka plastik yang dihasilkan akan semakin kuat dan padat. Sebagai gambaran, agar kuat sebagai wadah, proses polimerisasi harus diulang sampai 10.000 kali.

“Inilah yang menjadikan berat molekulnya besar sekali dan sulit dimakan bakteri,” tambah Erny. Di balik sorotan terhadap sampah plastik yang mencemari bumi, sebenarnya industri plastik adalah industri yang paling rendah energi. Pengolahan plastik sangat rendah energi, hanya sekitar 3,1 KWH dibandingkan pengolahan industri logam (13,9 KWH), kaca, gelas, bahkan kertas. Inilah mengapa plastik disukai dan diproduksi besar-besaran oleh industri. “Masalah terkait penggunaan plastik sebenarnya bukan pada material, namun cara memperlakukan plastik hingga ia berakhir di laut,” jelas Erny.

Tips Menggunakan Plastik dengan Bijak

Aksi Rampok Plastik di Car Free Day Bareng Dian Sastrowardoyo
Aksi Rampok Plastik di Car Free Day Bareng Dian Sastrowardoyo

Bagaimanapun, plastik masih memiliki nilai jual tinggi. Andai saja, limbah plastik dikelola dengan benar, mereka tidak akan sampai ke laut. Hasilnya, produk daur ulang bernilai tinggi, mulai dari ember dan peralatan dapur hingga serat pakaian poliester. Mulai sekarang, yuk gunakan plastik dengan bijak dimulai dari diri sendiri:

1. Mulailah Mempercantik Tempat Sampah

Jangan hanya ruang tamu dan taman yang dipercantik, tetapi percantik juga tempat sampah di dapur. Cuci setiap hari tempat sampah seperti halnya mencuci perabotan yang lain.

2. Belajar Memilah Sampah dengan Benar

Pemilahan sampah yang benar bukan “organik” dan “non organik” tetapi dibedakan berdasarkan materialnya, yaitu sampah plastik, sampah organik, sampah kertas, sampah kaca dan sampah logam.

3. Belajar Mendaur Ulang Sampah

Tidak ada salahnya belajar membuat biopori, yaitu membuat kompos sendiri di halaman rumah yang berasal dari sampah organik. Dengan begitu, hanya sampah plastik dan non organik yang akan sampai di Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPA). Jika sampah organik ini berkurang, akan jauh mengurangi beban TPA. Menurut data, sampah di TPA Bantar Gebang ternyata didominasi sampah rumah tangga yang organik, mencapai 48%. Hanya 15% sampah plastik.

Nah sudah tahukan bagaimana menggunakan sampah lastik secara bijak, agar bumi tempat kita tinggal tidak tercemar oleh sampah yang kita gunakan. Selamat Hari Bumi Sahabat Fimela.

Lanjutkan Membaca ↓