Serba-Serbi MPASI Rumahan dan MPASI Fortifikasi yang Harus Diketahui

Novi Nadya23 Apr 2019, 19:30 WIB
MPASI rumahan dan MPASI Fortifikasi

Fimela.com, Jakarta Setelah memberikan air susu ibu (ASI) selama enam bulan, para ibu diwajibkan untuk menambahkan MPASI atau Makanan Pendamping ASI. Sebab setelah enam bulan, kebutuhan nutrisi bayi baik makronutrien maupun mikronutrien tidak cukup dipenuhi hanya dengan ASI.

Makronutrien (zat gizi makro) adalah zat gizi yang dibutuhkan dalam jumlah banyak dan penghasil energi; karbohidrat, protein, dan lemak. Sementara Mikronutrien (zat gizi mikro) adalah zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh dalam jumlah sedikit, namun berperan besar untuk pembentukan hormon, aktivitas enzim, dan mengatur imun tubuh seperti vitamin dan mineral.

Makanan padat yang direkomendasi WHO adalah memberikan MPASI yang adekuat atau memenuhi kebutuhan energi, protein, dan mikronutrien yang tidak terpenuhi oleh ASI. Sebab asupan nutrisi yang lengkap dan seimbang akan mendukung tumbuh kembang optimal dan daya tahan tubuh terhadap penyakit infeksi.

Salah satu masalah zat gizi yang dialami bayi adalah defisiensi besi. Padahal zat besi mempunyai peranan penting dalam perkembangan otak dan sistem imunitas.

 

MPASI rumahan

MPASI rumahan dan MPASI Fortifikasi
MPASI rumahan dan MPASI Fortifikasi (Unsplash/Anton Darius)

Sebab ASI hanya memenuhi 0,3 mg dari 11 mg (0,9-1,3 mg/kgBB) kebutuhan harian zat besi bayi berusia 6-2 bulan. Kebutuhan harian besi bayi berusia 6-12 bulan tersebut setara dengan kandungan zat besi dalam 389 g daging sapi atau 85 g hati ayam.

"Setelah enam bulan, cadangan zat besi bawaan dari ibu akan habis, jadi harus memberikan MPASI (bukan susu formula) setelahnya. Zat besi didapat dari hewan, sebab itu jangan menunda-nunda memberikan daging dan sumber protein lainnya seperti telur," ujar dr. Yoga Devaera, SpA(K), UKK Nutrisi dan Penyakit Metabolik -Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia saat memberikan pemaparan di acara Cerelac x IDAI WIW 2019, di Aston Kuningan, Jakarta, (22/4).

Selain itu MPASI juga melatih keterampilan makan (oromotor skills) yang perlu dikembangkan lewat stimulasi tekstur makanan. Lewat MPASI juga, secara psikologis bayi mulai memperlihatkan minat terhadap makanan lain selain susu.

"MPASI yang diberikan harus dalam bentuk lumat dengan cara saring tapi jangan terlalu encer dalam artian cukup padat. MPASI rumahan juga bisa mencari tahu makanan apa yang disuka dan tidak oleh bayi, sebelum 16 kali percobaan, jangan anggap anak tidak doyan makanan yang diberikan," lanjutnya.

 

MPASI Fortifikasi

Untuk memastikan asupan nutrisi terpenuhi, terutama zat besi, hadirlah MPASI Fortifikasi. MPASI Fortifikasi menjadi salah satu strategi untuk memenuhi kebutuhan nutrisi yang dikombinasikan dengan MPASI rumahan.

Seperti Cerelac dari Nestle yang sudah memiliki komposisi yang diatur CODEX seperti badan ahli BPOM serta Ikatan Dokter Anak Indonesia. Perbedaan Cerelac dari makanan sejenisnya adalah kandungan probiotik seperti penjelasan dari Dr. dr. Ray Basrowi, MKK, Head of Medical & Nutrition Service Department, Nestle Indonesia.

"Dalam Pekan Imunisasi Nasional, kami tetap merekomendasikan bayi diberikan MPASI rumahan, dan memastikan zat besi terpenuhi lewat MPASI Fortifikasi yang mengandung probiotik untuk hasil optimal di kemudian hari," ujar Dr. dr Ray di acara yang sama.

Probiotik adalah bakteri baik yang jika dikonsumsi dalam jumlah cukup akan memberikan manfaat. Salah satu probiotik yang terdapat dalam MPASI adalah Bifidobacterium lactis yang dapat mendukung daya tahan tubuh dan mengurangi risiko infeksi saluran cerna.

MPASI Fortifikasi juga diolah teknologi pangan terkini yang tidak mengandung bahan pengawet sebab semua bahan yang dipakai diproses lewat teknik pengeringan. Sehingga tidak dibutuhkan kode expired dalam jangka panjang.

"Sekali lagi MPASI Fortifikasi fungsinya mendampingi MPASI rumahan untuk pemenuhan zat gizi. Bahan-bahan diambil dari perkebungan di Jogja dengan proses pembuatan dan bahan baku yang dipakai sesuai standar," tutupnya.

Lanjutkan Membaca ↓